Artikel Pertanian http://bbpp-lembang.info/ Thu, 20 Jun 2019 20:05:14 +0700 FeedCreator 1.8.3 (obRSS 1.9) http://bbpp-lembang.info/images/ Artikel Pertanian http://bbpp-lembang.info/ Tentang artikel teknis pertanian Keunggulan Tanam Bibit Muda Padi Sawah untuk Meningkatkan Jumlah Anak Produktif http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1504-keunggulan-tanam-bibit-muda-padi-sawah-untuk-meningkatkan-jumlah-anak-produktif bbpplembang budidayapadimudaBudidaya tanaman padi di Indonesia bukanlah masalah baru, namun sudah turun temurun, Budidaya tanaman padi yang biasa dilakukan oleh para petani yaitu menggunakan varietas lokal atau varietas padi unggul baru seperti Inpari 32, 39, 42 atau varietas yang sudah lama yaitu Varietas Ciherang, Sinta Nur, dll. Padi merupakan salah  satu  komoditi  pangan  yang  penting  dan menyangkut  kepentingan  nasional dimana padi/beras merupakan  bahan  makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Untuk  memenuhi  kebutuhan  tersebut  berbagai  upaya  telah dilakukan  oleh  pemerintah  diantaranya  melalui  peningkatan  ketahanan pangan sebagai salah satu program revitalisasi pertanian, khususnya ketersedia pangan berupa padi/beras yang cukup.

Produktivitas dan produksi padi yang dibudidayakan oleh petani masih rata-rata 3,5-4,5 ton/Ha, dari varietas lokal, yaitu varietas padi yang dihasilkan oleh petani sendiri dari varietas-varietas sebelumnya diperbanyak. Sedangkan benih padi dari varietas unggul baru (VUB) adalah varietas yang sudah terseleksi tentang produksinya, ketahanan terhadap serangan hama penyakit dengan produksi rata-rata 5,5-7 ton/Ha. Peningkatan produksi padi tidak terlepas dari ketersediaan unsur hara yang cukup, penggunaan varietas unggul, serta ketersediaan air yang cukup sesuai kebutuhan tanaman. Dalam teknik budidaya padi, ketersediaan benih padi yang akan ditanam berumur muda yaitu 14-21 hari, atau bibit muda ini diharapkan akan menghasilkan anakan produktif lebih banyak, dibandingkan bibit yang sudah tua > 21 hari, serta cara tanamannya dengan menggunakan Jarwo (2:1 atau 2.2) yang menurut petani produksinya lebih banyak dibandingkan sistem Tegel.

Pembenihan padi yang paling baik yang dengan menggunakan baki, baik dari plastik, kayu atau bambu, dengan ukuran 40x40 cm, kemudian dalam baki tersebut diberikan tanah secukupnya, yaitu tanah yang sudah bercampur unsur hara/kotoran ternak dengan perbandingan 1:2, yaitu tanah 2 bagian tanah dan kotoran hewan 1 bagian, kemudian diaduk rata. Setelah itu maka benih padi disemaikan, dengan catatan sebelumnya  perlakuan benih padi tersebut sudah direndam dengan air 6-12 jam dan kemudian ditiriskan dengan karung. Hal ini dengan maksud mengurangi masa dormasi, penggunaan baki sebagai tempat persemaian yaitu mempermudah pemindahan benih padi ke lapangan.

Bibit muda pada tanaman padi yang sudah berumur 2 minggu setelah semai dicirikan salah satunya dengan ketinggian benih rata-rata 20 cm, dengan daun berwarna hijau, maka tanaman tersebut sudah siap dipindahkan ke lapangan, dengan sistem tanam Jajar Legowo. Penggunaan benih muda yang belum banyak dilakukan oleh petani, merupakan salah satu upaya  peningkatan  produksi padi dilapangan, dengan banyaknya anakan produktif, diharapkan produksi padi yang di tanaman akan meningkat.

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting yang telah menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia. Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk

Berbagai penelitian dan uji coba terutama untuk penanaman padi dengan umur dan jumlah yang berbeda. Tapi banyak dilakukan pada petak sawah yang berbeda. Walaupun petak sawah tersebut berdampingan, namun faktor tanah dan air tentu akan berpengaruh pada perkembangan dan hasil panen, mencoba menguji pengaruh umur benih padi terhadap perkembangan dan hasil panen yang akan didapat.

Tanam Bibit Muda

Manfaat tanam bibit muda (tanam bibit kurang dari 15 hari) antara lain adalah tanaman tidak akan mengalami stres akibat pencabutan bibit dilahan persemaian. Bibit muda lebih menghasilka anakan produktif lebih bayak dibandingkan dengan bila menggunakan bibit lebih tua.

Pertumbuhan akar dengan cara penanaman bibit muda akan lebih baik, karena perakaran tanaman akan lebih menyebar dan perakaran akan lebih dalam untuk tumbuh sehingga memudahkan tanaman untuk menyerap unsur hara didalam tanah, selain dari itu dengan pertumbuhan akar yang baik tanaman bisa tahan terhadap rebah.

Dengan tidak mengalami stres pada tanaman yang mengakibatkan terhentinya sementara pertumbuhan tanaman, penanaman bibit muda bisa mempercepat umur tanaman padi untuk dipanen.

Cara penanaman bibit muda:

  1. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit masih berdaun 2 helai
  2. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak minimal 25 cm persegi
  3. Penanaman harus segera mungkin (kurang dari 30
  4. Penanaman padi dengan perakaran yang dangkal
  5. Pengaturan air, pemberian air maksimal 2 cm dan tanah tidak diairi secara terus-menerus sampai terendam dan penuh, namun hanya lembab (irigasi berselang atau terputus)
  6. Peningkatan aerasi tanah dengan penggemburan atau pembajakan
  7. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
  8. Menjaga keseimbangan biota tanah dengan menggunakan pupuk organik

Keuntungan Tanam Bibit Muda

1.  Tanaman tidak mengalami stres dan cepat beradaptasi

Dengan penanaman bibit muda kurang dari 14 hari, tanaman padi tidak mengalami masa stres dan cepat beradaptasi terhadap lingkungan, dikarena tanaman masih mempunyai cadangan makanan atau endosperm pada bibit tersebut.

2.  Pertumbuhan akar lebih baik

Pertumbuhan akar dengan cara penanaman bibit muda akan lebih baik, karena perakaran tanaman akan lebih menyebar dan perakaran akan lebih dalam untuk tumbuh sehingga memudahkan tanaman untuk menyerap unsur hara didalam tanah, selain dari itu dengan pertumbuhan akar yang baik tanaman bisa tahan terhadap rebah.

3.  Penyerapan unsur hara lebih efektif

Penanaman bibit muda membantu tanaman untuk menyerap unsur hara lebih efektif karena perakaran tumbuh dengan sehat dan menyebar disekitar tanaman, sehingga pemupukan akan lebih efektif dan efisien

4.  Meningkatkan jumlah anakan produktif

Pertumbuhan akar yang baik dan bisa menyerap unsur hara dengan maksimal,menjadikan

pertumbuhan anakan pada tanaman padi akan jauh lebih meningkat sehingga dengan banyaknya anakan produktif maka akan menambah jumlah malai pada tanaman

5.  Mempercepat masa panen

Dengan tidak mengalami stres pada tanaman yang mengakibatkan terhentinya sementara pertumbuhan tanaman, penanaman bibit muda bisa mempercepat umur tanaman padi untuk dipanen.

Peningkatan produksi dan produktivitas padi tidak terlepas dari ketersediannya unsur hara yang cukup pada lahan yang akan di tanam tanaman padi, menggunakan varietas unggul, serta pemakaian air sesuai dengan kebutuhan tanaman, serta menggunakan benih muda dan cara tanaman dengan sistem jajar legowo. 

 

]]>
Ir. Muharja Hasan, MP dan M. Iqbal Fri, 24 May 2019 18:19:03 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1504-keunggulan-tanam-bibit-muda-padi-sawah-untuk-meningkatkan-jumlah-anak-produktif
Budidaya Tanaman Sayuran Daun dengan Hidroponik http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1505-budidaya-tanaman-sayuran-daun-dengan-hidroponik bbpplembang budidayahidroponikHidroponik merupakan teknik budidaya tanaman dengan menggunakan arang sekam atau media lainnya dengan memanfaatkan unsur hara yang di butuhkan tanaman dalam bentuk cair yang sudah diracik (unsur hara makro dan mikro) untuk diberikan ke tanaman dengan cara disiramkan atau dengan irigasi tetes. Budidaya tanaman sayuran bisa dilakukan dengan cara hidroponik seperti sayuran daun berumur pendek seperti pakcoi, kangkung, bayam, salada, seledri, dan lainnya.

Tanaman tersebut dibudidayakan di dalam ruangan yang disebut dengan screen house, atau bangunan dengan  naungan plastik Ultra Violet (UV), untuk tempat tumbuhnya tanaman dengan menggunakan polybag, kantong plastik hitam ukuran diameter 30-40 cm, diisi dengan arang sekam, dan kemudian dipasangkan alat-alat hidroponik seperti selang, untuk menyalurkan unsur hara cair ke tanaman. Manfaatkan budidaya tanaman dengan sistem hidroponik, tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya, tapi menggunakan arang sekam atau bahan lainnya yang terbebas dari hama dan penyakit, artinya media tersebut sudah disterilisasi.

Pengertian Tanaman Hidroponik

Secara etimologi hidroponik berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata, yaitu hydro dan ponos. Hydro yang artinya air dan ponos yang artinya kerja. Jadi apabila disatukan hidroponik adalah teknik budidaya tanaman dengan memanfaatkan air dan tidak menggunakan tanah (humus) sebagai media tanam atau soilles. Nama lain dari hidropnik adalah soilless culture atau teknik budidaya tanaman tanpa tanah.

Menanam tanaman dengan sistem hidroponik merupakan suatu metoda yang ramah lingkungan karena dalam pembudidayaannya tidak perlu menggunakan pestisida atau bahkan herbisida yang beracun secara berlebihan. Di era sekarang ini menanam dengan sistem hidroponik adalah alternatif yang tepat untuk mendapatkan sayuran di lahan yang sempit atau terbatas (Urban Farming). Ditambah lagi dengan kondisi Indonesia yang beriklim tropis adalah tempat yang cocok untuk menerapkan metode ini. Bercocok tanam dengan hidroponik akan mendapatkan hasil yang bagus jika diiringi hobi, karena jika dimulai dari hobi maka akan sangat berpotensi untuk dijadikan bisnis.

Jenis Tanaman Hidroponik Sayuran Daun

  1.  Kangkung
  2.  Sawi
  3.  Selada
  4.  Pakcoy
  5.  Seledri
  6.  Pagoda
  7.  Bayam Merah/Hijau
  8.  Ceisim
  9.  Naibai/Tatsoi

 

Keuntungan Hidroponik Sayuran Daun

  1. Tenaga kerja tidak banyak
  2. Sayuran tidak kotor
  3. Pekerjaan tidak kotor karena tidak pakai media tanah
  4. Persemian, perawatan, panen tidak sulit
  5. Solusi terbaik untuk menyalurkan hobi bercocok tanam bagi anda yang tidak memiliki pekarangan yang luas
  6. Tidak perlu menggunakan pupuk yang banyak, sehingga akan lebih hemat dibandingkan dengan media tanah
  7. Penggunaan air jauh lebih sedikit, karena dalam penerapannya air adalah sumber media utama dalam menanam hidroponik
  8. Lingkungan budidaya tanam volumenya lebih besar karena tidak menggunakan media tanah sama sekali
  9. Apabila tanaman hidroponik untuk tujuan komersil, maka bisa dijual dengan harga yang tinggi, terutama untuk tanaman organik
  10. Proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman lebih cepat

 

Cara Budidaya Hidroponik Sayuran Daun Media Sekam

  1. Bahan yang diperlukan adalah:
  • Tray untuk penyemaian
  • Arang sekam
  • Benih selada/kangkung sesuai keinginan
  • Plastik hitam/polybag
  1. Caranya:
  • Masukkan arang sekam kedalam tray
  • Masukkan benih satu persatu kedalam lubang tanam
  • Taburkan lagi arang sekam untuk menutupi benih cukup tipis-tipis saja.
  • Siram benih dengan menggunakan sprayer agar media tidak terhambur kemana mana.
  • Tutup dengan plastik hitam selama dua hari.
  • Setelah 2 hari, buka tutup plastik. Biasanya benih sudah tumbuh.
  • Bibit dikenakan cahaya matahari (jangan terlalu terik)
  • Lakukan penyiraman rutin sampai 2 minggu dan tanaman siap pindah tanam.
  1. Tahap pindah tanam.

Setelah bibit selada berumur 2 minggu biasanya sudah berdaun lengkap dan siap pindah tanam. Untuk pindah tanam agar bibit tidak rusak harus dilakukan secara hati-hati. Dibawah ini akan saya uraikan cara pindah tanam yang biasa dilakukan.

Alat/bahan yang diperlukan:

  • Netpot (pipa 1” atau kepala botol plastik)
  • Kain flannel untuk sumbu jika diperlukan.
  • Spons yang sudah dipotong-potong ukuran 2,5cm x 2,5cm x 2cm
  • Baskom/ember yang sudah diisi air bersih.

Caranya:

-          Ambil bibit dan medianya sekalian (jangan dicabut tapi ambil bibit dan media sekaligus)

-          Masukkan bibit dan media kedalam baskom/ember yang sudah diisi air

-          Goyangkan bibit perlahan. Media akan tenggelam dan bibit akan mengapung. Biasanya dengan cara ini akar tidak rusak dan akar bersih dari media yang menempel.

-            Jika bibit bergerombol, pisahkan bibit dengan hari-hati (pemisahan tetap didalam air)

-            Setelah bibit terpisah, jepit bibit dengan spons yang telah tersedia. Untuk selada sebaiknya 2 bibit satu spons agar nantinya selada berbentuk crop kompak. Jika ada bibit yang akarnya belum bisa menyentuh air nutrisi bisa ditambahkan sumbu dengan kain flannel.

-            Masukkan bibit ke dalam netpot.

-            Masukkan netpot ke lubang-lubang tanam yang ada dalam rak paralon yang sebelumnya sudah diisi air nutrisi.

  1. Tahap pembesaran

Setelah bibit kita pindahkan ke dalam rak, tugas selanjutnya adalah melakukan perawatan untuk pembesaran sampai masa panen. Dalam sistem hidroponik perawatan tanaman adalah sangat mudah. Karena bertanam masih memakai sistem air menggenang, jadi yang dilakukan hanyalah memperhatikan ketersediaan air nutrisi yang ada didalam pipa paralon tempat penanaman. Biasanya dicek 3 hari sekali. Ketika air mau habis tinggal ditambahkan lagi air yang tidak diberi nutrisi.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai batang dan akar selada terendam keseluruhan, air nutrisi cukup sebatas 1/3 sampai 1/5 diameter pipa saja agar masih ada ruang untuk akar dan akar tidak terendam semua. Biasanya setelah 25-30 hari setelah pindah tanam, selada siap dipanen.

 

Dapat disimpulkan bahwa tanaman hidroponik adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan unsur hara atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah. Ada beberapa jenis tanaman yang biasa di tanam dengan sistem hidroponik antara lain jenis tanaman sayuran, buah, dan tanaman hias, yang bisa bermanfaat dan memiliki berbagai kelebihan.

Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan adalah larutan nutrisi, media tanam (arang sekam) dan lingkungan yang bersih, cukup oksigen dan penyinaran matahari sesuai kebutuhan tanaman. Prospek usaha dengan menggunakan teknik budidaya hidroponik ini sangat mudah, dan menguntungkan dengan lahan yang terbatas dan cara tanamnya secara vertikultur, teknik budidaya tanamn secara sistem hidroponik dapat meningkatkan pendapat, di lahan usaha tani yang sempit, serta dapat menghasilkan produk sayuran yang berkualitas. 

 

]]>
Ir. Muharja Hasan, MP dan Agus Shahroni Fri, 17 May 2019 19:09:55 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1505-budidaya-tanaman-sayuran-daun-dengan-hidroponik
Dengan Benih Jagung Hibrida, Hasil Melimpah http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1472-dengan-benih-jagung-hibrida-hasil-melimpah bbpplembang budidaya jagunghibrida1Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang berdiri sejak tahun 1962. Sejak lama, BBPP Lembang melatih peserta atau pengunjung untuk melakukan kegiatan budidaya pertanian. Untuk memfasilitasi hal tersebut, tahun 2002 dibuatlah Inkubator Agribisnis (IA) yang memiliki fasilitas berupa lahan terbuka, screen house, Kawasan Rumah Pangan Lestari, Café, dan Laboratorium seperti Kultur Jaringan, Agens Hayati, dan Pengolahan Hasil. Harapannya adalah agar peserta atau pengunjung yang berlatih di IA BBPP Lembang mendapatkan ilmu yang lengkap tentang proses dari hulu sampai hilir produk pertanian yang dihasilkan di IA BBPP Lembang. Dan salah satu produk pertanian yang dibudidayakan di lahan terbuka IA BBPP Lembang adalah jagung hibrida lho. Mau tau caranya, yuk kita simak penjelasannya di bawah ini.

Budidaya jagung memerlukan persyaratan benih dan budidaya yang baik. Benih jagung yang digunakan untuk budidaya sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik, maupun fisiologinya, dan berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, dan tidak tercemar hama dan penyakit). Kegiatan budidaya dimulai dari persiapan lahan, pemupukan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan susulan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, panen, dan pasca panen.

bbpplembang budidaya jagunghibridaPersiapan lahan dimulai dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan pembalikan tanah dengan cara pencangkulan atau pembajakan. Adapun pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah dari kegiatan budidaya sebelumnya. Setelah tanah dibalikkan, dilanjutkan dengan pembuatan bedengan dengan panjang disesuaikan dengan panjang lahan, lebar 90 cm, dan tinggi 30 cm, serta jarak antar bedengan 40-50 cm. Jarak tanam untuk jagung hibrida adalah 70 x 70 cm. Adapun pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kompos/pupuk hijau dengan dosis 350 gram per tanaman. Pupuk dasar diberikan tergantung banyaknya jumlah tanaman yang ditanam.

bbpplembang budidaya jagunghibrida2Cara penanaman budidaya jagung hibrida adalah dengan cara ditugal dengan membuat lubang tanam sedalam 3-5 cm dan memasukkan 3-4 butir benih jagung hibrida. Adapun proses pemeliharaan yang dilakukan 7-10 hari setelah tanam adalah penjarangan, penyulaman, penyiangan, pengairan, dan pemberian pupuk susulan. Penjarangan dilakukan sesuai dengan yang diinginkan, misalnya jika 1 lubang tanaman tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang diinginkan hanya 2 atau 1 maka segera dilakukan proses penjarangan. Sedangkan penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama dan waktu penyulaman paling lambat 2 minggu setelah tanam. Dalam budidaya jagung hibrida, pemupukan susulan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pupuk pertama pada saat umur 28 hari, pupuk susulan kedua pada saat umur 48 hari, dan pupuk susulan ketiga pada saat dua minggu menjelang panen. Adapun dosis pemupukan setiap hektarnya adalah pupuk urea sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCL sebanyak 50-100 kg.

Panen merupakan tahapan akhir dari kegiatan budidaya, tetapi merupakan awal dari pekerjaan pasca panen yang berupa penyimpanan dan pemasaran. Kegiatan panen dilakukan pada saat tanaman berumur 120 hari setelah tanam. Adapun ciri-ciri tanaman jagung yang telah siap dipanen yaitu tongkol berwarna coklat dan bentuk tongkol yang besar dan padat ketika disentuh secara manual. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong tongkol jagung dengan gunting stek atau dapat menggunakan cara manual yaitu menggunakan tangan. Selanjutnya jagung dikumpulkan di dalam wadah yang telah disiapkan. Proses selanjutnya adalah pengeringan jagung untuk mengurangi kadar air menjadi 9-11 persen dengan cara digantung dan diangin-anginkan di dalam ruangan tertutup. Setelah 2 minggu atau sampai kandungan air dalam jagung hibrida berkurang hingga mencapai syarat yang ditentukan, dilakukan pemipilan dengan menggunakan mesin pipil dan benih disimpan di dalam karung goni atau plastik untuk dipasarkan. (bayu)

 

]]>
Bayu Sumantri, SE, M.Si Fri, 22 Feb 2019 20:45:59 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1472-dengan-benih-jagung-hibrida-hasil-melimpah
Visit Expert Pertanaman Cabai Di Tashkent Region, Republic of Uzbekistan http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1445-visit-expert-pertanaman-cabai-di-tashkent-region-republic-of-uzbekistan bbpplembang artikel uzbekistan1Pertanian di Republik Uzbekistan merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi dan menyumbang 24% dari GDP negara tersebut. Uzbekistan merupakan salah satu negara pengekspor kapas terbesar di dunia, namun akhir-akhir ini Pemerintah Uzbekistan telah mendorong transisi lahan pertanian dari pertanaman kapas yang tidak efisien menggunakan air ke tanaman alternatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti tanaman buah dan sayuran. Setelah merdeka pada tahun 1991, di Uzbekistan area untuk sayuran meningkat 140%. Subsektor hortikultura merupakan sumber pendapatan yang sangat penting bagi tenaga kerja di pedesaan dan menyediakan pekerjaan yang signifikan bagi wanita. Tanaman hortikultura memberikan pendapatan yang lebih tinggi untuk petani daripada gandum dan kapas.  Negara ini merupakan salah satu produsen terbesar sayuran dan buah segar di antara negara-negara Asia Tengah.

Selama lebih dari satu bulan, dari bulan Agustus sampai bulan September 2018 Kementerian Pertanian RI, atas permintaan dari pihak Kementerian Pertanian Republik Uzbekistan, mengirimkan 4 orang experts (tenaga ahli) budidaya cabai ke beberapa region (setara dengan provinsi di Indonesia) untuk memberikan saran dan masukan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil cabai para petani karena mereka baru pertama kali melaksanakan budidaya cabai di lahan yang luas.Sebelumnya para petani di Uzbekistan menanam cabai di halaman rumah mereka hanya untuk keperluan memasak rumah tangga mereka sendiri.

bbpplembang artikel uzbekistanUzbekistan memiliki potensi yang besar untuk pertanaman sayuran yang berkelanjutan, hal ini terbukti dengan fakta bahwa volume produk pertanian ini meningkat secara konstan. Negara ini memiliki beberapa keuntungan untuk melaksanakan budidaya cabai, mulai dari iklim yang hangat, musim tanam yang relatif panjang untuk negara subtropis dan melimpahnya air untuk irigasi, terutama yang daerahnya berdekatan dengan aliran sungai. Namun irigasi dengan kanal sangat tidak efisien, banyak air hilang karena evaporasi, aliran permukaan dan absorpsi ke dalam tanah, sebelum dimanfaatkan oleh tanaman. Drainase yang buruk di lahan yang beririgasi menyebabkan deposit garam ketika air menguap, hal ini menimbulkan salinisasi lahan pertanian. Bila salinitas tanah lebih tinggi, tanaman harus bekerja keras untuk dapat menyerap air.

Tashkent region terletak di bagian timur laut negara Uzbekistan dengan luas wilayah 15.300 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 4.450.000 orang. Tashkent region memiliki sektor pertanian yang sangat berkembang, terutama berbasis irigasi. Tanaman utama di wilayah ini adalah kapas dan rami, tetapi sereal, buah-buahan dan sayuran juga semakin meningkat luas arealnya. Musim panas berlangsung lama di Tashkent, biasanya dari bulan Mei sampai bulan September dengan suhu sekitar 30o C. Tashkent region terbagi menjadi 15 distrik (setingkat kabupaten), namun hanya 7 distrik yang dikunjungi pada program ini yaitu : Okhangaron, Piskent, Akkurgan, Zangiotta, Qibray, Urtachircik dan Yuqorichirchik.

Secara umum tanaman cabai tumbuh dengan baik di Tashkent region, hanya ada beberapa hal dalam budidaya tanaman ini yang perlu ditingkatkan. Pada umumnya para petani menanam varietas cabai yang berasal dari India dan sebagian kecil dari Taiwan. Hanya sedikit petani yang telah menggunakan pupuk kandang ataupun kompos sebagai pupuk dasar, karena kambing dan sapi di negara ini jarang yang dikandangkan, sebagian besar ternak dilepas di padang rumput kecuali pada saat musim dingin.  Namun kepada para petani di Tashkent disarankan untuk memberikan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20-30 ton/ha sehingga pertumbuhan tanaman cabai menjadi lebih baik karena pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan memegang air dengan lebih baik sehingga pada saat musim panas yang terik, karena di wilayah ini suhu bisa mencapai 40oC, tanaman cabai tidak mudah layu karena kekeringan.

Berbeda dengan di Indonesia, pertanaman cabai di Tashkent region pada umumnya tidak menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP). Selain itu jarak tanam di dalam barisan pada umumnya terlalu rapat yaitu sekitar 15-20 cm sehingga terlihat berdesak-desakan dan tanaman cabai tidak tumbuh maksimal karena terjadi persaingan antar tanaman dalam memperoleh air, unsur hara dan cahaya matahari, ditambah lagi para petani tidak pernah melakukan perompesan tunas air. Buah cabai yang sudah muncul di pertanaman yang dikunjungi pada umumnya hanya sedikit pada tiap tanaman, selain itu ukurannya juga kurang besar. Oleh karena itu kepada para petani yang dikunjungi disarankan untuk memperlebar jarak tanam agar tanaman tumbuh subur sehingga hasil tanaman berupa buah cabai menjadi lebat dan ukurannya besar, disarankan juga untuk melakukan perompesan tunas liar/tunas air sehingga hasil fotosintat hanya ditujukan ke cabang yang produktif.

Di Tashkent region juga tidak dilakukan penyulaman sehingga sering kali dijumpai ruang kosong di antara tanaman cabai akibat tanaman cabai yang mati, disarankan untuk melakukan penyulaman 7-10 hari setelah tanam agar tidak banyak ruang kosong di antara tanaman dan dengan melakukan penyulaman maka jumlah tanaman per satuan luas tidak berkurang terlalu banyak dari target sehingga target produksi cabai per satuan luas dapat tercapai. Penyulaman dilakukan waktu sore hari dan menggunakan tanaman yang berumur sama dengan yang sudah ditanam di lahan.

Banyak dijumpai gulma di sekitar pertanaman cabai yang dikunjungi, kepada para petani disarankan untuk mengendalikan gulma tersebut karena merupakan pesaing tanaman cabai untuk mendapatkan air, unsur hara dan cahaya matahari sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman cabai. Gulma juga merupakan inang bagi hama dan penyakit sehingga bila tidak dikendalikan dikhawatirkan terjadi serangan hama penyakit pada pertanaman cabai yang akan menurunkan hasil tanaman bahkan bisa berakibat gagal panen.  

Pada beberapa pertanaman cabai terlihat tanaman yang patah atau roboh, hal ini disebabkan tanaman kekurangan unsur kalsium (Ca), maka disarankan memberikan pupuk yang di dalamnya mengandung unsur Ca. Kalsium merupakan bagian penting dari dinding sel tanaman, unsur ini membentuk senyawa Ca pektat yang menstabilkan dinding sel dan menjadi pengikat antar sel. Selain itu bila tanaman cabai roboh akibat buahnya yang terlalu lebat, petani disarankan untuk menggunakan turus agar tanaman dapat berdiri tegak.

Penyakit layu bakteri ditemukan di beberapa pertanaman cabai akibat serangan bakteri Ralstonia solanacearum. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan melakukan seed treatment, caranya mencelupkan benih cabai ke dalam larutan bakterisida sebelum disemaikan.  Bisa juga menanam jagung dengan jarak tanam yang rapat di sekeliling pertanaman cabai sebagai barrier agar serangga vektor penyakit ini tidak memasuki pertanaman cabai. Penanaman varietas yang resisten dan drainase yang baik juga dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit ini. Bila sudah ada tanaman yang terserang penyakit layu bakteri, segera cabut tanaman tersebut dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan famili Solanaceae juga merupakan cara yang baik untuk mencegah penularan penyakit layu bakteri.

Buah cabai juga ada yang terserang penyakit Antraknose, dapat dicegah dengan menanam varietas yang resisten terhadap penyakit ini. Daun-daun tanaman cabai yang berada di bawah sebaiknya dipangkas agar tidak terpercik air irigasi yang dapat mengandung bibit penyakit ini. Buah yang terserang harus dipetik dan dimusnahkan dengan cara dibakar untuk mencegah penularan penyakit ini ke tanaman cabai yang lain. Lakukan juga rotasi tanaman dengan membudidayakan tanaman yang bukan famili Solanaceae.

bbpplembang artikel uzbekistan2Petani yang dikunjungi di Distrik Urtachirchik belum mengetahui kapan saat yang tepat untuk memanen buah cabai merah sehingga kepadanya dijelaskan bahwa buah cabai merah dapat dipanen bila warnanya sudah memerah sekitar 80-85%, namun pada umumnya dipanen saat warna buah sudah merah seluruhnya atau sesuai dengan permintaan konsumen. Disampaikan juga bahwa sebaiknya panen cabai merah dilakukan saat pagi hari, hasil panen harus segera dibawa ke tempat yang teduh sehingga tidak terjadi penguapan yang menyebabkan buah cabai menjadi layu.

Setelah melakukan kunjungan ke pertanaman cabai merah, para tenaga ahli mempresentasikan laporan hasilnya pada Seminar Internasional “Problems and Solutions of Cultivation of Peppers in Uzbekistan” yang diselenggarakan oleh Tashkent State Agrarian University (TSAU) dan dihadiri oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Uzbekistan. Pada saat itu sekaligus dilaksanakan pameran skala kecil mengenai varietas tanaman dan hasil pengolahan  cabai merah. Setelah melaksanakan seminar selanjutnya tenaga ahli dari Indonesia juga membantu para dosen TSAU untuk menyusun pedoman budidaya cabai merah bagi para petani Uzbekistan.

 

 

Referensi

Anonim. 2015. Uzbekistan, Fruit and Vegetable Overview. http://www.agrochart.com/en/news/3179/uzbekistan-fruit-and-vegetable-overview-dec-2014.html

Iskandarov Sanjarbek Tursunbekovich. 2018. Effect of Greenhouse Types to Vegetable Production in Uzbekistan. http://ijtemt.org/vol4issue6/1_Effects_of_Greenhouse_Types_to_Vegetable_Production_in_Uzbekistan_Vol_IV_Issue_VI.php

Jeffrey Hays. 2008. Agriculture in Uzbekistan. http://factsanddetails.com/central-asia/Uzbekistan/sub8_3f/entry-4740.html

Wikipedia. Agriculture in Uzbekistan. https://en.wikipedia.org/wiki/Agriculture_in_Uzbekistan

Wikipedia. Tashkent Region. https://en.wikipedia.org/wiki/Tashkent_Region

 

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Mon, 18 Feb 2019 21:48:17 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1445-visit-expert-pertanaman-cabai-di-tashkent-region-republic-of-uzbekistan
Menghasilkan Kentang G0 Berkualitas dengan Teknik Irigasi Tetes http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1420-menghasilkan-kentang-g0-berkualitas-dengan-teknik-irigasi-tetes bbpplembang budidaya kentangG0Kentang merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat mengeluarkan tunas dan nantinya akan membentuk suatu cabang yang baru. Kentang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga digunakan sebagai makanan pokok khususnya di Negara Barat. Di Indonesia sendiri, ada 3 varietas kentang yang dikenal, yaitu Granola, Atlantic, dan Holand.

Inkubator Agribisnis di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang adalah salah satu lembaga Pemerintah Pusat yang membudidayakan kentang dari Knol, G0, G1, dan G2 varietas Granola dan Atlantik. Kegiatan ini dimulai dari sanitasi screen house. Kegiatan sanitasi merupakan kegiatan membersihkan area screen dari semua bentuk sampah, seperti rumput atau sisa tanaman lain, lumut, sampah plastik dan tali, dan benda-benda lain yang tidak diinginkan dan dianggap mengganggu di dalam screen house. Kegiatan sanitasi yang dilakukan pada screen house di inkubator agribisnis BBPP Lembang antara lain menyapu lantai bedengan dari sisa sekam maupun daun, membuang sisa tali ikatan, mencabut semua tanaman yang bukan tanaman utama, menyikat lumut yang tumbuh di lantai screen house, dan lain sebagainya. Setelah dilakukan sanitasi, screen house dilakukan sterilisasi dari mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur yang dapat merugikan tanaman. Cara sterilisasi dengan menggunakan Bayclin yang dilarutkan dengan air. Dosis Bayclin yang digunakan sebesar 2 ml/l air. Larutan Bayclin disemprotkan ke seluruh ruangan menggunakan hand sprayer. Sterilisasi untuk selang irigasi tetes dengan cara larutan Bayclin dialirkan lewat tong kemudian ke saluran irigasi tetes. Kemudian didiamkan selama lebih dari 1 minggu.

bbpplembang budidaya kentangG01Langkah berikutnya adalah persiapan media dan bahan tanam. Media tanam yang digunakan adalah campuran antara sekam dan cocopeat dengan perbandingan 2 : 1. Selanjutnya media tanam tersebut dimasukkan ke dalam polybag dengan ukuran diameter 30-35 cm. Benih kentang G0 yang ditanam adalah benih umbi kentang yang didapatkan dari hasil aeroponik. Hasil umbi kentang tersebut didormansi selama 3-4 bulan. Sebelum penyimpanan, umbi dilapisi dengan fungisida terlebih dahulu agar tidak terserang jamur saat dormansi.

Proses penanaman kentang G0 harus memiliki kriteria tanaman tumbuh normal, berisi, tidak busuk, tidak terdapat tanda-tanda penyakit, dan telah tumbuh minimal 1 tunas. Penanaman kentang sebaiknya dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak terjadi stagnasi akibat sengatan matahari.  Cara menanam umbinya adalah membuat lubang sedalam 2 ruas jari atau kurang lebih 2-3 cm kemudian menutupinya dengan media tanamnya.

bbpplembang budidaya kentangG02Pemeliharaan budidaya kentang G0 varietas Granola dengan sistem irigasi tetes (vertigasi) meliputi pemberian nutrisi dan pengecekan kepekatan nutrisi (EC). Adapun nutrisi yang digunakan adalah nutrisi AB Mix, di mana pemberian nutrisi setiap 2 jam sekali (5 kali dalam sehari) dengan durasi 3 menit sebanyak 200 ml per tanaman atau 1 liter/hari/tanaman. Pengecekan kepekatan larutan nutrisi menggunakan Electric Conductivity (EC) meter. Perlu diperhatikan juga kepekatan nutrisi pada saat fase vegetatif dan generatif. Pemberian larutan nutrisi untuk budidaya kentang G0 pada fase vegetatif berkisar antara 1-2 mS dan vase generatif berkisar antara 2-4. Pemeliharaan lainnya adalah pengikatan batang kentang jika telah memiliki ketinggian 20-25 cm. Setelah 75-80 hari dilakukan proses pengeringan dan selanjutnya dilakukan pemanenan umbi kentang G0 varietas Granola.

 

]]>
Bayu Sumantri, SE, M.Si Mon, 04 Feb 2019 21:49:59 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1420-menghasilkan-kentang-g0-berkualitas-dengan-teknik-irigasi-tetes
Keripik Kentang Kekinian http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1419-keripik-kentang-kekinian bbpplembang pengolahan keripikkentangDi era milenial saat ini, pengolahan makanan adalah salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Panen yang berlimpah, harga jual yang rendah, cepatnya proses pembusukan atau kerusakan produk pertanian, ataupun ketiadaan pasar adalah permasalahan dari produsen atau petani dalam menghasilkan suatu produk pertanian. Untuk menjawab hal itu, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang melalui laboratorium pengolahan hasil pertanian Inkubator Agribisnis membuat suatu produk olahan kentang berupa keripik. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab tantangan berupa peningkatan nilai tambah dari produk pertanian.

bbpplembang pengolahan keripikkentang2Dua jenis keripik kentang yang diolah di laboratorium pengolahan hasil pertanian Inkubator Agribisnis BBPP Lembang adalah melalui metode blanching dan non blanching. Pembuatan keripik kentang melalui metode blanching memiliki keunggulan berupa produknya yang lebih tahan lama untuk disimpan karena tidak mudah busuk atau rusak dan keripik kentang yang dihasilkan dalam bentuk produk setengah jadi sehingga tahan disimpan selama lebih kurang 1 tahun. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatannya dikeringkan menggunakan cabinet dryer dengan suhu 600C selama lebih kurang 12 jam.

bbpplembang pengolahan keripikkentang1Sebelum membuat olahan keripik kentang, terlebih kita mempersiapkan alat-alat seperti vegetable cutter, pisau, tatakan, baskom, loyang, cabinet dryer, penggorengan, spatula, dan satu set kompor gas dan tabungnya. Lalu mempersiapkan  bahan seperti kentang varietas Atlantik, minyak goreng, kapur sirih, bawang putih, garam, dan air. Pada pembuatan keripik kentang dengan metode non blanching, kentang dikupas lalu diiris dengan menggunakan vegetable cutter. Setelah itu kentang direndam dengan menggunakan larutan sirih dengan perbandingan antara air dan kapur sirih adalah 1 gelas air ditambah dengan 1 sendok makan kapur sirih. Kentang tersebut direndam selama 30 menit, lalu dicuci bersih. Langkah terakhir adalah kentang tersebut digoreng sampai warna kentang berubah menjadi kuning keemasan.

Sedangkan pada pembuatan keripik kentang dengan metode blanching, yaitu kentang dikupas kemudian dicuci. Lalu kentang diiris dengan menggunakan vegetable cutter dan direndam menggunakan larutan sirih dengan perbandingan antara air dan kapur sirih adalah 1 gelas air ditambah dengan 1 sendok makan kapur sirih. Kentang dicuci kembali sampai bersih. Setelah itu diblanching atau direbus selama 3-5 menit dengan menggunakan air yang dicampur dengan bumbu seperti garam dan bawang putih secukupnya.  Kentang ditata dengan rapih di atas loyang dan kemudian dikeringkan menggunakan cabinet dryer dengan suhu 600C selama lebih kurang 12 jam. Keripik kentang siap dibungkus kedap udara dan dapat digoreng jika ingin dikonsumsi langsung. Gimana, berminat mencobanya? (bayu)

]]>
Bayu Sumantri, SE, M.Si Fri, 01 Feb 2019 21:36:00 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1419-keripik-kentang-kekinian
Refugia sebagai Tanaman Perangkap Hama http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1405-refugia-sebagai-tanaman-perangkap-hama bbpplembang refugia1Pengelolaan serangga dalam pertanian organik menerapkan metode-metode yang dapat meningkatkan keragaman genetik, keanekaragaman hayati dan habitatnya, serta terhadap struktur sosial dan komunitas pedesaan. Strategi “tolak tarik” (Push-pull strategy) merupakan salah satu teknik pengendalian hama yang berprinsip pada komponen pengendalian non toksik, sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai metode pengendalian lainnya untuk menekan populasi hama. Strategi ini juga dapat meningkatkan peran musuh alami, terutama parasitoid dan predator pada pertanaman.

Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam dengan menggunakan tanaman perangkap dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Penggunaan tanaman perangkap harus mempunyai fungsi sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepungsari untuk makanan alternatif berbagai predator atau sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid) agar pelestarian musuh alami dapat tercipta dengan baik.

Namun tidak semua tanaman bisa menjadi tanaman refugia, salah satu syarat untuk menjadi tanaman refugia adalah:

  1. Warna tanaman dan bunga yang mencolok, biasanya warna kuning
  2. Benih/bibit mudah diperoleh
  3. Mudah ditanam
  4. Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan
  5. Cocok dijadikan tanaman multiple crop

bbpplembang refugiaBeberapa contoh tanaman yang berpotensi sebagai Refugia adalah

  1. Tanaman Hias

Beberapa diantaranya yaitu bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas Zinnia (Zinnia sp), kenikir (Cosmos caudutus).

  1. Gulma

Diantaranya yaitu babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa L), bunga tahi ayam (Tagetes erecta).

  1. Tumbuhan Liar

Diantaranya yaitu  rumput setaria (Setaria sp), pegagan (Centella asiatica), bunga legetan (Synedrella nodiflora), rumput kancing ungu (Borreria repens) dan kacang hias (Arachis pentoi).

  1. Sayuran

Beberapa sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan antara lain yaitu kacang panjang (Vigna unguiculata spp.), bayam (Amaranthus spp.) dan jagung (Zea mays)

Penerapan tanaman refugia sebagai trap crop perlu memperhatikan beberapa aspek diantaranya yaitu waktu tanam refugia, sebaiknya ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang baik bagi musuh alami dan serangga polinasi. Penanaman refugia diusahakan sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama.

 

]]>
Sinta Andayani, SP Mon, 21 Jan 2019 22:32:04 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1405-refugia-sebagai-tanaman-perangkap-hama
Budidaya Kacang Panjang di KRPL BBPP Lembang http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1404-budidaya-kacang-panjang-di-krpl-bbpp-lembang bbpplembang panen kacangpanjangRumah pangan lestari dengan prinsip pemanfaatan perkarangan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi telah ada sejak 9 Agustus 2014 di lahan Inkubator Agribisnis Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Lahan di rumah pangan lestari BBPP Lembang yang ada sekitar 400 m2 berfungsi sebagai pemberi keindahan dan keasrian serta penyedia bahan pangan. Di kawasan ini terdapat kebun, kandang kambing, kandang kelinci, biogas, kolam ikan, hidroponik, akuaponik dan beberapa tanaman seperti talas, ketela pohon, dan ubi jalar. Prinsip pertanian berkelanjutan sangat diterapkan di kawasan ini.

bbpplembang panen kacangpanjang2Salah satu budidaya yang diterapkan di kawasan rumah pangan lestari adalah budidaya kacang panjang. Kacang panjang yang dikenal dengan nama latin Vigna sinensis L. sudah lama dibudidayakan oleh orang Indonesia. Adapun tahap awal budidaya kacang panjang adalah pengolahan tanah. Lahan yang akan ditanami kacang panjang sebaiknya diolah dengan cara mencangkul lahan hingga gembur dengan kedalaman 20-30 cm, lalu membuat bedengan dengan ukuran lebar 1 meter, tinggi 20-30 cm, dan panjang sesuai dengan lahan yang tersedia dan dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang 10-15 ton/ha satu minggu sebelum tanam.

bbpplembang panen kacangpanjang1Setelah dilakukan pengolahan, langkah selanjutnya adalah merendam benih kedalam air hangat dengan suhu 35-40°C dalam waktu ± 2-4 jam. Lubang tanam dibuat menggunakan tugal sedalam 4-5 cm dengan jarak antar lubang tanam 25-30 cm dan jarak antar barisan 60-75 cm. Setiap lubang tanam diisi dua butir benih, kemudian ditutup dengan tanah tipis tanpa dipadatkan. Benih biasanya berkecambah setelah 5 hari.

Pada proses pemeliharaan, dilakukan penyiraman 2 kali sehari pada pagi dan sore hari pada saat musim kemarau. Pemasangan ajir dengan takiron dilakukan pada hari ke-10 atau setelah tanaman mencapai panjang lebih kurang 25 cm. Pemasangan tali ke ajir dengan takiron dilakukan sesuai kebutuhan. Setelah lebih kurang 3 bulan, kacang panjang dapat dipanen dengan cara menggunting gagang buahnya. (bayu)

 

]]>
Bayu Sumantri, SE, M.Si Mon, 21 Jan 2019 16:53:29 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1404-budidaya-kacang-panjang-di-krpl-bbpp-lembang
Pertanian goes to Organik http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1406-pertanian-goes-to-organik bbpplembang pertanianorganikKenapa kita harus menuju pertanian organik? Saat ini masyarakat sudah beranjak dari konsumsi pangan yang banyak bergeser kearah keamanan pangan, isu keamanan pangan dihembuskan sejak zaman revolusi hijau hingga sekarang. Indonesia dengan penduduk mencapai 265 juta jiwa (BPS, 2018) membutuhkan pangan yang cukup banyak, disamping pangan juga dibutuhkan produk-produk hortikultura.

Produk-produk pertanian yang aman dikonsumsi oleh masyarat saat ini masih sedikit jumlahnya. Untuk itu pemerintah menggandeng para petani untuk berbudi daya sehat, ramah lingkungan serta aman untuk dikonsumsi. Pertanian organik menjadi solusi untuk budidaya sehat, ramah lingkungan dan aman untuk dikonsumsi. Adapun beberapa kelebihan berbudidaya secara organik yaitu : 1) Ramah lingkungan, karena tidak meninggalkan residu kimia baik didalam tanah maupun pada tanaman sehingga lingkungan tidak tercemar, 2) Kelestarian Ekosistem, pemanfaatan musuh alami baik predator maupun entomopatogen akan menjaga ekosistem tetap terjaga kelestariannya, 3) Murah, penggunaan berbagai tumbuhan sebagai pestisida nabati relatif lebih murah dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis, 4) Aman, baik petani maupun konsumen lebih aman karena tidak penggunaan bahan-bahan alami dan hayati relatif lebih aman bagi petani maupun konsumen, 5) Mahal harganya, produk-produk organik mempunyai nilai jual lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk-produk non organik. Namun ada beberapa kendala dalam pertanian organik yaitu : 1) Memerlukan bahan-bahan yang cukup banyak sebagai bahan pestisida nabati, 2) Petani harus terampil dalam membuat pestisida nabati dan agen hayati, 3) Konsumennya masih terbatas, permintaan produk masih kecil, harga produknya lebih tinggi.

Langkah-langkah yang harus dilakukan petani untuk menuju pertanian organik yaitu : 1) Registrasi lahan, petani harus mendaftarkan lahan yang akan digunakan sebagai pertanian organik, 2) Pembuatan Prosedur kerja dalam budidaya pertanian mutlat dilakukan, 3) Sumber air dan drainase perlu di perhatikan, 4) Pemupukan dengan menggunakan POC maupun POP, 5) Pengendalian hama dengan menggunakan sistem pengendalian hama terpadu, 5) Penanganan panen dan pasca panen, 6) Setiap perlakuan kegiatan harus tercatat.

 

]]>
Sinta Andayani, SP Fri, 18 Jan 2019 22:49:05 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1406-pertanian-goes-to-organik
Pembuatan Cabai Rawit Blok Sebagai Alternatif Pengawetan Cabai http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1391-pembuatan-cabai-rawit-blok-sebagai-alternatif-pengawetan-cabai bbpplembang cabaiblok2Siapa yang tak kenal dengan produk pertanian ini.  Ukurannya kecil tapi pedasnya luar biasa. Nah inilah dia cabai rawit. Sampai-sampai ada pepatah kecil-kecil cabai rawit. Hal ini karena cabai mengandung capsaicin yang membuatnya menjadi pedas.  Semakin tinggi kandungan capsaicin maka semakin tinggi tingkat kepedasannya. 

Hampir semua olahan kuliner di Indonesia menggunakan cabai sebagai salah satu bahan bakunya.  Mulai dari makanan daerah sampai makanan  kekinian seperti ayam geprek dan cilok pedas dengan berbagai level/tingkat kepedasan.  Banyaknya kebutuhan pasar akan komoditas cabai menjadikan cabai menjadi salah satu komoditas penting Kementerian Pertanian. Banyak sekali program yang digulirkan oleh Kementerian Pertanian agar ketersediaan cabai dapat mencukupi dengan harga yang stabil. 

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian di bawah Kementerian Pertanian yang juga ikut mendukung program-program dari Kementerian Pertanian khususnya mengenai komoditas cabai. Salah satunya yaitu dengan diadakannya ATC (Agri Training Centre) bagi pelajar SMU di wilayah Bandung.  Pelatihan yang dilaksanakan selama 7 hari dengan materi inti yaitu pembelajaran mengenai budidaya cabai rawit, pasca panen dan pengolahan cabai rawit blok.

Pengolahan cabai bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah terutama saat panen raya atau harga anjlok, memperpanjang daya simpan, serta  mempermudah dalam penyimpanan, pengemasan dan transportasi. Pada umumnya pengolahan cabai yang biasa dilakukan yaitu dengan metode pengeringan. Metode pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air cabai hingga batas tertentu dimana mikroba tidak dapat tumbuh lagi di dalamnya. Oleh karena itu cabai rawit blok lebih memliki daya simpan yang lebih lama apabila dibandingkan cabai rawit segar.

Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan cabai rawit blok yaitu: pisau, talenan, baskom, tampah, loyang, blender, sendok, cetakan kue bentuk bulat, saringan plastik dan cabinet drying.  Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu: cabai rawit, tapioka, label dan kemasan. Cabai yang digunakan harus dengan tingkat kematangan yang sama sehingga warna yang dihasilkan seragam dan lebih menarik. 

bbpplembang cabaiblok1Tahapan pembuatan cabai rawit blok meliputi: persiapan alat, sortasi dan pencucian, penggilingan, pengeringan awal, pencampuran, pencetakan blok, pengeringan dan pengemasan. Sortasi bahan dimaksudkan untuk memilah cabai yang berkualitas baik dan rusak.  Pencucian dimaksudkan untuk membersihkan kotoran yang melekat pada cabai baik yang berasal dari  tanah, udara dan bahan kimia seperti pestisida. Setelah dilakukan pencucian lalu cabai rawit ditiriskan untuk kemudian dilanjutkan dengan proses penggilingan. Penggilingan bisa dilakukan dengan menggunakan grinder atau bisa juga menggunakan blender.

bbpplembang cabaiblokTahap selanjutnya yaitu proses pengeringan. Pengeringan dilakukan secara bertahap. Pengeringan awal dimaksudkan untuk mengurangi kadar air cabai sehingga memudahkan dalam proses pencetakan.  Sebelum dilakukan pencetakan dilakukan pencampuran dengan tapioka sebanyak 1-2 %. Tapioka ini berguna sebagai perekat sehingga bentuk cabai blok tidak berubah apabila sudah kering. Cabai blok kemudian dikeringkan selama 15 jam menggunakan cabinet drying dengan suhu 55 oC.  Setelah kering lalu masing-masing cabai rawit blok dikemas menggunakan plastik wrapp untuk kemudian dikemas dalam kemasan sekunder berupa kemasan botol plastik atau mika. Untuk penggunaannya cabai blok bisa ditambahkan ke dalam makanan saat dimasak.

Pengolahan cabai rawit menjadi cabai rawit blok diharapkan menjadi salah satu alternatif pengawetan cabai.  Selain itu juga dapat meningkatkan nilai tambah dari cabai yang harganya sedang turun. Berikut ini adalah perhitungan keuntungan pembuatan cabai rawit blok:

NO

URAIAN

VOLUME

HARGA SATUAN

JUMLAH

Rp

(3 X 4)

1

2

3

4

5

A.

BAHAN

       

1

Cabai Rawit

25 Kg

 

Rp. 20.000

Rp. 500.000

3

Tapioka

     4  Kg

 

Rp. 15.000

Rp    60.000

4

Kemasan primer

1750 bh 

 

Rp.        50

Rp.   87.500

5

Kemasan sekunder

  117 bh

 

Rp.    1500

Rp. 175.500

6

Label kecil

1750 bh 

 

Rp.        50

Rp.   87.500

7

Label besar

  117 bh

 

Rp.      300

Rp.   35.100

8

Listrik

     

Rp. 100.000

JUMLAH

Rp. 1.045.600

B.

PENJUALAN

       
 

Cabai blok

117 bh

 

Rp.  15.000

Rp. 1.755.000

           

C.

KEUNTUNGAN

       
 

B - A

     

Rp.    709.400

Berdasarkan analisa keuntungan yang dibuat dapat dilihat bahwa pengolahan cabai rawit blok menghasilkan keuntungan lebih dari Rp. 700.000.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian. Bimbingan Teknis Teknologi Pascapanen Pengolahan Cabai Merah. 2018.

Rohrig, B. 2013. Hot Peppers. ChemMaters.

Saputro, et.al. 2016. Pembuatan Bubuk Cabai Rawit (Kajian Konsentrasi Kalsium Propionat dan Lama Waktu Perebusan terhadap Kualitas Produk). Jurnal Pangan dan Agroindustri. Universitas Brawijaya Malang.

 

]]>
Estu Hariani, S.TP, MP Fri, 11 Jan 2019 23:19:17 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1391-pembuatan-cabai-rawit-blok-sebagai-alternatif-pengawetan-cabai
Good Agricultural Practices (GAP) Coffee http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1373-good-agricultural-practices-gap-coffee bbpplembang GAPkopi1Indonesia merupakan negara eksportir kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Pada bulan Oktober 2018 kopi dari 11 produsen di Indonesia berhasil memenangkan 23 penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Perancis. Kementerian Pertanian menyatakan saat ini Indonesia sudah memiliki 16 jenis kopi yang dikategorikan sebagai coffee specialty dan memiliki sertifikasi Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai produk berkualitas dan spesifik.

Menurut Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution (Andi, 2018) konsumsi kopi nasional naik cukup pesat dalam lima tahun terakhir yaitu 8,8 persen per tahun namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi yang cenderung stagnan bahkan negatif, rata-rata minus 0,3 persen per tahun. Produktivitas kopi petani kini sekitar 0,53 ton/ha dari total potensi sebesar 2 ton/ha untuk kopi Robusta dan 0,55 ton/ha dari total potensi 1,5 ton/ha untuk kopi Arabika. Oleh karenanya perlu disosialisasikan cara budidaya kopi yang baik (Good Agricultural Practices/GAP Kopi) untuk meningkatkan produktivitas kopi petani.

Produksi Kopi Berkelanjutan

Keberlanjutan sistem produksi kopi meliputi 4 dimensi yaitu: (1) dimensi lingkungan fisik yaitu prinsip keberlanjutan lingkungan meliputi tanah, air dan sumber daya genetik flora & fauna dengan pengelolaan lahan yang berkelanjutan; (2) dimensi ekonomi yaitu petani sebagai salah satu pelaku utama dapat memperoleh pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya, pedagang memperoleh keuntungan yang layak untuk hidup sehari-hari, eksportir mendapat keuntungan yang memadai untuk menjalankan bisnisnya, pabrikan pengolahan maupun penjual minuman kopi juga memperoleh keuntungan yang wajar serta konsumen mampu membayar dengan harga yang wajar; (3) dimensi sosial yaitu keberlanjutan usaha produksi kopi sangat ditentukan oleh faktor sosial antara lain tingkat penerimaan para pelaku aktivitas produksi kopi terhadap suatu masukan ataupun teknologi tertentu; (4) dimensi kesehatan yaitu saat ini kesadaran terhadap kesehatan terus meningkat diantaranya berupa peningkatan kebutuhan bahan pangan dan bahan penyegar yang aman dari logam berat, residu pestisida maupun jamur dan toksin.

Konsepsi produksi kopi berkelanjutan telah diadopsi dalam perdagangan kopi diantaranya melalui sertifikasi: Fairtrade, Organic Coffee, Rainforest Alliance, Bird Friendly, Utz Certified, Common Code for Coffee Community (4 C) dan Coffee And Farmer Equity (CAFE) Practices.

Budidaya Kopi yang Baik

bbpplembang GAPkopiPersyaratan tumbuh tanaman kopi jenis Arabika, Robusta dan Liberika berbeda terutama dalam hal ketinggian tempat, jenis tanah dan lama bulan kering, sedangkan persyaratan tumbuh lainnya relatif hampir sama.  Tanaman kopi Arabika tumbuh baik pada ketinggian tempat 1.000 s.d. 2.000 m dpl, kopi Robusta tumbuh baik pada ketinggian tempat 100 s.d. 600 m dpl sedangkan kopi Liberika tumbuh baik pada ketinggian tempat 0 s.d. 900 m dpl. Tanaman kopi Arabika membutuhkan bulan kering 1-3 bulan sedangkan tanaman kopi Robusta dan Liberika membutuhkan bulan kering sekitar 3 bulan. Tanaman kopi Arabika dan Robusta memerlukan pH tanah 5,5-6,5 sedangkan tanaman kopi Liberika memerlukan pH tanah 4,5-6,5. Lahan di suatu tempat dapat dikategorikan sesuai dengan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kopi: S1 = sangat sesuai (Highly Suitable), S2= sesuai (Suitable), S3= sesuai marjinal (Marginally Suitable) dan N = tidak sesuai (Not Suitable).

Persiapan lahan untuk penanaman kopi meliputi: pembukaan lahan, pengendalian alang-alang, pengaturan jarak tanam dan pengendalian erosi. Kegiatan pembukaan lahan dilakukan dengan pembongkaran pohon-pohon, tunggul beserta perakarannya, pembongkaran tanaman perdu dan pembersihan gulma. Pengendalian alang-alang dapat dilakukan dengan cara manual, cara mekanis, cara kultur teknis dan secara terpadu dengan pengolahan tanah minimum dan penggunaan herbisida. Jarak tanam yang digunakan untuk tanaman kopi Arabika tipe katai 2,0 m x 1,5 m, tipe agak katai 2,5 m x 2,0 m dan tipe jangkung 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m, untuk tanaman kopi Robusta digunakan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 , sedangkan jarak tanam kopi Liberika 3,0 m x 3,0 m atau 4,0 m x 4,0 m. Lubang tanam untuk tanaman kopi dibuat 6 bulan sebelum tanam dengan ukuran 60 cm x 60 cm pada permukaan  dan 40 cm x 40 cm pada bagian dasar dengan kedalaman 60 cm, lubang tanam ditutup 3 bulan sebelum tanam. Pengendalian erosi dilakukan dengan pembuatan rorak untuk lahan dengan kemiringan kurang dari 8% sedangkan untuk lahan dengan kemiringan lebih dari 8% dilakukan pembuatan teras-teras.

Tanaman penaung (glisicidia/cebreng/gamal) merupakan hal yang diperlukan pada pertanaman kopi karena naungan yang terlalu gelap menyebabkan kelembaban tinggi sehingga merangsang berkembangnya hama penggerek buah, sebaliknya bila tanaman kopi tidak memiliki atau kekurangan naungan maka tanaman kopi akan mudah mengalami pembuahan lebat (overbearing) yang menyebabkan tanaman kopi akan cepat mengering terutama saat musim kering. Tanaman penaung sementara digunakan untuk tanaman kopi yang belum menghasilkan dan ditanam sebelum penanaman kopi, biasanya digunakan tanaman yang pertumbuhannya cepat misalnya Crotalaria sp. Tanaman penaung tetap harus dipilih yang tahan terhadap pangkasan misalnya lamtoro atau sengon karena pada saat hujan lebat naungan harus dipangkas untuk memacu pembungaan kopi. Populasi tanaman penaung tetap dipertahankan sebanyak 400-600 pohon/ha tergantung kondisi lingkungan setempat.

Pemilihan bahan tanam unggul merupakan langkah penting dalam praktek budidaya kopi yang baik. Pada tanaman kopi bahan tanam dapat berupa varietas (diperbanyak secara generatif) dan berupa klon (diperbanyak secara vegetatif). Pada daerah yang endemik nematoda parasit dapat dipakai benih sambungan dengan batang bawah klon BP 308 yang tahan nematoda. Varietas unggul kopi Arabika adalah : AB 3, USDA 762, S 795, Kartika 1, Kartika 2, Andungsari 1 (AS 1), Sigarar Utang, Gayo 1, Gayo 2 dan Andungsari2-klon (AS 2K). Penanaman kopi Robusta sebaiknya dilakukan secara poliklonal 3-4 klon kopi Robusta unggul karena kopi Robusta umumnya menyerbuk silang. Klon kopi Robusta unggul yaitu : BP 42, BP 234, BP 358, BP 409, BP 436, BP 534, BP 920, BP 936, BP 939 dan SA 237. Kebutuhan benih kopi untuk 1 ha dengan jarak tanam 2,0 m x 2,0 m adalah 2.500 benih, jarak tanam 3,0 m x 1,5 m memerlukan 2.200 benih dan 1.600 benih untuk jarak tanam 2,5 m x 2,5 m.

Benih kopi ditanam setelah pohon penaung berfungsi baik dengan kriteria intensitas cahaya yang diteruskan 30-50% dari cahaya langsung. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, hindari penanaman pada waktu panas terik. Tanaman yang mati segera dilakukan penyulaman selama musim hujan.

Pemupukan memperbaiki kondisi dan daya tahan tanaman kopi terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim seperti kekeringan dan pembuahan terlalu lebat (overbearing) selain itu meningkatkan produksi dan mutu hasil serta mempertahankan stabilitas produksi yang tinggi. Kebutuhan pupuk dapat berbeda-beda antar lokasi, stadia pertumbuhan tanaman/umur dan varietas. Pelaksanaan pemupukan harus tepat waktu, tepat jenis, tepat dosis dan tepat cara pemberian. Dosis aplikasi pupuk organik yaitu 10-20 kg/pohon/tahun dan diberikan saat persiapan pembuatan lubang tanam. Pupuk anorganik diberikan dua kali setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan.

Pemangkasan merupakan salah satu tindakan kultur teknis yang secara teratur dilakukan agar tanaman kopi tumbuh sehat dan produktif. Pemangkasan adalah kegiatan pemotongan bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, seperti cabang yang telah tua, cabang kering dan cabang-cabang lain yang tidak berguna. Saat ini di Indonesia menerapkan sistem pemangkasan batang tunggal. Pangkasan bentuk dilakukan saat tanaman muda berumur 1-2 tahun yang belum menghasilkan sedangkan pangkasan lewat panen/pemeliharaan bertujuan mempertahankan keseimbangan kerangka tanaman yang diperoleh dari pangkasan bentuk dengan cara menghilangkan cabang-cabang tidak produktif.

Hama yang umumnya menyerang tanaman kopi antara lain penggerek buah kopi (Hypothenimus hampei) dan nematoda parasit (Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis) sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah penyakit karat daun (Hemileia vastatrix).  Pengendalian penggerek buah kopi secara kultur teknis dilakukan dengan cara memutus daur hidupnya melalui petik bubuk, lelesan dan racutan dimasukkan ke dalam karung kemudian direndam air panas selama 15 menit, selain itu juga dengan pengaturan tanaman naungan agar tidak terlalu gelap. Penggunaan perangkap, penggunaan tanaman yang masak serentak serta penggunaan parasitosid dan jamur patogen serangga (Beauveria bassiana) juga merupakan upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penggerek buah kopi. Nematoda parasit dikendalikan dengan cara penggunaan batang bawah BP 308 yang tahan terhadap nematoda ini serta pemberian pupuk kandang yang disertai jamur Paecilomyces lilacinus strain 251. Penyakit karat daun dikendalikan dengan menanam varietas kopi yang tahan dan toleran misalnya S 795, USDA 762 dan Andungsari 2K serta memperkuat kebugaran tanaman dengan pemupukan, pemangkasan serta pemberian naungan yang cukup.

Tanaman kopi dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim selama tajuk tanaman kopi belum saling menutup, misalnya dengan tanaman sayuran atau palawija. Tumpangsari dengan tanaman tahunan dapat dilakukan dengan memilih tanaman yang memiliki kanopi tidak terlalu rimbun, bukan inang hama dan penyakit serta tidak menimbulkan pengaruh allelopati, contohnya jeruk, Macadamia, petai dan jengkol. Tanaman kopi juga dapat diintegrasikan dengan ternak yang jenisnya disesuaikan dengan kondisi kebun, misalnya kambing, domba, sapi dan lebah.

Panen dan Pasca Panen

Ukuran kematangan buah kopi ditandai oleh perubahan warna kulit buah menjadi merah. Buah yang telah dipanen harus segera diolah, penundaan waktu pengolahan akan menyebabkan penurunan mutu secara nyata.

Pengolahan buah kopi ada dua cara yaitu pengolahan cara kering dan pengolahan cara basah, perbedaan kedua cara pengolahan tersebut terletak pada adanya penggunaan air yang diperlukan untuk kulit buah maupun pencucian. Pengolahan cara kering ada dua macam yaitu tanpa pemecahan buah dan dengan pemecahan buah. Demikian juga pada pengolahan basah dibedakan dua macam yaitu pengolahan basah giling kering dan pengolahan basah giling basah. Disarankan buah masak yang telah dipanen diolah secara basah agar mutunya lebih baik.

Sumber Pustaka

Andriansyah. 2013. Jenis Pohon Penaung Tanaman Kopi.

http://detiktani.blogspot.co.id/2013/06/jenis-pohon-penaung-tanaman-kopi.html

Andi Donnal Putra. 2018. Produksi Kopi Indonesia Belum Maksimal.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/08/125051626/produksi-kopi-indonesia-belum-maksimal

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kopi yang Baik (GAP on Coffee).

Kementerian Pertanian. Jakarta.

Ismuha El Bustany. 2016. Naungan Tanaman Kopi.

http://budidayakopiarabika.blogspot.co.id/2016/05/naungan-tanaman-kopi.html

Pudji Rahardjo. 2013. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta. Penebar

Swadaya. Jakarta.

Wikipedia. 2018. Kopi di Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Kopi_di_Indonesia

   

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Mon, 17 Dec 2018 23:48:16 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1373-good-agricultural-practices-gap-coffee
Budidaya Buah Naga http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1369-budidaya-buah-naga bbpplembang budidaya naga2Buah naga mulai populer di Indonesia sejak tahun 2000 dan banyak digemari masyarakat karena rasanya yang asam manis dan segar. Selain itu buah naga memiliki banyak kandungan nutrisi yang memiliki beragam manfaat bagi kesehatan manusia diantaranya  mengurangi kolesterol, menstabilkan tekanan darah, memelihara kecantikan kulit serta menjaga kesehatan ginjal dan jantung. Buah naga selain dimakan sebagai buah segar juga dapat dibuat jus, selai dan olahan makanan lainnya.

Jenis buah naga yang beredar di Indonesia biasanya adalah buah naga dengan warna kulit buah merah yang berdaging putih (Hylocereus undatus) dan yang berdaging merah (Hylocereus polyrhizus). Agribisnis buah naga cukup menjanjikan karena buah ini cepat berproduksi  yaitu sekitar satu tahun setelah tanam dan bisa panen sepanjang tahun.

Syarat Tumbuh

Tanaman buah naga merupakan jenis kaktus yang  cocok tumbuh di wilayah tropis dan mudah beradaptasi pada berbagai lingkungan tumbuh dan perubahan cuaca. Namun pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan lebih baik bila ditanam di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-350 meter di atas permukaan laut. Untuk di dataran tinggi seperti di Lembang, dapat tumbuh dan berbuah namun waktu untuk sampai berbuah pertama lebih panjang dibandingkan di dataran rendah. Suhu udara antara 26-36o C dan kelembaban 70-90%, pH yang diinginkan tanaman ini 5,5-7. Tanaman ini tidak tahan genangan air.

Persiapan Bibit

Tanaman buah naga biasanya diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang karena lebih mudah dilakukan dan waktu untuk berproduksi lebih cepat. Stek batang diambil dari tanaman induk varietas unggul yang sehat, bebas hama dan penyakit, produktivitasnya tinggi dan sudah pernah berbuah setidaknya 2-3 kali. Panjang batang tanaman biasanya sekitar 90-120 cm,  potong batang dengan panjang 20-30 cm dengan minimal satu mata tunas, bagian ujung atas dipotong rata sedangkan ujung bawah dipotong miring/runcing. Setelah dipotong stek dikeringanginkan, setelah kering pangkal stek dicelupkan selama 2-3 detik pada Rootone F (hormon untuk mempercepat pertumbuhan akar) lalu semai pada bedeng pembibitan atau polibag yang sudah berisi media tumbuh. Bila perakaran sudah kuat dan tunas sudah tumbuh dengan baik (tinggi 40-50 cm) bibit sudah dapat ditanam di kebun.

Penanaman

bbpplembang budidaya nagaSebelum bibit ditanam, terlebih dahulu harus disiapkan tiang panjatan tanaman, bisa menggunakan kayu atau bambu, tanaman (misalnya kedondong pagar) atau tiang beton dengan ketinggian sekitar 2-2,5 m ditanam ke dalam tanah sekitar 0,5 m, dengan jarak antar tiang dalam barisan 2-2,5 m dan antar barisan 3-4 m, pada bagian atas dipasang lingkaran dengan diameter 40-50 cm. Selanjutnya buat lubang tanam sesuai dengan ukuran bibit di sekitar tiang, biasanya dibuat 4 lubang tanam pada setiap tiang yang diberi pupuk kandang sekitar 5-10 kg dan NPK 100 g ditambah dengan pasir 1 bagian per lubang tanam. Lalu bibit ditanam dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang. Setelah ditanam, ikat bibit tersebut sehingga menempel pada tiang.

Pemeliharaan

Pengaturan letak dan cabang bertujuan agar pertumbuhan tanaman menjadi normal dan membentuk payung yang baik. Pengikatan cabang dilakukan saat panjangnya 21-25 cm dengan bentuk ikatan berupa angka 8, sebaiknya ikatan tidak terlalu kencang agar cabang atau batang tidak terjepit atau patah.

Penyiraman bisa dilakukan dengan mengalirkan air pada parit/saluran air di sekitar barisan tanaman, parit dibuat dengan kedalaman 20 cm dan lebar 20 cm, jarak tanaman dengan parit 20-40 cm. Penyiraman dilakukan dengan merendam parit selama sekitar 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Frekuensi penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi tanah dan keadaan cuaca. Penyiraman bisa dikurangi atau bahkan dihentikan setelah tanaman berbunga dan berbuah.

Pemupukan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg pupuk kandang dan 100 g NPK per lubang tanam. Pemberian pupuk tambahan berupa pupuk cair dapat diberikan untuk memaksimalkan hasil.

Pemangkasan batang pokok buah naga dilakukan agar tanaman memiliki batang utama yang kuat dan mampu menopang cabang dan buah, caranya dengan memilih batang yang paling kuat dan kokoh lalu memotong tunas yang tumbuh di bawah batang ini. Setelah itu dilakukan pemangkasan cabang dengan memilih 3-4 cabang terbaik untuk memaksimalkan kualitas buah. Pemangkasan terakhir merupakan pemangkasan dengan tujuan untuk meremajakan cabang, caranya dengan memotong cabang yang sudah berbuah 3-4 kali karena sudah tidak terlalu produktif. Bekas potongan ini bisa digunakan sebagai bibit.

Hama yang sering menyerang tanaman buah naga adalah kutu putih yang gejala serangannya terdapat lapisan lilin berwarna putih, untuk mengendalikan hama ini cukup lakukan penyemprotan insektisida Omite seminggu sekali dengan memperhatikan jumlah tanaman yang terserang. Hama bekicot sangat merugikan karena tunas tanaman menjadi rusak digerogoti sehingga sering tunas tersebut menjadi busuk. Bekicot juga suka memakan cabang-cabang yang masih muda dan menggerogoti kulit buah sehingga buah menjadi rusak. Bekicot dikendalikan dengan memperhatikan sanitasi kebun karena gulma merupakan sarang bekicot untuk berkembang biak.

Penyakit yang sering menyerang tanaman buah naga adalah busuk pangkal batang dengan gejala pangkal batang yang mengalami pembusukan menjadi berwarna kecoklatan dan lembek dan biasanya terdapat bercak putih miselium jamur, diatasi dengan penyemprotan pangkal batang dengan fungisida seperti Dithane atau Antracol. Penyakit lain yang sering menyerang adalah Fusarium oxysporum Schl dengan gejala batang atau cabang menjadi layu, busuk kering dan berwarna coklat. Bila bagian yang terserang tidak terlalu meluas bisa dilakukan pemangkasan batang atau cabang yang terserang dan dilakukan sanitasi lingkungan, drainase yang baik dan pemangkasan sulur-sulur cabang yang tidak teratur. Pengendalian secara kimiawi dengan fungsida Benlate atau Derosal seminggu sekali.

Pada cabang-cabang produksi bunga yang tumbuh harus diseleksi sehingga dapat tumbuh secara optimal, setiap cabang produksi disisakan 3-5 kuntum bunga dengan jarak antar kuntum bunga 25-30 cm. Sebaiknya dilakukan penyemprotan pupuk daun dengan kandungan P tinggi pada saat masa pertumbuhan generatif. Selain itu pada buah naga jenis Hylocereus polyrhizus penyerbukan akan lebih optimal dengan bantuan manusia dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam bunga yang sedang mekar sempurna dan diputar perlahan-lahan untuk membantu penyerbukan.

Panen dan Pasca Panen

bbpplembang budidaya naga1Tanaman buah naga akan berbuah bila sudah berumur 1-2 tahun dan umur produktifnya sekitar 20 tahun. Masa panen buah naga di Indonesia umumnya pada bulan November sampai April. Pada tahun pertama berbuah tanaman dapat menghasilkan buah naga 6-7 ton/ha per masa panen, tahun berikutnya bisa meningkat dua kali lipat bahkan bisa lebih.

Panen buah naga dapat dilakukan bila buahnya berwarna merah mengkilap, jumbai atau sisik berubah warna dari hijau menjadi kemerahan. Panen dapat dilakukan dengan menggunakan gunting tajam dan pengguntingan tangkai buah dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada buah dan tanaman.

Setelah panen dilakukan sortasi untuk memisahkan buah yang layak dan tidak layak untuk dipasarkan (busuk, terserang penyakit, cacat, terlalu tua/muda dan lain-lain). Selanjutnya dilakukan grading (klasifikasi) sesuai dengan permintaan konsumen. Buah naga setelah dipanen dapat disimpan selama 1-2 minggu pada suhu 20o C atau 14o C.

 

Daftar Pustaka

Anonim. Panduan Teknis Budidaya Buah Naga. https://alamtani.com/budidaya-buah-naga/

Caca Sugiarto. 18 Hama dan Penyakit Buah Naga Menurut IPB + Cara Mengatasi. https://erakini.com/hama-dan-penyakit-buah-naga/

Emil S. 2011. Untung Berlipat dari Bisnis Buah Naga Unggul. Lily Publisher. Yogyakarta.

 

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Thu, 29 Nov 2018 00:10:54 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1369-budidaya-buah-naga
Residu Pestisida pada Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT) http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1374-residu-pestisida-pada-produk-segar-asal-tumbuhan-psat bbpplembang PSATKeamanan pangan menjadi isu dunia yang memerlukan peran dan kepedulian pemerintah dalam rangka menjamin kesehatan masyarakat. Keamanan pangan selalu menjadi pertimbangan pokok dalam perdagangan, baik perdagangan nasional maupun perdagangan internasional.  Beberapa kegiatan yang mendukung ketersediaan bahan pangan adalah penanaman tanaman pangan,  buah-buahan dan sayuran yang ditanam oleh petani.  Sebagian besar target penanaman tersebut adalah peningkatan produksi sehingga  selalu mendapat perhatian terutama  kualitas hasil dari produk pertanian  agar harganya tidak anjlok ketika dijual di pasaran. Salah satunya adalah dengan memberikan bahan-bahan kimia yang terbungkus dengan nama pestisida dan pupuk.    

Pestisida bahan kimia untuk membunuh hama dan penyakit yang mengganggu pertumbuhan tanaman seperti serangga pemakan daun (ulat), serangga penghisap cairan tanaman maupun makhluk hidup super kecil seperti jamur, bakteri atau virus yang dapat mengganggu bahkan mematikan tanaman. Bahan  kimia tesebut tentu saja dapat kita sebut sebagai racun.  Pestisida yang disemprotkan  pada tanaman tentu saja akan terserap ke dalam jaringan tanaman melalui akar dan daun. Bahan kimia dari pestisida tersebut akan mengendap dalam tanaman yang disebut residu. Residu dari pestisida tentu saja akan terbawa pada hasil panen. Dalam jangka pendek, dampak negatif dari residu pestisida tentu tidak meninggalkan dampak negatif bagi tubuh kita, namun dalam jangka panjangnya mampu menimbulkan gangguan kesehatan seperti kerusakan ginjal, gangguan syaraf, metabolisme enzim hingga menggangu kesuburan dan gangguan janin.Sehingga kepentingan keamanan pangan masih menjadi kebutuhan kedua jika dibandingkan dengan peningkatan produksi produk pertanian.

Berbeda dengan bahaya cemaran biologi yang dapat terdeteksi dalam waktu singkat misalnya diare, bahaya cemaran kimia baru dapat dirasakan beberapa tahun kemudian. Residu pestisida yang tersisa pada produk pertanian dan kemudian terkonsumsi ke dalam tubuh manusia, memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan hal tersebut. Bolognesi dan Merlo (2011) memperlihatkan hubungan antara residu pestisida dengan penyakit yang sekarang ini banyak berkembang, di antaranya adalah leukemia, lymphomas, parkinson, kanker usus, dan keterbelakangan mental serta adanya korelasi positif antara orangtua yang terpapar pestisida dengan anak penderita kanker. Studi epidemiologi membuktikan bahwa beberapa bahan aktif pestisida seperti organoklorin dan sulfalat bersifat karsinogenik, sedangkan bahan aktif lain seperti DDT, klordan dan lindan bersifat sebagai pemicu tumor (Dich et al, 1997). International Agency for Research on Cancer (1994) juga menyatakan bahwa komponen arsenik dan insektisida bersifat  karsinogenik, artinya komponen tersebut berpotensi menimbulkan penyakit kanker.  Dampak dari residu pestisida terhadap kesehatan seseorang baru dapat diketahui dalam jangka panjang, apabila residu pestisida terkonsumsi secara terus menerus. Meskipun demikian, beberapa penanganan dapat dilakukan untuk mengurangi kadar residu pestisida pada produk pangan. Menurut Wibowo (2005), tingkat residu pestisida pada pangan segar dapat dikendalikan dan minimalkan dengan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan penanganan pasca panen berupa pencucian. Namun demikian, PHT belum sepenuhnya diaplikasikan oleh para petani di Indonesia.   Beberapa perlakuan ini dapat mengurangi kandungan pestisida pada buah dan sayur,  adapun  caranya adalah  sebagai berikut:

Mencuci Sayuran / Buah

Mencuci buah  dan sayur dengan menggunakan air bersih dan mengalir diduga dapat mengurangi residu pestisidanya, namun cara mencucinya perlu ada perlakuan khusus.  Pertama bisa mencuci dengan air mengalir, dilanjutkan dengan merendam dengan air selama minimal 30 menit. Setelah direndam, ulangi mencuci dengan air mengalir sebelum dimakan/ dimasukkan ke dalam lemari es.

Rendam dengan air garam

Merendam buah dan sayuran dalam air garam dapat membantu menyingkirkan kotoran bersama dengan bahan kimia dan pestisida. Hal ini karena garam ampuh membunuh bakteri dan mahluk lainnya seperti ulat.

Baking Soda

Menggunakan Baking soda sebagai bahan pencuci merupakan cara yang efektif untuk mengurangi residu pestisida menurut para ahli. Mencuci dengan air plus larutan baking soda berkonsentrasi satu persen akan menghilangkan 80 persen thiabendazol (bahan aktif pestisida) dan 96 persen phosmet.

Dipanaskan

Memanaskan buah dan sayur pada suhu ekstrem efektif menyingkirkan bahan kimia dan pestisida.

Caranya, rebus air terlebih dahulu, rendam buah atau sayur dalam air ini selama 15 detik sampai 1 menit. Setelah itu, pindahkan buah atau sayur yang telah direbus ke mangkuk berisi air es. Dengan cara ini, kotoran akan lepas.

Rendam dalam larutan asam lemon

Lemon  yang dicampur dalam air menghasilkan larutan antimikroba. Dengan begitu, larutan ini akan menghancurkan kuman dan bakteri yang ada pada buah dan sayuran.Buatlah  jus dari setengah lemon untuk menyingkirkan kuman ini.

Menyikat buah dari lapisan lilin

Buah terutama apel lazim mengandung lapisan lilin di kulitnya.Cara terbaik untuk  mengetahui ada tidaknya lapisan lilin adalah dengan menyikat atau menggaruk kulit buah menggunakan pisau atau bahkan kuku Anda.

Merendam dengan asam sitrat

Buatlah larutan asam sitrat dengan melarutkan 1 sendok teh asam sitrat kedalam 1liter air kemudian rendam buah atau sayur selama 10 menit  untuk mematikan bakteri dalam sayur dan buah.

Rendam dengan air kunyit

Kunyit adalah bumbu yang biasa digunakan masyarakat India di masa lalu untuk menyingkirkan kotoran dan bakteri dari makanan. Tuangkan 1 sendok teh kunyit di air, lalu rendamlah buah dan sayuran dalam larutan ini.

Gunakan cuka putih

Cara ini mengharuskan Anda menakar 10 persen cuka dan 90 persen air. Setelah campuran siap, biarkan buah dan sayuran terendam dalam larutan ini selama 15-20 menit. Setelah itu, bilas. Cuka bisa mengurangi residu pestisida. Namun, tidak akan menyingkirkan secara tuntas. Untuk informasi, jangan rendam buah yang memiliki tekstur lembut seperti buah beri ke dalam larutan cuka karna akan menimbulkan kerusakan  dan menyerap pada buah beri.

Mengupas Buah

Jika ada yang berpendapat bahwa memakan buah beserta kulitnya terkecuali buah durian merupakan cara yang sehat, maka sepertinya sudah tidak berlaku di zaman now deh….mengupas kulit adalah cara sehat untuk menyantap buah-buahan. Kulit buah ditengarai sebagai tempat menumpuknya residu pestisida. Mengupas kulit juga dapat membuang lapisan lilin pelindung buah pada apel agar buah lebih tahan lama.Mengupas kulit apel dipercaya mampu mengurangi residu pestisida (sumber: gulalives.com)

Memilih Sayuran Berlubang

Secara logika  sayuran berlobang disukai ulat sehingga  diharapkan pestisida pada sayuran tersebut berkurang. Kadang kita melihat sayuran seperti kol dan sawi yang berlubang seperti ada ulatnya, maka percayalah sayuran tersebut aman dari residu pestisida. Logikanya, jika tanaman tersebut terpapar pestisida, maka kodisi sayuran akan mulus (bukan berlubang). Dengan cara mencuci saja (menghindari termakannya telur ulat) maka sayuran sudah bisa disantap kok. 

Memilih cara Budidaya

Untuk menghasilkan sayuran yang bebas pestisida, cobalah memilih produsen/petani yang membudidayakan  tanaman secara sehat, jangan hanya membeli di pasar. Budidaya sayuran secara hidroponik sudah banyak dilakukan dibeberapa wilayah seperti Bandung, Lembang, Bogor dan beberapa kota besar kita dapat membeli hasil panennya tentunya dengan harga yang lebih tinggi. Tanaman hidroponik itu non pestisida dalam pembudidayaannya sehingga sehat untuk dimakan.  Tanaman hidroponik aman dari pestisida (Sumber: merdeka.com).

Diharapkan dengan adanya cara-cara sederhana mengenai mengurangi residu pestisida pada pangan segar asal tumbuhan dapat diaplikasikan secara sederhana di kehidupan sehari-hari secara skala rumah tangga tani dan mulai memperhatikan penggunaan pestisida pada kegiatan budidaya tanaman. Sehingga bahaya-bahaya kimia akibat cemaran pestisida dapat dicegah sedini mungkin dan menumbuhkan  minat untuk memperhatikan keamanan  pangan  dalam sendi kehidupannya. 

Daftar Pustaka

Organic Consumers Association. "Italian Law Calls for All Organic Foods in Nation's Schools". Diakses tanggal 2013-06-21.

Office of Global Analysis, FAS, USDA. "Cuba's Food & Agriculture Situation Report"(PDF). Diakses tanggal 2008-09-04

Sukandar, Dadang; Baliwati, Yayuk Farida; Suhardianto, Anang (2007). "Ketahanan pangan rumah tangga petani penghasil beras organik"(PDF). Jurnal Gizi dan Pangan.

]]>
Ir. Saptoningsih, MP Wed, 03 Oct 2018 00:08:27 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1374-residu-pestisida-pada-produk-segar-asal-tumbuhan-psat
Budidaya Selada Romaine melalui Teknik Penanaman Aeroponik http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1295-budidaya-selada-romaine-melalui-teknik-penanaman-aeroponik bbpplembang romaine aeroponikSelada Romaine (Lactuca sativaL. var.longifolia) adalah salah satu jenis selada yang  memiliki ciri-ciri daun berwarna hijau gelap yang kokoh dan tinggi dengan rusuk yang kuat di tengah cabang. Seperti sayuran hijau gelap lainnya, antioksidan yang ditemukan dalam selada Romaine diyakini dapat membantu mencegah kanker. Selain itu, tanaman selada ini memiliki kandungan vitamin C, kalsium, dan potassium yang cukup tinggi yang bermanfaat bagi tubuh (Wikipedia, 2018).

Selada Romaine dapat dibudidayakan baik secara konvensional maupun hidroponik. Salah satu teknik yang digunakan dalam budidaya  selada Romaine secara hidroponik adalah teknik aeroponik, di mana teknik aeroponik merupakan teknik hidroponik yang penyuplaian air dan hara esensialnya berupa kabut  yang  disemprotkan pada akar-akar tanaman (Nickols, 2002  dalam  Jones, 2005). Didalam teknik aeroponik, terdapat dua media tanam yang dapat digunakan pada proses penyemaiannya, yaitu media sekam atau rockwool.

Proses pertama yaitu proses penyemaian. Jika menggunakan sekam, maka sekam dimasukkan ke dalam tray terlebih dahulu. Kemudian disiram sampai sekam tersebut jenuh.Tahap selanjutnya adalah menanam benih ke dalam sekam tersebut dan dibiarkan selama 7 hari di dalam ruang gelap atau tanpa terpapar sinar matahari. Setelah 7 hari, benih dipaparkan pada sinar matahari selama seminggu atau sampai benih berukuran ± 10 cm. Setelah benih berukuran 10 cm, akar benih dibersihkan dengan menggunakan air. Tahap selanjutnya adalah akar benih dililitkan dengan rockwool agar batang dapat ditegakkan ke dalam papan sterofoam pada instalasi aeroponik.

Selain menggunakan sekam, benih dapat disemai menggunakan media rockwool. Potong rockwool seperti dadu dengan ukuran ± 2,5 x 2,5 cm. Lalu diletakkan di dalam baki dan rockwool tersebut disiram dengan air sampai agak basah. Selanjutnya di tengah rockwool diletakkan benih di manasetiap 1 rockwool dibuat 1 lubang dan dimasukkan 1 benih. Setelah itu baki yang berisi rockwool dan benih diletakkan di dalam ruang gelap atau tanpa terpapar sinar matahari. Setelah 7 hari, benih dipaparkan pada sinar matahari selama seminggu atau sampai benih berukuran ± 10 cm. Kemudian benih yang telah mencapai tinggi 10 cm dipindahkan ke dalam papan sterofoam pada instalasi aeroponik. Adapun nilai EC pada TDS meter yang dianjurkan untuk selada Romaine adalah 1-1,5.

Pada umumnya penyakit dan hama yang sering menyerang pada saat budidaya selada Romaine dengan metode aeroponik adalah busuk daun dan kutu daun. Busuk  daun dapat diatasi dengan fungisida. Salah satu merek fungisida yang digunakan untuk membasmi busuk daun adalah anthraxol  dengan dosis pemberian adalah 1 gram per liter air. Sedangkan hama kutu daun dapat diatasi dengan insektisida dengan merek abuki dengan dosis pemberian adalah 1 ml per liter air.

Setelah 40-45 hari, tanaman selada Romaine dapat dipanen. Caranya adalah dengan menggunakan bantuan alat pemotong cutter. Selada dipotong di pangkal batang tanaman, kemudian dibuang daun yang dikira tidak layak untuk dilihat atau dikonsumsi, seperti daun berwarna hijau muda, mekar, dan terdapat bintik hitam atau coklat. Selanjutnya selada diletakkan di atas container yang telah dilapisi koran untuk diantar ke pengepul.

DAFTAR PUSTAKA

Jones,  J.  B.  2005.  Hydroponics:  A  Practical  Guide  for  The  Soilless  Grower.Second Edition.USA :CRC Press.

Wikipedia. 2018. Romaine Lettuce. https://en.wikipedia.org/wiki/Romaine_lettuce.[2 Juli 2018].

]]>
Bayu Sumantri, SE, M.Si Wed, 04 Jul 2018 16:38:00 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1295-budidaya-selada-romaine-melalui-teknik-penanaman-aeroponik
Penyampaian Pesan Penyuluhan Pertanian dengan Ceramah, Diskusi, dan Brainstorming http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1243-penyampaian-pesan-penyuluhan-pertanian-dengan-ceramah-diskusi-dan-brainstorming bbpplembang panen cianjur1Penyampaian penyuluhan pertanian yang baik harus sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Penyampaian pesan penyuluhan pertanian yang sering dilakukan oleh penyuluh pertanian di lapangan karena adanya keterbatasan dana atau biaya. Penyuluh sering menggunakan satu atau dua metode penyuluhan yaitu ceramah dan diskusi dimana pesan dapat disampaikan namun hasilnya kurang maksimal karena sasaran/petani akan merasa bosan bahkan kreativitasnya tidak muncul.  Dari 2 metode yang sering dilakukan ada metode yang sangat berdekatan yaitu brainstorming atau curah gagasan. Dengan menggabungkan ketiga metode penyuluhan pertanian tersebut, yaitu ceramah, diskusi dan brainstorming, maka dapat membangun semangat petani mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian.

Penyuluhan  pertanian, yaitu suatu proses pendidikan dengan tujuan mengubah pengetahuan, keterampilan, dan perilaku masyarakat, belajar sambil bekerja dan percaya dengan apa yang dilihatnya dan merupakan pendidikan yang berkelanjutan (Ensminger, 1962).

Proses belajar yaitu tidak berhenti setelah tamat sekolah. Apa yang kita pikirkan dan lakukan dimasa lalu, saat sekarang dan yang kita rencanakan untuk masa mendatang menunjukkan terjadinya proses belajar.

Proses belajar mengajar orang dewasa adalah pemberian stimulasi dan motivasi, diharapkan nantinya melalui proses tersebut akan terjadi adopsi terhadap materi pembelajaran dalam penyuluhan yang diberikan. Agar stimulasi dan motivasi dapat diadopsi ada beberapa hal yang harus diamati dan dicermati yaitu melalui metode brainstorming, bagaiamana teknik penyelesaian masalah  yang dapat digunakan, baik secara individu maupun kelompok. Ada beberapa hal yang harus di perhatikan oleh penyuluh pertanian, agar brainstorming  menghasilkan gagasan baru dari sasaran penyuluhan yaitu:

a). Penyuluh Pertanian sebagai Komunikator, yaitu sejauh mana komunikator mampu menyampaikan stimulasi dan motivasi sebagai sasaran yang dapat menerima dan hal tersebut merupakan kebutuhan dari sasaran

b). Isi Pesan, yaitu sesuatu yang dapat menyentuh sasaran, dan menimbulkan hal-hal baru yang dapat dikembangkan

c). Media, yaitu melalui apa pesan tersebut disampaikan sehingga secara efektif dapat diterima, misalnya dengan menggunakan gambar, foto atau film yang menarik, menimbulkan semangat dan motivasi.

d). Metode, yaitu pesan yang dapat diterima dengan baik bila dilakukan dengan cara yang tepat.  Rakitan metode yang tepat maka penyampaian pesan akan efektif, diantaranya dengan ceramah, diskusi, dan brainstorming yang sering dilakukan oleh penyuluh pertanian dalam kegiatan proses pembelajaran dan kegiatan penyuluhan di lapangan.

e). Sasaran,  yaitu setiap kelompok sasaran mempunyai karakteristik yang berbeda. Analisa sasaran merupakan kunci dalam penyampaian stimulasi dan motivasi. Sasaran dalam penyuluhan yaitu pelaku utama (petani dan keluarganya), dan pelaku usaha (petani dalam usaha di bidang agribisnis).

Ada 4 tujuan dari  brainstorming yaitu:

  1. Menghasilkan banyak gagasan dengan cepat
  2. Mendorong kreativitas dan pemikiran sampingan
  3. Melibatkan  seluruh kelompok
  4. Membuktikan bahwa orang yang bekerja secara bersama-sama dapat mencapai sukses lebih dari pada seorang diri

Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, dengan menyajikan topik  baik teknis maupun non teknis, biasanya diawali dengan ceramah, kemudian menanyakan sesuatu pada petani, “apa ada pertanyaan?”, “ada yang tidak jelas atau kita praktik saja”. Ini kegiatan penyuluhan katagori standar, jarang diminta adanya sumbang saran atau curah pendapat tentang materi yang sedang dibahas dan praktik atau demonstrasi cara yang akan dilakukan. Kegiatan penyuluhan dengan 3 metode dalam penyuluhan, lebih baik dan lebih berkesan pada petani yang mengikuti penyuluhan. Dalam praktiknya, brainstorming, apabila saat menyajikan dengan menggunakan media penyuluhan seperti gambar, film, dan menggunakan benda, lakukan dengan menanyakan “apa yang anda perhatikan?”, “apa yang ada dalam benak anda?", berikan  umpan balik, buat komentar-komentar tentang topik yang dibahas, sisipkan lelucon-lelucon yang menarik mengarah kepada topik  yang dibahas. Apabila curah pendapat sudah selesai, buat katagori gagasan-gagasan tersebut, buat keputusan, dan pilih yang tepat gagasan tersebut. Kunci keberhasilan dari branstorming yaitu penyuluh pertanian/fasilitator sebagai pemegang kendali, dam pemberi motivasi dalam menghasilkan gagasan-gagasan. Suasana dalam curah pendapat yaitu: Harus menyenangkan, humor, dan suasana hati yang ringan sehingga dapat meningkatkan kreativitas, dan toleran terhadap gagasan-gagasan gila dan catatan yang lucu.

Kegagalan brainstorming  diantaranya, yaitu:

  1. Tidak ada saling ketergantungan.
  2. Tidak menggunakan  gagasan-gagasan yang membangun.
  3. Kurang keahlian secara teknis.
  4. Kurang keterampilan yang melengkapi peserta lain.
  5. Kurang ahli dalam menuangkan curah pendapat.b
  6. Kurang keahlian dalam memimpin sesi curah pendapat.

Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, janganlah menggunakan hanya satu atau dua metode, akan meninggalkan kesan membosankan tapi gunakan beberapa metode yang divariasikan minimal tiga metode penyuluhan yaitu, ceramah, diskusi dan brainstorming tentang topik yang sedang dibahas dalam penyuluhan.

 

]]>
Ir. Muharja Hasan, MP Fri, 23 Mar 2018 18:14:49 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1243-penyampaian-pesan-penyuluhan-pertanian-dengan-ceramah-diskusi-dan-brainstorming
Pertanian Organik di Tolikara, Papua http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1244-pertanian-organik-di-tolikara-papua bbpplembang pertaniantolikaraPertanian di Indonesia telah mencapai kemajuan yang sangat pesat, khususnya tanaman Hortikultura. Kabupaten Tolikara-Provinsi Papua sangat berdekatan dengan Kabupaten Wamena, merupakan kabupaten yang baru tumbuh kurang lebih 15 tahun, dengan jumlah penduduk kurang lebih 125.000 jiwa (BPS, 2013). Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, dan jumlah penyuluh pertanian honorer daerah sebanyak 50 orang.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pengembangan pertanian nasional, diarahkan kepada peningkatan produksi tanaman, yaitu pangan, perkebunan, dan hortikultura. Produktivitas berbagai jenis tanaman pangan memperlihatkan peningkatan yang mengagumkan, namun juga diikuti dengan peningkatan pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Meningkatnya harga pupuk kimia dan pestisida, serta kurangnya sarana transportasi di daerah-daerah pertanian secara nyata dapat meningkatkan ongkos produksi. Pemakaian pupuk kimia dan pestisida secara kontinyu dan dalam dosis tinggi dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah, peningkatan pertumbuhan patogen, timbulnya gejala keracunan mineral pada tanaman, serta penurunan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Di Kabupaten Tolikara, khususnya tanaman hortikultura yang ditanam oleh  petani setempat di Distrik Bokodini, komoditas unggulan seperti sayuran, nanas, kopi dan buah merah, tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Tanaman tersebut organic dan sangat aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Namun karena sulitnya transportasi dan mahal maka belum dapat meningkatkan pendapatan petani secara optimal. Pemerintah daerah melarang penggunaan pupuk kimia kecuali pupuk organik dan pestisida alami untuk menjaga kualitas produksi yang dihasilkan.

            Dalam usaha meningkatkan produksi dan kualitas tanaman dewasa ini, ahli pertanian mulai memperhatikan penerapan konsep-konsep pengendalian hama terpadu, yang mencakup: budidaya tanaman sehat, pelestarian dan pemanfaatan musuh-musuh alam, pengendalian hama non kimiawi dan penggunaan pestisida secara selektif. Hal-hal yang melatarbelakangi pentingnya penerapan pengendalian hama terpadu tersebut adalah semakin seringnya kegagalan panen yang diduga disebabkan oleh ledakan hama dan penyakit serta penurunan kesuburan tanah, hal tersebut dianggap sangat berhubungan erat dengan penanaman jenis sayuran secara monokultur dan penanaman tanaman sejenis secara terus menerus, serta tingginya tingkat pemakaian pupuk kimia dan pestisida.

            Sistem pertanian konvensional yang berdasarkan penggunaan zat-zat kimia telah menimbulkan banyak masalah polusi dan kerusakan sumber daya alam. Selama bertahun-tahun, ahli mikrobiologi dan ekologi mikroorganisme mencoba untuk menggolong-golongkan mikroorganisme tanah kedalam jenis yang menguntungkan atau yang merugikan, tergantung dari fungsi dan bagaimana pengaruhnya terhadap kualitas tanah, pertumbuhan, produksi dan kesehatan tanaman. Atas pertimbangan manfaat mikroorganisme dalam mengurangi masalah-masalah yang berhubungan dengan penggunaan pupuk kimia dan pestisida, sekarang mikroorganisme telah digunakan secara luas dalam pertanian akrab lingkungan dan pertanian organik. Oleh sebab itu Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tolikara melarang penggunaan bahan kimia, baik pupuk maupun pestisida. Semuanya harus organik, namun kepada petani belum banyak diperkenalkan organisme yang dapat menyuburkan tanah, Seperti Efektivitas Mikro Organism (EM) atau sejenisnya, yang dapat digunakan sebagai pemacu atau percepatan dalam pembuatan kompos.

            Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pemanfaatan mikroorganisme untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman, meninjau bagaimana peranan agen hayati dalam meningkatkan produktivitas lahan. Penekanan yang lebih khusus pada mikroorganisme zimogenik dan sintetik yang merupakan tahapan baru dalam perkembangan ilmu agronomi dewasa ini perlu mendapat perhatian untuk dikaji secara lebih mendalam.

            Dalam hal ini produktivitas tanah sangatlah memegang peranan yang penting demi keberhasilan suatu usaha tani, yaitu semakin tinggi suatu produktivitas tanah, semakin tinggi pula hasil panen yang diperoleh dalam usaha tani yang diterapkan. Ahli-ahli pertanian telah menemukan bahwa penambahan bahan organik secara tepat kedalam tanah dapat mencegah erosi tanah, mengurangi kehilangan unsur hara melalui aliran permukaan dan pencucian, serta meningkatkan dan mempertahankan produktivitas dan kesuburan tanah.

          bbpplembang pertaniantolikara1  Penyebab penurunan kesuburan tanah sangatlah beragam dan seringkali merupakan kombinasi dari berbagai faktor penyebab. Dapatlah disimpulkan bahwa penyebab utama dari penurunan produktivitas lahan adalah kurangnya pemahaman petani tentang hubungan sinergis antara mikroorganisme yang menguntungkan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Faktor-faktor penyebab penurunan kesuburan tanah adalah: 1) residu pupuk kimia dan pestisida di dalam tanah; 2) akumulasi zat-zat yang berbahaya dari akar-akar tanaman yang tersisa; 3) akumulasi mikroorganisme yang merugikan di dalam tanah akibat penanaman tanaman sejenis; dan 4) pemberian bahan organik secara tidak tepat.

            Pertanian organik selalu menghindari faktor-faktor yang dapat menurunkan kesuburan tanah. Namun masalah-masalah yang selalu muncul akibat dari penanaman secara terus menerus masih tetap belum terpecahkan walaupun keseluruhannya diterapkan secara organik. Kenyataan di lapangan menunjukkan, ada kalanya tanaman tumbuh sehat walaupun ditanam pada musim yang tidak cocok, dan ada pula tanaman yang ditanam pada lingkungan yang sama sering terserang oleh penyakit dan hama, sedangkan tanaman yang lainnya tumbuh subur. Apabila kita memperhatikan kualitas tanah dimana tanaman tumbuh dengan suburnya, tanah itu pasti mempunyai kualitas air yang baik, tingginya populasi mikroorganisme yang menguntungkan yang bertugas melarutkan unsur hara dan mengendalikan perkembangan mikroorganisme yang merugikan dengan sifat-sifatnya yang khusus. Jenis mikroorganisme yang menguntungkan pertumbuhan tanaman tersebut diistilahkan dengan mikroorganisme zimogenik dan sintetik (zymogenic and synthetic microorganisms).

            Populasi mikroorganisme yang dominan didalam tanah merupakan hal yang sangat menentukan sifat-sifat tanah secara biologis, yang juga merupakan salah satu faktor penentu produktivitas lahan. Ternyata hal ini seringkali terabaikan dalam usaha meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian. Kurangnya penelitian-penelitian yang mengarah kepada pemanfaatan agen hayati untuk meningkatkan produktivitas lahan merupakan bukti dari kurangnya perhatian peneliti terhadap masalah tersebut.

Peran penyuluh pertanian sangat penting untuk memberikan bimbingan kepada petani dan masyarakat tani dalam budidaya tanaman hortikultura secara organik agar dapat dipertahankan, guna keamanan dan keselamatan konsumen dimana lebih sehat mengkonsumsi tanaman organik.

 

]]>
Ir. Muharja Hasan, MP Fri, 16 Mar 2018 19:13:25 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1244-pertanian-organik-di-tolikara-papua
Edible Flowers, Bunga-bunga yang Bisa Dikonsumsi http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1181-edible-flowers-bunga-bunga-yang-bisa-dikonsumsi bbpplembang edibleflowersBunga selain indah dipandang mata, beberapa diantaranya ternyata juga bisa dimakan. Masyarakat di Indonesia sebetulnya telah terbiasa mengkonsumsi bunga, misalnya masyarakat di Jawa Tengah atau Jawa Timur sudah biasa memasukkan bunga turi sebagai salah satu bahan untuk pecel, begitupun etnis atau suku yang lain juga sudah terbiasa menggunakan jantung pisang yang merupakan bunga tanaman pisang, sebagai salah satu bahan masakan. Brokoli dan blumkol (kembang kol) juga merupakan bunga yang populer sebagai sayuran yang umum digunakan oleh masyarakat. Namun selain bunga-bunga yang umum dikonsumsi tersebut, ada juga beberapa bunga indah yang selain bisa menjadi hiasan pada makanan sekaligus juga bisa dikonsumsi.

Memilih Bunga yang Bisa Dikonsumsi

Bunga yang cantik dapat digunakan untuk menghias serta menambah warna, tekstur, aroma dan rasa pada hidangan. Bunga-bunga ini dapat disertakan pada makanan utama, makanan penutup, salad bahkan pada minuman. Tentu saja tidak semua bunga bisa dikonsumsi, untuk mengetahui apakah sekuntum bunga dapat dikonsumsi harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

-      - Pelajari jenis-jenis bunga yang bisa dikonsumsi dari berbagai referensi agar kita yakin dapat mengkonsumsi jenis bunga tertentu karena ada juga bunga yang mengandung racun.

-       - Konsumsilah bunga-bunga yang ditanam sendiri atau kita yakini aman untuk dikonsumsi artinya tidak menggunakan pestisida pada saat budidayanya, jangan gunakan bunga yang dipetik di tepi jalan karena dikhawatirkan sudah terkena polusi atau terkena paparan pestisida.

-     Gunakan bunga yang bersih, segar dan petiklah pada saat pagi di hari kita akan mengkonsumsinya, namun beberapa bunga juga bisa dikonsumsi setelah dikeringkan.

-    Makan kelopaknya saja, buang tangkai bunga, putik dan benang/serbuk sarinya, jangan makan bunga bila kita memiliki penyakit asma atau alergi.

-       Bila kita menderita alergi, mulailah memakan bunga secara bertahap karena dikhawatirkan dapat memperparah alergi kita.

-   Hindari mengkonsumsi bunga-bunga yang dapat mengakibatkan keracunan, diantaranya: hydrangea, daffodil (semacam bunga bakung), azalea, rhododendron, oleander dan bunga pukul empat.

Beberapa Jenis Bunga Cantik yang Biasa Dikonsumsi

 bbpplembang edibleflowers1    a. Mawar

Bunga mawar merupakan salah satu bunga yang paling populer yang bisa dikonsumsi, bunga ini biasanya digunakan dalam selai, jelly atau cake, juga biasa digunakan untuk minuman baik sebagai sirop ataupun teh. Karena kecantikan bunganya, mawar biasa digunakan sebagai hiasan makanan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa bunga mawar kaya akan protein, vitamin dan asam amino. Secara umum jika mawar tersebut wangi maka rasanya akan enak, semakin gelap warna bunganya, rasanya semakin enak. Gunakan hanya mahkota bunganya dan hilangkan pangkal bunganya sebelum dikonsumsi.

b. Pansy

Bunga Pansy memiliki banyak warna dan berbagai macam kombinasinya. Bunga-bunga ini memiliki rasa yang ringan dan segar atau rasa yang sejuk tergantung pada varietasnya. Ingatlah untuk hanya memakan mahkota bunganya dan menghilangkan putik dan benang sari sebelum dimakan. Pansy dapat digunakan untuk menghias koktail, sup dan makanan penutup, selain itu juga dapat digunakan untuk menghias bolu, kue kering atau hidangan penutup seperti puding.

c. Lavender

Bunga cantik ini dapat berwarna biru, ungu muda atau ungu tua.Jenis bunga yang liar kadang-kadang berwarna ungu kehitaman atau ungu kekuningan. Sebagai bunga konsumsi Lavender sebagian besar digunakan sebagai pelengkap salad, hal itu menambah sedikit rasa manis pada hidangan, memberi wangi jeruk. Bunga ini dapat digunakan dalam resep marshmallows dan digunakan sebagai hiasan kue

d. Bunga Sepatu

Bunga yang memliki nama latin Hibiscus sp ini dikagumi karena kecantikan dan warnanya yang cemerlang, mulai dari putih sampai merah, kuning sampai ungu dan lain-lain. Bunga ini memiliki cita rasa seperti jeruk yang dapat memperkaya berbagai macam hidangan. Bunga sepatu paling tepat digunakan pada salad buah, namun juga dapat digunakan pada hidangan penutup lain atau dibuat teh.

e. Dahlia

Semua jenis bunga dahlia bisa dikonsumsi, rasa dan teksturnya bisa sangat bervariasi tergantung pada tanah dan kondisi di mana bunga tersebut tumbuh. Rasanya mulai dari kacang chestnut sampai apel atau bahkan wortel.

f. Lily

Bunga lily manis dengan rasa hampir menyerupai melon atau mentimun. Mahkota bunga lily dapat digunakan pada salad, sup, dimasak dan disajikan sebagai sayuran atau dipotong-potong dan disajikan sebagai gorengan. Cobalah untuk menumis kuncup bunga atau bunganya yang dapat diisi dengan berbagai macam isian.

g. Gladiol

Rasa bunganya mirip lettuce dan merupakan wadah yang cantik untuk olesan krim atau mouse yang gurih maupun manis. Kita juga dapat mencampurkan mahkota bunganya satu per satu dalam salad untuk mempercantik warna salad tersebut. Jangan lupa membuang benang sari dan bagian pangkal bunga sebelum memakannya.

Resep Menggunakan Edible Flowers

  1. Es Batu Cantik

-       Cuci bunga-bunga dengan lembut dan hati-hati, pastikan tidak ada serangga, kotoran atau bahan-bahan lain yang tidak diinginkan. Beberapa bunga kecil dapat dipakai seutuhnya. Namun bunga-bunga yang besar seperti mawar hanya dipetik helaian mahkota bunganya.

-       Tuang sedikit air matang pada cetakan es batu sekedar melapisi dasar cetakan lalu letakkan bunga yang sudah dicuci dengan menyentuh sebanyak mungkin permukaan air.

-       Masukkan cetakan es batu ke dalam freezer sampai membeku.

-       Setelah lapisan pertama membeku, keluarkan cetakan kemudian isi kembali dengan air matang hingga penuh kemudian masukkan kembali ke dalam freezer.

-       Bila telah beku keluarkan es dari cetakan, maka es batu cantik siap untuk digunakan menghias berbagai macam minuman dingin.

2. Bunga Kristal

-          Siapkan bahan-bahan: 1 butir telur yang besar ambil bagian putihnya saja, ¼ sendok teh air es, bunga (edible flowers) dan gula tepung

-          Hilangkan benang sari bunga dengan mengguntingnya

-          Alasi rak kawat dengan kertas perkamen

-          Aduk putih telur dicampur air hingga berbusa

-          Pegang tangkai bunga dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memegang kuas kecil yang baru dan bersih

-          Celupkan kuas ke dalam campuran putih telur dan air kemudian pulaskan pada bunga dengan lembut dan hati-hati, pastikan semua bagian bunga terlapisi karena bagian yang terlewat akan layu dan kering

-          Percikkan gula tepung menggunakan sendok teh dengan hati-hati pada semua bagian bunga

-          Tempatkan bunga tersebut pada rak yang sudah dilapisi kertas perkamen

-          Simpan bunga di ruangan yang dingin dan kering selama 12-36 jam sampai mengering

-          Bunga kristal ini dapat digunakan untuk menghias cake atau makanan penutup

3. Cemilan Buah Berry

-          Siapkan bahan-bahan: 2 cangkir plain yoghurt, 3 sendok makan sirup maple (atau sesuai selera), air dari 1 buah lemon, 1 ½ cangkir buah berry (strawberry, raspberry dll), 1 sendok makan gula pasir, bunga (edible flowers) untuk hiasan

-          Siapkan mangkuk, campurkan yoghurt, sirup maple dan air lemon, aduk hingga merata kemudian simpan dalam lemari es selama satu jam

-          Tempatkan buah berry dalam mangkuk, campur dengan gula

-          Siram buah berry dengan sebagian campuran yoghurt, lapisi kembali dengan buah berry lalu siram kembali dengan campuran yoghurt, hiasi dengan bunga (edible flowers)

Daftar Pustaka

Charlie Nardozzi.2010. Edible Lanscaping – Growing Edible Flowers in Your Garden. https://garden.org/learn/articles/view/4132/

Mark Macdonald. 2017. List of Edible Flowers. https://www.westcoastseeds.com/garden-resources/articles-instructions/list-edible-flowers/

Monica Bhide. 2011. Berry Parfait with Edible Flowers. http://www.aarp.org/food/recipes/info-03-2011/berry-parfait-edible-flowers.html

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Sat, 18 Nov 2017 05:23:35 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1181-edible-flowers-bunga-bunga-yang-bisa-dikonsumsi
Keamanan Pangan bagi Pelaku Usaha Pengolahan Hasil http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1119-keamanan-pangan-bagi-pelaku-usaha-pengolahan-hasil bbpplembang artikel keamananpanganPengelola usaha pengolahan hasil di Indonesia yang semangkin menjamur dan eksis sampai saat ini diakibatkan oleh memanfaatkan bahan baku utama produk hasil pertanian dalam negeri, mengandung komponen bahan impor sekecil mungkin. Untuk dapat bertahan usaha bidang pengolahan hasil harus memperhatikan keamanan pangan. Pengembangan sistem mutu industri pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri dan konsumen, yang saat ini sudah memulai mengantisipasinya dengan implementasi sistem mutu pangan. Karena di era pasar bebas ini industri pangan Indonesia mau tidak mau sudah harus mampu bersaing dengan derasnya arus masuk produk industri pangan negara lain yang telah mapan dalam sistem mutunya dan memuncaknya barang di pasaran sehingga kurangnya pengawasan dapat menjadikan bahaya terhadap konsumen.

Salah satu sasaran pengembangan bidang pangan adalah terjamin pangan yang dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan. Hal ini secara jelas menunjukan upaya untuk melindungi masyarakat dari pangan yang tidak memenuhi standar dan persyaratan kesehatan. Sasaran program keamanan pangan adalah: (1) Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan, yang tercermin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan pangan; (2) Memantapkan kelembagaan pangan, yang antara lain dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan; dan (3) Meningkatkan jumlah industri pangan yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan diberlakukannya UU No. 7 tentang Pangan tahun 1996 sebuah langkah maju telah dicapai pemerintah untuk memberi perlindungan kepada konsumen dan produsen akan pangan yang sehat, aman, dan halal. Gambaran keadaan keamanan pangan selama tiga tahun terakhir secara umum adalah: (1) Masih ditemukan beredarnya produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan; (2) Masih banyak dijumpai kasus keracunan makanan; (3) Masih rendahnya tanggung jawab dan kesadaran produsen serta distributor tentang keamanan pangan.

Pada permasalahan mutu pangan di pasaran bebas terdapat 4 masalah utama mutu dan keamanan pangan nasional yang berpengaruh terhadap perdagangan pangan baik domestik maupun Global (Fardiaz, 1996). Produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu keamanan pangan yaitu: (1) Penggunaan bahan tambahan pangan yang dilarang atau melebihi batas produk pangan, (2) Ditemukan cemaran kimia berbahaya ( Pestisida, Logam berat, Obat-obatan pertanian) pada berbagai produk pangan, (3) Cemaran mikroba yang tinggi dan cemaran mikroba patogen pada berbagai produk pangan, (4) Pelabelan dan periklanan produk pangan yang tidak memenuhi syarat, (5) Masih beredarnya produk pangan kadaluarsa termasuk produk impor, (6) Pemalsuan produk pangan, (7) Cara peredaran dan distribusi produk pangan yang tidak memenuhi syarat, (8) Mutu dan keamanan produk pangan belum dapat bersaing di pasar internasional.

 

Implementasi Sistem Mutu

Implementasi Sistem Mutu dan Keamanan Pangan dari berbagai instansi terkait tentang implementasi Sistem Mutu dan Keamanan Pangan Nasional telah menyepakati berbagai kegiatan/sub program yang perlu dilakukan untuk menjamin mutu dan keamanan pangan secara nasional yang dibedakan atas program utama dan penunjang (Kantor Menteri Negara Urusan Pangan, 1997), sebagai berikut:

Program utama: (1) Pengembangan sumberdaya manusia pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; (2) Pengembangan sarana dan prasarana pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; (3) Pengembangan mutu dan gizi pangan, standarisasi mutu dan keamanan pangan; (4) Pengembangan sistem keamanan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; (5) Penyelenggaraan pelayanan pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan pangan; (6) Pemasyarakatan sistem mutu dan keamanan pangan; (7) Penelitian dan pengembangan mutu dan keamanan pangan; (8) Pengembangan harmonisasi internasional sistem pembinaan dan sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan; (9) Pengembangan sistem analisis resiko; dan (10) Pengembangan sistem jaringan informasi pembinaan mutu pangan.

Program Penunjang: (1) Kegiatan pengembangan pengendalian lingkungan; (2) Pengembangan penyuluhan mutu dan keamanan pangan; (3) Pengembangan peraturan perundang-undangan mutu dan keamanan pangan; dan (4) Pengembangan kelembagaan dan kemitraan dalam bisnis pangan.

bbpplembang artikel keamananpangan1Penerapan Sistem Manajemen Mutu

ITC (1991) dalam Hubeis (1994) menyatakan bahwa industri pangan sebagai bagian dari industri berbasis pertanian yang didasarkan pada wawasan agribisnis memiliki mata rantai yang melibatkan banyak pelaku, yaitu mulai dari produsen primer – (pengangkutan) – pengolah – penyalur – pengecer – konsumen. Pada masing-masing mata rantai tersebut diperlukan adanya pengendalian mutu (quality control atau QC) yang berorientasi ke standar jaminan mutu (quality assurance atau QA) di tingkat produsen sampai konsumen, kecuali inspeksi pada tahap pengangkutan dalam menuju pencapaian pengelolaan kegiatan pengendalian mutu total (total quality control atau TQC) pada aspek rancangan, produksi dan produktivitas serta pemasaran. Dengan kata lain permasalahan mutu bukan sekedar masalah pengendalian mutu atas barang dan jasa yang dihasilkan atau standar mutu barang (product quality), tetapi sudah bergerak ke arah penerapan dan penguasaan total quality management (TQM) yang dimanifestasikan dalam bentuk pengakuan ISO seri 9000 (sertifikat mutu internasional), yaitu ISO-9000 s.d. ISO-9004, dan yang terbaru yaitu ISO 22000.

Penerapan dan pendokumentasian Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) lebih mudah dibandingkan ISO. Tapi HACCP punya tahapan tertentu. Sebelum penerapan HACCP, pabrik (perusahaan) harus sudah menjalankan Good Manufacturing Practices (GMP) dan SOP dengan baik. Untuk kalangan pabrik tentu sudah tidak asing lagi, apa itu GMP. Cara-cara berproduksi dengan baik. GMP ini panduan mendetail dan harus mencakup semua proses produksi, mulai dari ketertiban karyawan, pest control (pengendalian hama), fasilitas gudang, kelengkapan rancangan gedung, keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja.

GMP harus diimplementasikan untuk semua bagian termasuk Processing Area, Logistik dan Area Penyimpanan (Gudang), Laboratorium, Manufacturing Area, Maintenance & Engineering, dan manajemen. Semua harus satu kata. Semua bagian harus secara komitmen dan konsisten mengimplementasikan GMP ini. Oleh sebab itu untuk memantau implementasi GMP di lapangan perlu dilakukan audit. Audit ini bisa dibagi menjadi audit internal dan eksternal. Audit internal berasal dari auditor yang ditunjuk dan diberi kewenangan untuk mengaudit pabrik tersebut. Audit internal ini bisa berasal dari gabungan karyawan dari berbagi bagian/departemen. Diharapkan audit internal ini bisa mengevaluasi dan memberi masukan kepada pihak yang bertanggungjwab di pabrik (perusahaan tersebut). Masukan dari auditor internal ini bisa dijadikan acuan untuk diadakan perubahan kebijakan. Manfaat dari auditor internal ini adalah jika ada temuan bisa dibahas secara internal pabrik dan tidak perlu sampai banyak pihak tahu. Auditor internal bisa tidak efektif dalam mengauditnya karena akan bersikap subyektif.
Menyajikan pengembangan sistem mutu dan keamanan pangan nasional, yang menekankan pada penerapan sistem jaminan mutu untuk setiap mata rantai dalam pengolahan pangan yaitu GAP/GFP (Good Agriculture/Farming Practices), GHP (Good Handling Practices), GMP (Good Manufacturing Practices), GDP (Good Distribution Practices), GRP (Good Retailing Practices) dan GCP (Good Cathering Practices).

Mutu dan keamanan pangan harus benar-benar diperhatikan oleh produsen maupun konsumen. Hal ini dapat menjadi masalah yang sangat besar terhadap kesehatan dan kemajuan pasar bebas di Indonesia, sehingga mutu dan keamanan pangan dapat terjamin untuk dikonsumsi oleh konsumen.

 

Pustaka Acuan

Budi cahyono, Food Safety dan Implemrntasi Quality System

Drug and Food, Minstry of Health. Jakarta, September 1996.

Ferdiaz, S, 1996. Food Control Policy, WHO National Consultant Report Directorate of

Kantor Menteri Negara Urusan Pangan, 1997. Kebijakan Nasional dan Program Pembinaan Mutu Pangan, Jakarta.

Sussi astute @ yahoo. Com

]]>
Ir. Saptoningsih, MP Fri, 28 Jul 2017 07:00:08 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1119-keamanan-pangan-bagi-pelaku-usaha-pengolahan-hasil
Budidaya Bunga Krisan Pot http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1099-budidaya-bunga-krisan-pot bbpplembang krisanpotBunga krisan merupakan tanaman hias yang disukai oleh berbagai kalangan, baik sebagai bunga potong untuk dekorasi maupun bunga pot sebagai penghias ruangan maupun halaman rumah. Warna bunganya yang beragam dan bentuknya yang cantik menarik hati siapapun yang memandangnya. Pada umumnya jenis krisan yang ditanam di pot adalah jenis krisan mini.

Syarat Tumbuh

Syarat tumbuh tanaman krisan pot sama dengan syarat tumbuh untuk tanaman krisan potong. Suhu udara siang hari yang ideal untuk pertumbuhan tanaman krisan berkisar antara 20oC – 26oC dengan batas minimum 17oC dan batas maksimum 30oC. Suhu udara pada malam hari merupakan faktor penting dalam mempercepat pembentukan tunas bunga. Suhu ideal berkisar antara 16oC - 18oC.Tanaman krisan untuk pertumbuhannya memerlukan kelembaban udara antara 70% - 80%.Di Indonesia tanaman krisan dapat tumbuh dan berkembang baik pada ketinggian antara 700 – 1200m di atas permukaan laut.

Media Tanam

bbpplembang krisanpot1Persyaratan media tumbuh adalah sama dengan kriteria tanah bedeng yaitu berpasir, subur, gembur, dan memiliki pH 5,5 – 6,7. Media yang digunakan dalam penanaman krisan potadalah tanah gambut (peat moss), cacahan sabut kelapa (coco peat), dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:4. Media tersebut merupakan media bekas persemaian benih setelah 3 kali tanam dan telah disterilisasi terlebih dahulu pada suhu 85oC selama 4 jam menggunakan steamer. Media dimasukkan ke dalam pot hingga penuh kemudian disiram menggunakan air hingga jenuh. Tinggi pot adalah 15cm dengan diameter 13cm.

Penanaman Bibit

Sebelum penanaman, bibit berupa stek terlebih dahulu diseleksi dan dipilih berdasarkan tinggi yang sama, tinggi bibit untuk tanaman krisan pot tidak boleh lebih dari 5cm. Media tanam dilubangi sebanyak 5 buah, penanaman bibit krisan dilakukan secara manual, yaitu dengan tangan. Bibit yang dimasukkan ke dalam lubang diusahakan tegak lurus dan mempunyai tinggi yang sama karena akan mempengaruhi sifat tumbuhnya. Pengkabutan dilakukan segera setelah penanaman selesai dilakukan dengan menggunakan power sprayer selama kurang lebih 30 menit.

Pengaturan Panjang Hari

Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan cahaya selama 2 jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar. Pemberian cahaya lampu dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun, tumbuh sepanjang 2-3 cm. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanaman krisan pot yang melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali tidak mengenai tanaman.

Penyiraman

Penyiraman tanaman krisan pot bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pertimbangan adalah frekuensi penyiraman, kualitas air, penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. Untuk memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien: penyiraman dengan merendam sebagian pot kedalam air setinggi 5-10 cm selama beberapa menit, secara kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media, dengan sistem drip (irigasi tetes) setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media, dengan menggunakan sistem drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi.

Pinching dan Disbudding

Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan tunas lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil atau tidak produktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara benar-benar bagus. Pinching dilakukan setelah tanaman memiliki 5 daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam.

Disbudding adalah pembuangan bakal bunga yang tidak diinginkan sesuai dengan tujuan pembentukan bunga. Disbudding dilakukan setelah bakal bunga yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal bunga yang siap untuk dipelihara.

Pemupukan

bbpplembang krisanpot2Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi. Komposisi pemupukan untuk tanaman fase vegetatif (1200 lt air/500m2) yaitu CaNO3: 1130 gram, KNO3: 1620 gram dan MgSO4: 470 gram, sedangkan pada fase generatif dilakukan mulai 7 MST (1200 lt air/500m2) yaitu CaNO3: 940 gram, KNO3: 1790 gram, KH2PO4: 450 gram dan Urea: 190 gram. Pemupukan dihentikan setelah bunga pertama telah memperlihatkan warna dan hanya diberikan air.

Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Aplikasi alar dimaksudkan sebagai zat pengatur tumbuh dengan bahan aktif daminozide. Alar diberikan setelah tanaman berumur 12-14 hari setelah tanam. Zat ini berfungsi untuk memperkuat batang, mencegah penyimpangan, dan memperbaiki kualitas (daun lebih hijau dan bunga lebih seragam). Penyemprotan dilakukan menggunakan sprayer otomatis (Compressed Air Sprayer). Dosis yang diberikan sebanyak 1 gr/liter untuk varietas yang pertumbuhannya cepat, 2 gr/liter untuk tanaman yang pertumbuhannya sedang dan 3 gr/liter untuk tanaman yang pertumbuhannya lambat. Dosis tersebut diaplikasikan untuk 1 bench (70 pot). Adapun prosedur pemberiannya adalah sebagai berikut: penyemprotan hanya dilakukan

pada bagian pucuk, semprotan harus cukup halus dan merata sehingga formula mudah diserap daun, tidak dilakukan pada cuaca panas maupun lembab, dan tidak diberikan pada kuncup bunga yang sudah mengalami fase pemunculan warna.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman, sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan harus dilakukan secara cermat. Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif. Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat, dan karat putih. Pengendalian secara kimiawi dengan memperhatikan tepat pestisida, tepat dosis, tepat waktu, tepat aplikasi.

Panen dan Pasca Panen

Umur tanaman krisan yang siap dipanen antara 8-12 minggu setelah tanam tergantung varietas dan keadaan musim, pada musim kemarau tanaman lebih cepat dipanen, yakni antara 8-11 minggu, sebaliknya jika musim hujan pemanenan baru dapat dilakukan hingga tanaman berumur 12 minggu.

Beberapa faktor yang menjadi kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut:

1. Tajuk

Batang tanaman tidak terlalu tinggi, sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.

2. Daun

Warna daun hijau segar dan bersih dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.

3. Bunga

Warna bunga cerah dan tidak pudar. Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.

Setelah krisan pot diseleksi sesuai kriteria, maka segera dimasukkan ke dalam kantong plastik agar bunga dan cabang tidak patah selama dalamtransportasi. Sebelum tanaman pot dimasukkan ke dalam plastik dan dikemas ke dalam kardus, media tanam harus dalam kondisi lembab dan pot dalam keadaan bersih.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Amirullah. 2012. Budidaya Bunga Krisan. http://amiere.multiply.com/journal/item/117/Budidaya-Bunga-Krisan.

Anonim. 2013. Teknik Budidaya Bunga Krisan Pot. http://binaukm.com/2010/06/teknik-budidaya-bunga-krisan-pot/

Iman Priyadi. 2014. Budidaya Bunga Krisan Pot. http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/9485/budidaya-bunga-krisan-pot

Kartono. 2016. Cara Budidaya Bunga Krisan Pot. http://kartono.net/cara-budidaya-bunga-krisan-pot/

 

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Fri, 02 Jun 2017 21:57:58 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1099-budidaya-bunga-krisan-pot
Panen dan Pascapanen Bawang Merah http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1347-panen-dan-pascpanen-bawang-merah bbpplembang pascapanen bawangmerahTanaman bawang merah (Allium Sp)merupakan sayuran rempah dan dipanenbagian umbinya yang merupakan umbi lapis dan digunakan untuk konsumsi sebagaibumbu penyedap masakan. Kebutuhannya relatif stabil sepanjang tahun danmemililki potensi komersial yang cenderung semakin meningkat. Bawang merah juga berfungsi sebagai obat yaitu mendorong nafas panjang, mengobati luka, obat maag,masuk angin dan menurunkan kadar gula dan kolesterol.

Untuk memperoleh hasil yang baik, diperlukan proses penangan panen dan pascapanen yang baik. Adapun penanganan panen dan pascapanen dapat dilakukan seperti berikut ini:

Panen Bawang Merah

Penentuan waktu panen pada bawang merah dapat dilakukan secara:

  1. Visual, melihat kondisi daun mulai menguning, daunnya rebah, umbinyatampak menonjol dari permukaan tanah, warna umbi terlihat kemerahan.
  2. Fisik, dengan perabaan leher umbi lunak.
  3. Komputasi, penentuan umur tanaman sejak tanam (tergantungvarietas/kultivar, cuaca/musim, pemeliharaan tanaman).
  4. Penanganan Panen, dilakukan dengan memungut hasil dengan cara mencabutseluruh bagian tanaman secara manual dengan tangan.

Standar penentuan waktu panen dan penanganan panen

  1. Secara visual dengan melihat perkembangan fisik tanaman, dimana untuk tujuan konsumsi cirinya daun mulai menguning, daunnya rebah, umbinyatampak menonjol dari permukaan tanah, warna umbi terlihat kemerahan.Untuk tujuan bibit, daun tanaman total rebah (lebih 30% menguning)
  2. Secara komputasi, untuk tujuan konsumsi maka penentuan umur tanaman sejak tanam, tergantungvarietas/kultivar, cuaca/musim, pemeliharaan tanaman. (untuk varietas BimaBrebes dipanen pada umur 58-60 HST pada musim kemarau, sedangkan padamusim penghujan umumnya dipanen lebih awal).
  3. Untuk tujuan benih yaitu umur panen lebih lama sekitar 3-4 hari. Panen dilakukan pada pagi hari setelah tidak ada embun dan tidak pada saatturun atau menjelang hujan. Untuk tujuan bibit panen dilakukan pada sianghari, sehari sebelum panen jangan dilakukan penyiraman.

Prosedur kerja penentuanwaktu panen dan penanganan panen

  1. Tentukan waktu panen yang tepat sesuai standar.
  2. Amati kondisi cuaca saat panen (bila hujan pelaksanaan panen ditunda).
  3. Siapkan alat panen dan tenaga kerja yang terampil dan mengatur pembagianareal panen.
  4. Lakukan pemanenan bawang merah dengan cara mencabut secara hati-hati

Perlakuan Segera Setelah Panen

Pengertian“Perlakuan segera setelah panen” adalah tindakan – tindakan yang harusdilakukan pada komoditas segera setelah panen. Pada bawang merah tindakanini berupa pengikatan, pengumpulan, penjemuran awal (curing pemulihan) sampai leher umbi menyempit.

Perlakuan segera setelah panen bertujuan untuk mengurangi kerusakan yang dapat terjadisetelah panen dan menghasilkan bawang merah yang berkualitas baik dan dayasimpan panjang

Standar Perlakuan segera setelah panen

  1. Pengikatan: semua umbi yang dipanen segera diikat, sebaiknyamenggunakan tali terbuat dari bambu (tutus) agar ikatan tidak mudahterlepas dan mudah dikencangkan saat penjemuran.
  2. Bagian yang diikat adalah bagian pucuk (3-5 cm dari ujung daun) besarnyaikatan segenggam tangan (sekitar 1 kg).
  3. Bagian umbi yang tertinggal (tidak tercabut/protolan) dikumpulkan untukdilakukan curing terpisah.
  4. Tempat untuk penjemuran di lahan bekas penanaman/yang baru dipanen,dialasi seperti dengan daun jati/daun tebu/anyaman bambu, umbi yangsudah diikat ditata di alas tersebut secara teratur, tidak bertumpuk, dengandaun menghadap keatas supaya daun cepat layu dan mengering dibiarkanselama 2 hari.
  5. Pembalikan ikatan dilakukan supaya bagian dalam ikatan daun terkena sinarmatahari dan posisi umbi tetap tertutup daun.
  6. Penataan ulang dilakukan untuk merapikan posisi umbi dalam penjemuran
  7. Pengikatan ulang dilakukan dengan menggabungkan 2 ikatan menjadi satuikatan (roji).

Prosedur Kerja

  1. Ikatlah umbi yang sudah dipanen.
  2. Kumpulkan bagian umbi yang tertinggal (tidak tercabut/protolan) untukdilakukan curing terpisah.
  3. Lakukan penjemuran di lahan bekas penanaman/yang baru dipanen, dialasidaun jati/daun tebu/anyaman bambu. Umbi yang sudah diikat ditata di alastersebut secara teratur, tidak bertumpuk, dengan daun menghadap keatassupaya daun cepat layu dan mengering dibiarkan selama 2 hari.
  4. Lakukan pembalikan ikatan supaya bagian dalam ikatan daun terkena sinarmatahari dan posisi umbi tetap tertutup daun.
  5. Lakukan penataan ulang untuk merapikan posisi umbi dalam penjemuran(diusik) selama 2 hari sekali sampai kondisi daun mengering danmenggabungkan 2 ikatan menjadi satu ikatan (roji)
  6. Selama penjemuran dan curing, pada waktu malam/hari hujan tutuplahdengan plastik transparan yang dibuat tunel/lorong dengan penyangga terbuatdari lengkungan bambu dengan ketinggian 40 cm dan panjang sesuai lahanpenjemuran. Dan pada saat siang hari bila ada cahaya matahari plastik transparan dibuka kesamping lahan
  7. Lakukan penggedengan (4 ikatan roji dijadikan 1), kemudian lakukanpenjemuran dengan membalik bagian umbi ke atas sekitar 3 jam. Penjemurandengan posisi umbi diatas ini dilakukan jangan terlalu lama untuk menghindariumbi “matang”.
  8. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja.

Pengeringan

Pengertian pengeringan dan pengikatan dalah penjemuran lanjutan bawang merah untukmenurunkan kadar air umbi sehingga umur simpannya panjang

Prosedur Kerja

  1. Lakukan penataan bawang merah yang sudah diikat tali bambu di tempat
  2. Tutup plastik ketika malam/hujan dan dibuka penutup pada saat siang hari.
  3. Lakukan pembalikan 1-2 kali sehari agar umbi kering merata.
  4. Hentikan pengeringan sampai kulit paling luar umbi sudah mengelupas danbunyinya mengeresek (susut sekitar 15 – 20 %) dan untuk bibit warna umbimerah cerah dan melekat pada umbinya (penyusutan 17 – 22%).
  5. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja(Tabel 3, Lampiran)

Pembersihan

Pengertian Pembersihan adalah proses menghilangkan kotoran yang menempel padaumbi bawang merah

Prosedur Pelaksanaan

  1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan sebagai sarana pembersihumbi.
  2. Potonglah (trimming) bagian akar dengan menggunakan ani-ani/gunting/pisau.
  3. Potonglah (trimming) daun kering diatas leher umbi.
  4. Timbanglah umbi yang telah dibersihkan.
  5. Letakkan umbi bawang merah yang sudah dibersihkan pada terpal/keranjang yang telah dipersiapkan untuk dikering anginkan.

Sortasi

PengertianKegiatan sortasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkanmutu yang baik dengan cara memilah-milah antara produk yang baik denganyang rusak. Produk yang baik adalah produk yang bebas dari cacat ataukerusakan fisik akibat kegiatan panen maupun serangan hama penyakit.Produk yang rusak adalah produk rusak fisik akibat panen maupun kenaserangan hama penyakit. Setelah dilakukan pemisahan kedua kelompok produktersebut dilakukan proses pengkelasan (grading) sesuai dengan standar mutu,Standar Nasional Indonesia (SNI), atau kesepakatan lainnya.

Grading

Grading adalah pengkelasan/penggolongan kubis berdasarkan kualitas sepertikeseragaman bentuk, kebersihan, kepadatan, bebas penyakit dan kerusakanserta ukuran berat, panjang, diameter

Prosedur Pelaksanaan:

  1. Siapkan sejumlah keranjang/wadah terpisah untuk masing-masing kelassiung bawang merah.

Pilih siung yang sudah bersih, pisahkan siung berdasarkan ada tidaknya cacat pada siung bawang merah, normal tidaknya bentuk dan ukuran siung bawang merah, ada tidaknya serangan hama atau penyakit pada siung bawang merah.

  1. Lakukan pengkelasan I, II siung berdasarkan pengkelasan.
  2. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang digunakan pada buku kerja(Tabel 5, lampiran 

Pengeringan Lanjutan dan Penyimpanan

Pengertian pengeringan adalah proses penjemuran bawang merah dibawah sinar matahari langsung. Penyimpanan adalah proses menyimpan hasil panen sebelum dipasarkan.

Prosedur Pelaksanaan

  1. Bersihkan rak /para-para dan sikat lantai gudang dengan air dan sabun aga
  2. Letakkan umbi bawang merah di para-para dengan menggunakan sapu.
  3. Bersihkan gudang putih pada rak-rak/ para-para yang disusun di dalamgudang penyimpanan berventilasi. Untuk penjemuran di gudang perlupenjemuran tambahan sinar matahari 1 – 3 jam.

Pengemasan

Pengertian pengemasan adalah proses perlindungan komoditas bawang merah dengan caramengepak dari gangguan faktor luar yang dapat mempengaruhi masasimpannya dengan memakai media (wadah/tempat dengan bahan tertentu)untuk dikirim sebelum dipasarkan. Hanya komoditas yang baik yang dikemas

Prosedur Pelaksanaan:

  1. Lakukan pengemasan bawang merah untuk pasar lokal biasanyamenggunakan karung plastik yang berlubang – lubang atau keranjangplastik/keranjang bambu dengan kapasitas 25 – 30 kg.
  2. Lakukan pengemasan bawang merah untuk pemasaran luar daerah biasanyamenggunakan kardus yang sudah dilubangi untuk ventilasi udara.
  3. Lakukan untuk pemasaran pasar swalayan dikemas dengan tray  dan ditutupplastik
  4. wrapping  atau kemasan dengan plastik transparant yang dilubangidengan berat 0,25 – 0,50 kg. Untuk pasokan restauran/rumah makan bawang merah dikemas dengan kantong plastik yang dilubangi ukuran 5 kg.Lubang kantong plastik berfungsi mencegah terjadinya pengembunan udaradalam plastik yang dapat membusukkan bawang merah.
  5. Lakukan pengemasan bawang merah untuk ekspor dikemas dengan karduskhusus dari eksportir lengkap dengan nama dagang dan tanggal panen.Kardus diberi lubang kecil dengan ukuran kardus untuk kapasitas 15 – 20 kg.
]]>
Ir. Nani Nazir Mon, 13 Feb 2017 16:01:44 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1347-panen-dan-pascpanen-bawang-merah
Mengenal Tanaman Kopi http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1034-mengenal-tanaman-kopi bbpplembang-kopiFisiologi Tanaman Kopi

Kopi termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan genius Coffea. Kopi termasuk ke dalam family Rubiaceae, subfamily lxoroideae, dan suku Coffeae. Seorang bernama Linnaeus merupakan orang yang pertama mendeskripsikan spesies kopi (Coffea arabica) pada tahun 1753. Menurut Bridson dan Vercourt pada tahun 1988, kopi dibagi menjadi 2 genus, yakni Coffea dan Psilanthus. Genus Coffea terbagi menjadi 2 subgenus, yakni Coffe dan Baracoffea. Subgenus Coffea terdiri dari 88 spesies. Sementara itu, subgenus Baracoffea terdapat 7spesies. Berdasarkan geografik (tempat tumbuh) dan rekayasa genetik, kopi dapat dibedakan menjadi 5, kopi yang berasal dari Ethiopia, Madagascar, serta Benua Afrika bagian barat, tengah, dan timur (Andre Illy dan Rinantonio Viani, 2005). Tanaman kopi terdiri dari: akar, batang dan percabangan (cabang primer dan cabang sekunder, cabang reproduksi, cabang balik dan cabang kipas), daun, bunga, dan buah.

Penyerbukan

Tanaman kopi termasuk tanaman yang dapat melakukan penyerbukan sendiri (self fertile). Keberhasilan tanaman kopi untuk berbunga hingga menjadi buah sangat dipengaruhi oleh iklim (musim hujan atau kemarau). Penyerbukan umumnya terjadi setelah musim hujan. Penyerbukan dipengaruhi oleh iklim secara umum.

Jenis-jenis Kopi

Jenis kopi yang banyak dibudidayakan yakni kopi arabika (Coffea arabica) dan robusta (Coffea canephora). Sementara itu, ada juga jenis Coffea liberica dan Coffea congensis yang merupakan perkembangan dari jenis robusta.

A. Kopi Arabika

Awalnya, jenis kopi yang dibudidayakan di Indonesia adalah arabika, lalu liberika dan terakhir kopi jenis robusta. Kopi jenis arabika sangat baik ditanam di daerah yang berketinggian 1.000-2.100 meter di atas permukaan laut (dpl). Semakin tinggi lokasi perkebunan kopi, cita rasa yang dihasilkan oleh biji kopi akan semakin baik. Karena itu, perkebunan kopi arabika hanya terdapat di beberapa daerah tertentu (di daerah yang memiliki ketinggian di atas 1.000 meter). Berbagai klon unggulan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), di antaranya AB 3, S 795, USDA 762, Kartika 1, Kartika 2, Andungsari 1 dan BP 416. Sebagai gambaran awal, hasil produksi arabika klon Kartika sekitar 800-2.500 kg/ha/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2002). Berikut karakteristik biji kopi arabika secara umum:

1. Rendemannya lebih kecil dari jenis kopi lainnya (18-20%).

2. Bentuknya agak memanjang.

3. Bidang cembungnya tidak terlalu tinggi.

4. Lebih bercahaya dibandingkan dengan jenis lainnya.

5. Ujung biji lebih mengkilap, tetapi jika dikeringkan berlebihan akan terlihat retak atau pecah.

6. Celah tengah (center cut) di bagian datar (perut) tidak lurus memanjang ke bawah, tetapi

   berlekuk.

7. Untuk biji yang sudah dipanggang (roasting), celah tengah terlihat putih.

8. Untuk biji yang sudah diolah, kulit ari kadang-kadang masih menempel di celah atau parit biji

   kopi.

B. Kopi Robusta

Tanaman kopi jenis robusta memiliki adaptasi yang lebih baik dibandingkan dengan kopi jenis arabika. Areal perkebunan kopi jenis robusta di Indonesia relatif luas. Pasalnya, kopi jenis robusta dapat tumbuh di ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi perkebunan arabika. Kopi jenis robusta yang asli sudah hampir hilang. Saat ini, beberapa jenis robusta sudah bercampur menjadi klon atau hibrida, seperti klon BP 39, BP 42, SA 13, SA 34, dan SA 56. Produksi kopi jenis robusta secara umum dapat mencapai 800-2.000 kg/hektar/tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2002). Berikut ini karakteristik fisik biji kopi robusta:

1. Rendeman kopi robusta relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rendeman kopi arabika (20-

   22%).

2. Biji kopi agak bulat.

3. Lengkungan biji lebih tebal dibandingkan dengan jenis arabika.

4. Garis tengah (parit) dari atas ke bawah hampir rata.

5. Untuk biji yang sudah diolah, tidak terdapat kulit ari di lekukan atau bagian parit.

C. Kopi Liberika

Dahulu, kopi liberika pernah dibudidayakan di Indonesia, tetapi sekarang sudah ditinggalkan oelh perkebunan atau petani. Pasalnya, bobot biji kopi keringnya hanya sekitar 10% dari bobot kopi basah. Selain perbandingan bobot basah dan bobot kering, rendeman biji kopi liberika yang rendah merupakan salah satu faktor tidak berkembangnya jenis kopi liberika di Indonesia. Rendeman kopi liberika hanya sekitar 10-12%. Karakteristik biji kopi liberika hampir sama dengan jenis arabika. Pasalnya, liberika merupakan pengembangan dari jenis arabika. Kelebihannya, jenis liberika lebih tahan terhadap serangan hama Hemelia vastatrixi dibandingkan dengan kopi jenis arabika.

Syarat dan Lokasi Tumbuh Tanaman Kopi

Tanaman kopi dapat tumbuh dengan baik apabila faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pemeliharaan tanaman dapat dioptimalkan dengan baik. Berikut ini beberapa syarat pertumbuhan kopi secara umum.

  1. a.Tanah

Tanah digunakan sebagai media tumbuh tanama kopi. Salah satu ciri tanah yang baik adalah memiliki lapisan topsoil yang tebal. Umumnya, kondisi tanah di dataran tinggi memiliki kandungan organik yang cukup banyak dan tidak terlalu banyak terkontaminasi polusi udara. Tanaman kopi sebaiknya ditanam di tanah yang memiliki kandungan hara dan organik yang tinggi. Rata-rata pH tanah yang dianjurkan 5-7. Jika pH tanah terlalu asam, tambahkan pupuk Ca(PO)2 atau Ca(PO3)2 (kapur atau dolomit). Sementara itu, untuk menurunkan pH tanah dari basa ke asam, tambahkan urea. Caranya taburkan kapur atau urea secukupnya sesuai kondisi tanah, lalu periksa keasaman tanah dengan pH meter. Tambahkan urea jika pH tanah masih basa atau tambahkan kapur jika terlalu asam hingga pH tanah menjadi 5-7.

  1. b.Curah Hujan

Curah hujan mempengaruhi pembentukan bunga hingga menjadi buah. Untuk arabika, jumlah curah hujan yang masih bisa ditolerir sekitar 1.000-1.500 mm/tahun. Sementara itu, curah hujan untuk kopi robusta maksimum 2.000 mm/tahun.

Penanaman atau pembangunan perkebunan kopi di suatu daerah perlu melihat data klimatologi daerah tersebut selama 5 tahun terakhir. Daerah yang berada di atas ketinggian 1.000 meter dpl dan memiliki curah hujan yang baik umumnya justru memiliki musim kering relatif pendek. Sebaliknya, tanaman kopi membutuhkan musim kering yang agak panjang untuk memperoleh produksi yang optimal.

  1. c.Suhu

Selain curah hujan, lingkungan memegang peranan penting untuk pembentukan bunga menjadi buah. Kopi arabika mampu beradaptasi dengan suhu rata-rata 16-22̊ C. Untuk kopi robusta, tanaman ini dapat tumbuh dan beradaptasi pada suhu 20-28̊ C. Karena itu, investor atau petani kopi perlu mengetahui kondisi suhu suatu daerah yang ingin dijadikan perkebunan kopi.

  1. d.Angin

Sebelum mulai menanam kopi, petani kopi perlu memperhatikan kondisi topografi wilayah. Pasalnya, jika terdapat anomali iklim, petani dapat melakukan beberapa rekayasa. Khusus untuk di lokasi atau daerah yang memiliki tiupan angina yang kencang, petani sebaiknya menanam pohon pelindung, seperti dadap (Erythrina lithosperma atau Erythrina subumbrans), lamtoro (Leucaena glauca), dan sengon laut (Albizzia falcate). Untuk kopi jenis arabika yang tumbuh di ketinggian di atas 1.000 meter dpl, biasanya kondisi angin yang bertiup cukup kuat. Karena itu, gunakan tanaman pelindung. Tujuannya, untuk menahan angin yang cukup kencang.

e.     Ketinggian tempat

1. Arabika

Ketinggian tempat untuk perkebunan kopi arabika sekitar 1.000-2.100 meter dpl. Semakin tinggi lokasi perkebunan kopi arabika, rasa atau karakter kopi yang dihasilkan menjadi semakin baik dan enak.

2. Robusta

Ketinggian tempat yang optimal untuk perkebunan kopi robusta sekitar 400-1.200 meter dpl.

Sumber :

Aak. 1988. Budidaya tanaman kopi. Kanisius. Jakarta.

Adnyana I. M. 2011. Aplikasi Anjuran Pemupukan Tanaman Kopi Berbasis Uji Tanah di Desa

Bongancina Kabupaten Buleleng. Udayana Mengabdi, 10(2):64-66.

Baliza D. P. R. L., Cunha R. J., Guimarães A. D., Barbosa F. W. and Ávila M. A. Passos. 2011.

Physiological characteristics and development of coffee plants under different shading levels. Revista brasileira de ciências agrárias 7(1): 37-43

DaMatta F. M. 2011. Exploring drought tolerance in coffee: a physiological approach with some insights for plant breeding. Plant Physiol. 16(1):1-6.

 

]]>
Ir. Nani Nazir Wed, 28 Dec 2016 18:23:00 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1034-mengenal-tanaman-kopi
Hijaukan Kota dengan Urban Farming http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1016-hijaukan-kota-dengan-urban-farming bbppl-urbanfarming1Urban farming atau pertanian di perkotaan saat ini tengah menjadi wacana global. Revolusi industri di Eropa pada abad 18 secara tidak langsung berdampak pada perkembangan industri dunia. Sejarah urban farming telah hadir sejak zaman Mesir Kuno dengan adanya industriyang berdampak pada pertambahan penduduk kota. Pertambahan penduduk terutama karena adanya pertambahan penduduk kota (urbanisasi)menimbulkan masalah baru yaitu jumlah ketersediaan pangan serta pencemaran udara. Urbanisasi menyebabkan jumlah permintaan pangan meningkat sedangkan lahan pertanian menyempit sehingga terjadi ketidakseimbangan ketersediaan pangan. Polusi udara terjadi dikarenakan asap pabrik dan kendaraan bermotor ditambah lagi dengan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (pepohonan).

bbppl-urbanfarming8Menanggapi permasalahan di atas, urban farming (pertanian kota) merupakan salah satu solusi mengatasinya. Urban farmingmerupakan konsep pertanian yang dapat dijalankan di perkotaan. Dengan urban farming diharapkan setiap penduduk kota dapat memaksimalkan lahan yang sempit untuk kegiatan pertanian yang dialakukan secara intensif dengan teknologi yang memungkinkan hasil yang tinggi pada lahan terbatas. Hal ini tentunya memberikan tantangan yang dinamis karena aktivitas pertanian di perkotaan perlu melibatkan gabungan antara keterampilan, keahlian dan inovasi dalam budidaya secara kreatif.

bbppl-urbanfarmingKegiatan urban farming dapatdilakukan oleh setiap warga perkotaan. Biasanya model urban farming ini diperuntukkan sebagai pemanfaatan ruang terbuka hijau baik privat atau publik (Ruang Terbuka Hijau). Selain memberikan kontribusi penyelamatan lingkungan melalui pengelolaan 3R (reuse, reduse, recycle), juga dapat menghasilkan O2 untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup kota, meningkatkan estetika kota bahkan lebih jauh lagi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan bisa juga menjadikan penghasilan tambahan bagi penduduk kota.

Kesadaran mengenai degradasi lingkungan di perkotaan akibat relokasi sumberdaya menjadikan inspirasi untuk mengembangkan skema pertanian urban di Indonesia. Pertanian urban umumnya dilakukan untuk beberapa tujuan, diantaranya:

  1. Tujuan produktif: pertanian lahan kota sebagai pemenuhan kebutuhan pangan meskipun hanya untuk kebutuhan personal
  2. Tujuan astetika: pertanian lahan kota baik ditanami tanaman pangan/tanaman hias dengan fokus tujuan pada seni, sehingga masyarakat urban memiliki “hiburan” atau wadah relaksasi dan rekreasi lokal yang segar
  3. Tujuan ekologis: pertanian lahan kota yang memfokuskan kegiatannya sebagai penyelamatan lingkungan hidup dengan cara memaksimalkan prinsip #R
  4. Tujuan industri/bisnis: pertanian kota dengan skala besar yang bertujuan bisa memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di kawasan perkotaan

bbppl-urbanfarming9Contoh kota di Indonesia yang sudah menerapkan Urban Farming selain Kota Surabaya juga di Kota Bandung, dengan jumlah penduduk yang besar dan pembangunan yang pesat, tak lagi memiliki banyak lahan hijau. Pemkot Bandung sedang gencar mensosialisasikan program urban farming. Konsep urban farming tersebut adalah memanfaatkan lahan tidur di perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian produktif hijau dimana setiap RW diwajibkan menanam berbagai jenis tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

bbppl-urbanfarming4Aneka jenis Urban Farming menurut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, terdiri dari:

1. Tipe A: perkebunan dalam pot/polybag/wadah daur ulang lainnya

2. Tipe B: rumah dengan tanaman produktif di halaman (satu rumah satu pohon)

3. Tipe C: pekarangan rumah bermanfaat sayuran atau tanaman hias

4. Tipe D: tanaman pada dinding (vertikultur)

5. Tipe E: tanaman merambat pada pagar

6. Tipe F: pemanfaatan lahan tidur (komunitas)

bbppl-urbanfarming2Salah satu gerakan Urban Farming di Kota Bandung ini dibangun berdasarkan Ide atau Inovasi warga kotanya terdapat di daerah Pajajaran dengan penerapan berbagai teknologi pertanian yaitu teknologi lading atap (rooftop farm), vertikultur bahkan aquaponik dan bagi pemula di urban farming, bisa melihat langsung ke lokasi atau dapat dilihat melalui Grup public facebook dengan nama Urban Farming Pajajaran Bandung Juara yang dipelopori oleh Kusdian dan Wawan Setiawan.

Nah, sekarang coba perhatikan disekitar anda, apakah sudah menerapkan urban farming? Jika belum, mengapa tidak mulai bergerak dari Anda…yuk, segar hijaukan dinding kota kita…menjalani gaya hidup urban yang sehat dengan prinsip back to nature dan grow your own food secara tidak langsung kita akan menyadari bahwa “saving environment can be fun”.

Sumber Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian_urban

http://indonesiaberkebun.org/kebun-kota-metropolitan-indonesia-berkebun-diliput-secara-khusus-oleh-vivanews-com-untuk-fitur-sorot/

https://web.facebook.com/kusdian99

Berkebun, Indonesia. 2015. Urban Farming ala Indonesia Berkebun. Jakarta: AgroMedia Pustaka

____________. 2015. Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Bandung: Kaifa

Lanarc, HB. 2013. The Urban Farming Guidebook: Planning for the Business of Growing Food in BC’s Towns dan Cities.

 

]]>
Elsy Lediana, SP Tue, 15 Nov 2016 15:42:09 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1016-hijaukan-kota-dengan-urban-farming
Budidaya Gandum di Indonesia http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1011-budidaya-gandum-di-indonesia bbppl-gandumEra globalisasi yang kian melanda ke seluruh belahan bumi turut mempengaruhi perubahan pola makan manusia, termasuk di Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia, terutama di perkotaan, tidak hanya tergantung pada beras sebagai makanan pokok tapi sebagian sudah menggantinya dengan roti atau mie instan yang umumnya terbuat dari tepung terigu. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri karena tepung terigu terbuat dari gandum yang pada umumnya ditanam di daerah sub tropis, sehingga hampir seluruh kebutuhan tepung terigu dipenuhi dengan mengimpor gandum dari negara lain. Hal itu tentu saja menguras devisa negara dan membuat tingkat ketergantungan kita terhadap negara lain menjadi lebih tinggi.

Guna mengurangi impor gandum, perlu diupayakan pengembangan budidaya gandum di Indonesia untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan gandum yang akan diproses menjadi tepung terigu. Selama ini tanaman gandum di Indonesia hanya ditanam dalam skala yang kecil untuk konsumsi sendiri. Badan Litbang Pertanian telah melakukan beberapa penelitian yang menghasilkan beberapa varietas gandum yang bisa dan cocok untuk ditanam di Indonesia.

Syarat Tumbuh

Lokasi yang ideal untuk penanaman gandum di Indonesia adalah di daerah dataran menengah sampai dataran tinggi yang memiliki ketinggian mulai dari 800 m dpl, dengan suhu udara 15-25oC. Kelembaban udara yang diperlukan 80-90% dengan curah hujan paling tidak 600 mm per tahun, pH tanah 6,5-7,1 serta tanah yang gembur dan subur lebih disukai oleh tanaman gandum. Tanah yang tergenang tidak disukai oleh tanaman gandum.

Benih Gandum

Benih gandum yang baik adalah yang: 1) Berasal dari malai yang matang pada batang utama, 2) Mempunyai bentuk dan warna yang seragam, 3) Bebas dari hama dan penyakit, serta 4) Mempunyai bobot yang tinggi dan seragam. Benih gandum memiliki masa dormansi yang tidak terlalu lama yaitu 0 hingga 4 bulan. Benih yang dibutuhkan yaitu 75-100 kg/ha dengan sistem tugal. Varietas yang banyak ditanam di Indonesia saat ini adalah Dewata dan Selayar.

bbppl-gandum2Persiapan Lahan

Tanah dicangkul sedalam 25-30 cm satu minggu sebelum tanam, kemudian dibiarkan, bila sebelumnya tanah diberakan maka pengolahan tanah dilakukan dua kali. Setelah itu buat bedengan sekitar 2 meter lebarnya dengan panjang menyesuaikan dengan kondisi lahan, selokan antar bedengan dibuat selebar 50 cm sedalam 25 cm.

Penanaman

Gandum sebaiknya ditanam di awal musim kemarau atau akhir musim hujan. Cara tanam dengan menggunakan tugal di dalam barisan kemudian benih 1-2 butir dimasukkan ke dalam lubang kemudian ditutup kembali menggunakan tanah. Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm x 10 cm atau 25 x 10 cm.

Pengairan

Setelah tanam benih gandum dan pemupukan dasar, lahan perlu diairi agar benih dapat berkecambah dan tumbuh dengan baik. Selanjutnya pengairan dilakukan setelah dilakukan penyiangan dan pemupukan susulan yaitu pada umur 30 HST (Hari Setelah Tanam), pada waktu fase bunting sampai ke luar malai (45-65 HST) dan pada fase pengisian biji sampai masak (70-90 HST).

Penyiangan dan Pemupukan

Pemupukan dasar dapat dilakukan sebelum atau pada saat tanam. Pupuk organik dicampur dengan tanah dalam bedengan sejumlah 10-20 ton/ha. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan. Pupuk susulan diberikan saat 7-14 HST sebanyak 100 kg/ha urea, 100 kg/ha SP36 dan 50 kg/ha KCl, sedangkan pupuk susulan kedua diberikan pada saat tanaman berumur 30 HST dengan dosis yang sama yaitu 100 kg/ha urea, 100 kg/ha SP36 dan 50 kg/ha KCl. Penyiangan ketiga dapat dilakukan bila populasi gulma tinggi/banyak.

bbppl-gandum1Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama utama tanaman gandum salah satunya adalah ulat tanah yang bisa dikendalikan dengan pemberian Furadan pada lubang tanam. Hama utama lain adalah kepik hijau dan aphids yang dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Jamur menyerang pada saat curah hujan tinggi dan dikendalikan dengan penyemprotan fungisida.

Panen

Saat panen gandum adalah apabila 80% dari rumpun telah bermalai, jerami, batang dan daun telah menguning serta biji sudah mengeras. Umur panen gandum berkisar 90-125 hari tergantung ketinggian tempat. Pemanenan dilakukan saat cuaca cerah dengan cara menyabit batang gandum dengan sabit bergerigi. Selanjutnya malai dijemur kemudian dirontokkan dengan tresher padi yang sudah dimodifikasi.

Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Cara Menanam Gandum. http://teknologi--tepat-guna.blogspot.com/2013/09/cara-menanam-gandum.html

Balai Penelitian Tanaman Serealia. 2013. Gandum, Varietas dan Teknik Budidaya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Qolamul Hasna. 2012. http://planthospital.blogspot.com/2012/02/budidaya-tanaman-gandum.html

 

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Thu, 03 Nov 2016 21:03:20 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1011-budidaya-gandum-di-indonesia
Mengolah Kubis Menjadi Emping http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/981-mengolah-kubis-menjadi-emping MENGOLAH  KUBIS MENJADI EMPING

Oleh : Setia Wahyuti, SH., MP 

 

Emping Kubis

Kubis, kol, kobis, atau kobis bulat adalah nama yang diberikan untuk tumbuhan sayuran daun yang populer. Tumbuhan dengan nama ilmiah Brassica oleracea L. Kelompok Capitata ini dimanfaatkan daunnya untuk dimakan. Daun ini tersusun sangat rapat membentuk bulatan atau bulatan pipih, yang disebut krop, kop atau kepala (capitata) Kubis berasal dari Eropa Selatan dan Eropa Barat. Kubis memiliki ciri khas membentuk krop. Warna kubis putih, putih kehijauan dan ungu. Kubis biasa dimasak sebagaui sup, campuran gado gado, pelengkap soto dan salad, dan juga dapat dubuat emping kubis.

 

Macam-macam kubis

Ada beberapa jenis tanaman kubis yang banyak diusahakandiantaranya ialah kubis krop, kubis daun,, kubis umbi, kubis tunas, dan kubis bunga.

  1. Kubis krop  atau krop kubis putih tersebut besar dan padat. kubis telur terkenal dengan nama kubis putih.
  2. Kubis tunas atau kubis babat.kubis tunas biasanya membentuk krop bahkan tunas samping dapat  membentuk krop kecil, dalam satu pohon terdapat beberapa krop tunas kecil
  3. Kubis umbi pada bagian dasar batang dibawah tanah atau diatas tanah membesar hingga merupakan umbi besar
  4. Kubis bunga.jenis ini bakal bunganya mengembang dan membentuk masa bunga . Bunga berbentuk kerucut terbalik dan warnanya putih kekuningan
  5. Jenis kubis lain yang mirip kubis bunga adalah brokoli, masa bunga brokoli berwarna hijau lebih kompak dan lebih lezat disbanding kubis bunga.

 

Kandungan gizi dan manfaat

Kubis segar mengandung banyak vitamin (A, beberapa B, C, dan E). Kandungan Vitamin C cukup tinggi untuk mencegah skorbut (sariawan akut). Mineral yang banyak dikandung adalah kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga mengandung sejumlah senyawa yang merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia.

Antigizi

Sebagaimana suku kubis-kubisan lain, kubis mengandung sejumlah senyawa yang dapat merangsang pembentukan gas dalam lambung sehingga menimbulkan rasa kembung (zat-zat goiterogen). Daun kubis juga mengandung kelompok glukosinolat yang menyebabkan rasa agak pahit. Kubis segar mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium, vitamin (A, C, E, tiamin, riboflavin, nicotinamide), kalsium, dan beta karoten. Selain itu, juga mengandung senyawa sianohidroksibutena (CHB), sulforafan yang merangsang pembentukan glutation, suatu enzim yang bekerja dengan cara menguraikan dan membuang zat-zat beracun yang beredar di dalam tubuh. Tingginya kandungan vitamin C dalam kubis dapat mencegah timbulnya skorbut (scurvy). Adanya zat antosianin menyebabkan warna kubis dapat berubah menjadi merah. Kandungan zat aktifnya, sulforafan dan histidine dapat menghambat pertumbuhan tumor, mencegah kanker kolon, dan rektum, detoksikasi senyawa kimia berbahaya, seperti kobalt, nikel dan tembaga yang berlebihan di dalam tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan kanker. Kandungan asam amino dalam sulfurnya, juga berkhasiat menurunkan kadar kolesterol yang tinggi, penenang saraf, dan membangkitkan semangat. Kubis memiliki vitamin C & E yang cukup tinggi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas, menghancurkan sel jahat dan membuang racun dalam tubuh kita. Kubis memiliki bau yang khas yang disebabkan oleh komponen sulfur berupa senyawa fitokimia atau indol. Indol dapat menghambat hormon estrogen sehingga memicu peningkatan produksi enzim yang dapat menghalangi pertumbuhan sel kanker baru. Jadi sangat baik untuk mencegah kanker payudara. Kubis mengandung isothiocyanate yang dapat menghancurkan sel tumor dan sulforaphane yang dapat menstimulasi produksi enzim glutathione yang bekerja memindahkan toksin dari kolon dan membuang dari tubuh sebelum toksin merusak sel.

Kubis dapat  disimpan dalam bentuk kering daun atau dapat juga dibuat emping kubis,  untuk produk kering berupa emping  dapat dipilih kubis yang berwarna putih, begitu juga kubis untuk  diolah menjadi sauerkrut dan kimchee. Mutu olahan yang baik akan diperoleh apabila pengolahan dilakukan segera setelah dipanen.

Emping adalah sejenis keripik yang biasa dibuat dari buah melinjo yang telah tua, produk hasil olahan pertanian ini harganya cukup menjanjikankarena makanan camilan ini banyak disukai remaja masa kini. Bentuk olahan emping ini dapat dogolongkan sebagai emping tipis dan emping tebal, emping tipis dipipihkan beberapakali sampai cukup tipis ( tebal 0,5-1,5 mm) dan bila kering diupayakan tidak remuk, dan emping tebal dibuat dengan pemipihan sekedar mengurangi ketebalan dari ketebalan butiran utuhnya. Emping yang bermutu tinggi  adalah emping yang tipis sehingga kelihatan agak bening kekuningan dengan diameter seragam, kering sehingga dapat digoreng langsung. Emping dengan yang bermutu lebih rendah mempunyai ciri-ciri; lebih tebal, dia meter kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng.

Emping dapat ditambahkan bumbu-bumbu sesuai selera, misalnya asin, pedas, gurih, manis dan ditambahkan irisan daun bawang atau ditambahkan bumbu-bumbu lain.  Bahan-bahan yang biasa diolah menjadi emping selain melinjo yaitu singkong dan ubi kayu, jagung karena banyak mengandung pati. Namun dari  komoditas sayuran kubis juga dapat dibuat emping  dengan menambahkan rekatan agar dapat dibentuk dan dipipihkan, dan dikeringkan menjadi semacam produk emping kubis.

Salah satu cara membuat emping kubis yaitu persiapan alat dan bahan.  Alat dan bahan  pembuatan emping kubis  adalah  :  baskom, saringan  dari anyaman bamboo, talenan, pisau, blender, pengaduk, tampah, panci, wajan, kompor, timbangan, plastik  PP dan silinder.

Membuat emping kubis

Olahan emping kubis merupakan alternatif olahan kubis yang mempunyai nilai jual, diversifikasi olahan kubis, memperpanjang masa simpan dan meningkatkan pendapatan jika diupayakan secara komersial. Selamat Mencoba.Bahan : kubis usia panen  ¼ kg  yang telah dibuang tulang-tulangnya, tepung tapioka/kanji ¼ kg dibagi menjadi 2 bagian, tepung  mazena  3 sendok makan, tepung terigu secukupnya (siapkan aja ¼ kg), telur ayam 1 butir, garam dan air  200 cc secukupnya untuk memblender. Cara membuat emping jagung adalah siapkan daun kubis yang sehat,  warna putih  segar dan tidak busuk ¼ kg, siapkan bahan tambahan :  tepung mazena 3 sdm, tepung tapioca/ kanji ¼ kg, telur ayam 1 butir, tepung terigu siapkan ¼ kg, kubis dicuci dengan membuka lembaran daun kubisnya, serta dibuang empela/tulang, kubis dirajang tipis-tipis agar mudah dalam pemblenderan, rebus rajangan kubis selama 10 menit, tiriskan  dengan saringan  cuci  sambil diperas, blender daun kubis  dengan tambahkan air 200 cc, blender  hingga menjadi bubur, buang  airnya 150 cc, kocok telur, dan masukan  dengan Bubur kubis ditambahkan tepung maizena  dan sebagian   tepung kanji dari ¼ kg( separuhnya tepung tapioca/ kanji), masak adonan hingga mengental, setelah itu angkat, tambahkan sisa tepung tapioca/kanji dan aduk-aduk hingga rata dan agar lebih kalis tambahkan, terigu  sedikit-demi sedikit  hingga adonan tidak lengket ditangan/kalis, untuk menyeragamkan kepingan emping, adonanan dibentuk bulat kecil-kecil  menyerupai kelereng dan besarnya  seragam agar diperoleh lempengan yang seragam, susun emping kubis diatas tampah dan jemur hingga kering  air  kadar 12% ( dengan ciri) emping gemersik dan  mudah dipatahkan/bunyi klik .

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Carmencita Tjahjadi, 2008.Teknologi Pengolahan Sayuran dan Buah Volume 2 Pengantar Lengkap Teknologi Pengolahan Sayuran dan Buah-buahan , ISBN 978-602-8323-03-1,Widya Padjadjaran.Bandung.

Bambang Cahyono, 2010. Sukses Budi Daya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan, SBN:978-979-29-1559-4, Lily Publisher, Ed.I.Yogyakarta: ANDI

Marleen S. Herudiyanto, Carmencita Tjahjadi,2008.Praktikum Bahan Pangan dan Dasar-Dasar Pengolahan.ISBN: 978-602-8323-25-3. Widya Pajajaran . Bandung.

Marleen S. Herudiyanto.2008. Pengantar Teknologi Pengolahan Pangan. ISBN:978-602-8323-24-6. Widya Padjadjaran.Bandung.

Marleen S. Herudiyanto.2010. Teknologi Pengemasan Pangan  . ISBN:978-602-8323-31-7. Widya Padjadjaran.Bandung.

Supli Effendi, Prof.Dr.H.M.Ir, M.S. 2009, Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan.Cetakan Kesatu. ISBN: 978-602-8361-45-3. CV Alfabeta, Bandung.

Tien R. Muchtadi, M.S. Prof. Dr. Ir, Fitriyono Ayustaningwarno s.tp; Si.Teknologi Proses Pengolahan Pangan . Cetakan  Keempat. ISBN: 978-602-8800-15-0. Anggota Ikatan Penerbit Indonesia  (IKAPI)

]]>
Setia Wahyuti, SH., MP Wed, 27 Jul 2016 14:34:32 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/981-mengolah-kubis-menjadi-emping
Meningkatkan Nilai Tambah Buah Mangga (Mangifera indica L.) Muda Diolah Menjadi Sirup Mangga http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/976-meningkatkan-nilai-tambah-buah-mangga-mangifera-indica-l-muda-diolah-menjadi-sirup-mangga Meningkatkan Nilai Tambah Buah Mangga (Mangifera indica L.) Muda

Diolah Menjadi Sirup Mangga

Oleh : Saptoningsih

 

 

sirup  mangga

Mangga (Mangifera indica L.) merupakan salah satu jenis buah yang mudah dijumpai di Negara tropis termasuk Indonesia. Indonesia merupakan negara penghasil mangga nomor 3 di dunia. Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga L.) bisa mencapai tinggi 10-40 m.

Buah mangga termasuk buah-buahan penting yang ekonomis di Indonesia, yaitu terdapat sekitar tujuh juta pohon mangga  yang meliputi lahan seluas 80.000 ha. Namun, luasan lahan yang ditumbuhi varietas mangga yang dapat diekspor relatif kecil (Broto, 2009). Tahun 2002 Indonesia mengekspor mangga sebesar 63.742 kg atau senilai dengan $ 32,320 (BPS, 2003). Produksi mangga  di Indonesia pada tahun 2002 mencapai 1.375.939 ton (Departemen pertanian 2003).

 

Buah dengan cita rasa nikmat ini banyak digemari, biasanya ia dikonsumsi dalam ragam cara. Kebanyakan, buah mangga yang telah masak dimakan tanpa diolah terlebih dahulu, sementara itu, buah mangga yang masih mengkal dan    muda biasanya diolah menjadi kuliner tertentu agar lebih nikmat. Tak semua orang memang menyukai rasa kecut pada mangga muda,   apalagi kadang-kadang mangga muda berjatuhan sebelum waktunya atau pada saat panen raya harga mangga sangat murah .   Jika sudah demikian, tak ada salahnya mengolah mangga muda atau mangga yang melimpah agar diolah sehingga meningkatkan harga jual, memperpanjang masa simpan dan dapat menyediakan konsumsi mangga pada saat diluar musim.

Sebagai buah tentu mangga juga kaya akan nutrisi yaitu mengandung 76% vitamin C, 25% vitamin A, 11% vitamin B6, 9% serat prebiotik, dan masih banyak lainnya dalam takaran satu cangkir potongan mangga. Selain itu buah ini juga sangat kaya akan manfaat dan diantaranya adalah mencerahkan kulit, menyehatkan mata, menurunkan kolesterol, mencegah kanker, mengobati panas dalam, meningkatkan kekebalan tubuh dan lain-lain.

Mangga juga merupakan salah satu jenis tanaman buah yang buahnya tidak tahan disimpan lama. Saat panen raya, mungkin tidak semua buah habis terjual sehingga menjadi rusak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya upaya pengolahan atau diversifikasi produk. Selain untuk mengatasi masalah panen berlimpah, upaya deversifikasi produk ini pun dapat meningkatkan pendapatan petani.

Hampir semua jenis mangga dapat dibuat sirup yang penting buah mangga masih dalam kondisi masih segar, tidak ada kebusukan dan warna buah yang gunakan harus seragam, dalam mengolah buah mangga menjadi sebuah olahan apapun untuk keseragaman warna sangat penting apalagi membuat sirup mangga, jikalau sirup dibuat dari buah muda mangga maka warna sirupnya akan berwarna kehijauan. Sedangkan apabila warna mangga yang masih muda dicampur dengan mangga matang atau mangga yang berwarna orange maka apabila diolah akan menghasilkan sirup berwarna kecoklatan. Kadang-kadang dalam membuat sirup dari buah mangga yang masih berwarna hijau maka kulit buahnya tidak perlu dikupas.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sirup mangga adalah ½ kg mangga yang masih muda jenis apapun, ½ kg gula pasir, 2 gr Natrium Benzoat dan 1 liter air matang. Caranya : 1. Sortasi semua buah mangga yang masih segar dan potong bagian yang terkena kebusukan. 2. Cucilah mangga yang telah disortasi dengan air matang kemudian potong-potong dan buang bagian yang tidak dapat dimakan. 3. Kukuslah buah mangga kira-kira 8 menit hingga menjadi lembek. 4. Haluskan mangga tersebut, kemudian tambahkan air dan diaduk merata, kemudian saring. 5. Masukan gula pada mangga yang telah disaring tersebut, dan panaskan sambil diaduk- aduk hingga kental dan mendidih 6. Angkat tambahkan pengawet atau pewarna hijau kalau diperlukan dan dinginkan, kemudian masukan kedalam botol, dan beri label.

Dengan dilakukannya diversifikasi olahan buah mangga muda menjadi beberapa olahan buah mangga  telah terbukti dapat mengurangi limbah mangga muda yang biasanya terbuang. Setelah dilakukan perhitungan dengan membandingkan harga  buah mangga muda  tanpa diolah dengan harga buah mangga mudayang diolah telah dilakukan diversifikasi menjadi sirup mangga terjadi peningkatan nilai ekonomis pada buah mangga  muda.Setelah sirup dari mangga  muda  disajikan dan diujicobakan pada peserta pelatihan dari negara-negara Afrika Barat ternyata menghasilkan jawaban responden yang menyatakan bahwa sirup dari mangga  yang masih muda atauyang biasanya berjatuhan dan terbuang  disenangi oleh mereka( 92% ). Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya diversifikasi pada buah mangga muda yaitu menjadi sirup buah mangga muda  lebih disenangi daripada buah mangga muda  yang tidak diolah. Hendaknya diversifikasi buah mangga muda   menjadi sirup dikembangkan sebagai usaha yang berskala besar sehingga dapat membuka lapangan kerja baru dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.   dan   diharapkan  buah mangga muda  dapat dikembangkan melalui diversifikasi-diversifikasi yang lain.

Daftar Pustaka

Broto W. 2009. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk pasar. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.

Departemen Pertanian 2003. Petunjuk Teknis pengolahan Buah Mangga. http://jabar.litbang.pertanian.go.id /ind/images/stories/JUKNIS%2003 /Peng%20bh %20mangga.pdf

Suryanti. 2010. Panduan mengolah 20 jenis buah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Setyabudi DA. 2012. Makalah Teknologi Penanganan Pascapanen Mangga (Mangifera indica L). Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.

Redaksi Agromedia. 2009. Buku Pintar Budidaya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Agromedia Pustaka, Jakarta.

]]>
Ir. Saptoningsih, MP Sat, 16 Jul 2016 17:58:34 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/976-meningkatkan-nilai-tambah-buah-mangga-mangifera-indica-l-muda-diolah-menjadi-sirup-mangga
Dampak Human Capital terhadap Produksi dan Pendapatan Usahatani Paprika http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/975-dampak-human-capital-terhadap-produksi-dan-pendapatan-usahatani-paprika DAMPAK HUMAN CAPITAL TERHADAP PRODUKSI DAN

PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK

DI DESA PASIRLANGU KECAMATAN CISARUA

KABUPATEN BANDUNG BARAT

Dewi Padmisari Suryaningrum

10/349482/PPN/03639

INTISARI

Dengan mengikuti pelatihan, petani dengan pendidikan formal rendah diharapkan tetap dapat meningkatkan human capital-nya melalui pendidikan nonformal. Melalui pelatihan, petani diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya dalam mengatasi kendala-kendala dalam usahatani paprika.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan produksi dan pendapatan usahatani antara petani yang mengikuti pelatihan dan petani yang tidak mengikuti pelatihan serta mengetahui pengaruh variabel human capital dan variabel lain terhadap produksi dan pendapatan usahatani paprika hidroponik.

            Data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder. Responden pada penelitian ini adalah 12 orang petani yang telah mengikuti Pelatihan PHT Paprika dan 72 orang petani yang tidak pernah mengikuti pelatihan untuk perbandingan, sehingga keseluruhan responden sebanyak 84 orang petani.

            Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis human capital melalui perubahan kompetensi petani yang meliputi perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penerapan materi pelatihan untuk mengetahui human capital petani yang pernah mengikuti pelatihan, analisis usahatani untuk mengetahui perbandingan usahatani antara petani yang mengikuti pelatihan dan petani yang tidak mengikuti pelatihan, analisis R/C rasio untuk mengetahui perbandingan kelayakan usahatani antara petani yang mengikuti pelatihan dan petani yang tidak mengikuti pelatihan, dan analisis regresi berganda (OLS) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani paprika hidroponik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Human capital petani yang mengikuti pelatihan berada pada kriteria tinggi, artinya human capital petani dapat ditingkatkan melalui pelatihan. Pelatihan dapat meningkatkan kompetensi petani dan materi yang dilatihkan pada umumnya dapat diterapkan oleh petani, (2) Produksi dan pendapatan petani yang mengikuti pelatihan lebih besar dan berbeda nyata daripada petani yang tidak mengikuti pelatihan, (3) Usahatani paprika hidroponik oleh petani yang mengikuti pelatihan dan petani yang tidak mengikuti pelatihan, keduanya layak untuk diusahakan, (4) R/C rasio petani yang mengikuti pelatihan lebih besar dan berbeda nyata daripada petani yang tidak mengikuti pelatihan, (5) Human capital berpengaruh nyata terhadap produksi dan pendapatan usahatani paprika hidroponik, (6) Human capital pelatihan dan pengalaman berpengaruh positif terhadap produksi paprika hidroponik, demikian juga luas green house dan jumlah pestisida, sedangkan umur petani berpengaruh negatif, (7) Human capital pelatihan dan pengalaman berpengaruh positif terhadap pendapatan usahatani paprika hidroponik, demikian juga luas green house sedangkan umur petani, harga benih, harga pestisida, dan warna hasil panen paprika (hijau+merah+kuning) berpengaruh negatif.

Kata Kunci: Human capital, usahatani paprika

                                                                                                    

]]>
Dewi Padmisari, SP, M.Sc Mon, 23 May 2016 23:39:43 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/975-dampak-human-capital-terhadap-produksi-dan-pendapatan-usahatani-paprika
Pertanian Organik menuju Pertanian Berkelanjutan http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/969-pertanian-organik-menuju-pertanian-berkelanjutan bbppl-pertanianorganik1Pertanian modern/konvensional sangat tergantung pada input kimia buatan (pupuk dan pestisida), benih hibrida dan mekanisasi dengan memanfaatkan bahan bakar minyak dan juga irigasi. Sistem pertanian ini mengkonsumsi sumber-sumber yang tak dapat diperbarui, seperti minyak bumi dan fosfat dalam tingkat yang membahayakan. Sistem pertanian seperti ini berorientasi pasar dan membutuhkan modal besar.

Pemanfaatan input buatan yang berlebihan dan tidak seimbang dalam sistem konvensional bisa menimbulkan dampak besar terhadap situasi ekologi, ekonomi dan sosiopolitik, di antaranya ketergantungan yang semakin meningkat terhadap pestisida dan pupuk buatan. Input tersebut telah mencemari sungai dan air tanah dalam tingkat yang membahayakan.

Sejak akhir tahun delapan puluhan, mulai tampak tanda-tanda terjadinya kelelahan pada tanah dan penurunan produktivitas pada hampir semua jenis tanaman yang diusahakan. Hasil tanaman tidak menunjukkan kecenderungan meningkat walaupun telah digunakan varietas unggul yang memerlukan pemeliharaan dan pengelolaan hara secara intensif melalui bermacam-macam paket teknologi.

Penerapan sistem pertanian alternatif yang berwawasan lingkungan merupakan konsep yang pemasyarakatannya memerlukan waktu yang relatif panjang. Oleh karena itu diperlukan diseminasi terus menerus konsep pengelolaan lahan secara organik agar sistem pertanian di Indonesia menjadi sistem pertanian yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Konsep Pertanian Organik

Pada kamus Wikipedia disebutkan bahwa usahatani organik (organic farming) adalah bentuk usahatani yang menghindari atau secara besar-besaran menyingkirkan penggunaan pupuk dan pestisida sintetis, zat pengatur tumbuh tanaman dan perangsang.

Menurut Codex Alimentarius Guidelines, jika sebuah produk disebut organik, berarti bahwa produk-produk tersebut sudah diproduksi menurut standar produksi organik dan disertifikasi oleh lembaga sertifikasi atau pihak-pihak yang mendapat otoritas untuk itu. Sementara yang disebut dengan pertanian organik adalah kegiatan pertanian yang mengupayakan penggunaan asupan luar yang minimal dan menghindari penggunaan pestisida dan pupuk sintetis. Tata cara bertani dalam pertanian organik dapat digunakan untuk meminimalkan polusi udara, polusi tanah dan polusi air.

bbppl-pertanianorganikDi Indonesia, yang disebut dengan produk pertanian organik ditetapkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pertanian Organik no SNI 6729-2013. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement) menyepakati ada 4 prinsip dasar pertanian organik, yaitu:

  1. Prinsip Kesehatan: pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
  2. Prinsip Ekologi: pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan.
  3. Prinsip Keadilan: pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
  4. Prinsip Perlindungan: pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.

Pertanian Berkelanjutan

Dalam pembangunan di bidang pertanian, peningkatan produksi seringkali diberi perhatian utama. Namun ada batas maksimal produktivitas ekosistem. Jika batas ini dilampaui, ekosistem akan mengalami degradasi dan kemungkinan akan runtuh sehingga hanya sedikit orang yang bisa bertahan hidup dengan sumber daya yang tersisa. Produksi dan konsumsi harus seimbang pada tingkat yang berkelanjutan dari segi ekologis.

Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Sistem pertanian bisa dikatakan berkelanjutan bila mencakup hal-hal berikut ini:

  • Mantap secara ekologis, yang berarti bahwa kualitas sumber daya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan – dari manusia, tanaman, hewan sampai organisme tanah – ditingkatkan. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga kehilangan unsur hara, biomassa dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran.
  • Bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti bahwa petani bisa cukup menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan dan atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
  • Adil, yang berarti bahwa sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi dan hak-hak mereka dalam penggunaan lahan, modal yang memadai, bantuan teknis serta peluang pemasaran terjamin.
  • Manusiawi, yang berarti bahwa semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) dihargai
  • Luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus-menerus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila pertanian organik dilaksanakan dengan baik maka dengan cepat akan memulihkan tanah yang sakit akibat penggunaan bahan kimia. Hal ini terjadi apabila fauna tanah dan mikroorganisme yang bermanfaat dipulihkan kehidupannya, dan kualitas tanah ditingkatkan dengan pemberian bahan organik karena akan terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Pengelolaan Lahan secara Organik

bbppl-pertanianorganik3Sistem usahatani harus direncanakan dan disusun sesuai dengan kebutuhan unsur hara dan selanjutnya akan membantu dalam mempertahankan produktivitas tanah.Terdapat beberapa sistem usahatani yang dapat meningkatkan produktivitas tanah melalui penggunaan bahan organik yang berasal dari tanaman maupun hewan, konservasi sumber daya tanah dan air serta dihindarkan terjadinya pencemaran lingkungan, diantaranya adalah:

  1. Budidaya lorong (alley cropping) dan pertanian sejajar kontur (contour farming)
  2. Wanatani/Hutantani (agroforestry)
  3. Intensifikasi pekarangan
  4. Sistem pertanaman campuran dan pergiliran tanaman
  5. Sistem pertanaman surjan
  6. Pertanian – Perikanan terpadu
  7. Pertanian – Peternakan terpadu
  8. Pertanian – Peternakan – Perikanan terpadu

Perlindungan tanaman merupakan proses yang bersifat kompleks sehingga memerlukan pemahaman peranan masing-masing komponen lingkungan, sistem usahatani dan sistem pertanaman yang dilaksanakan.Beberapa praktek budidaya sebagai berikut membantu pengendalian hama penyakit pada pertanian organik:

  1.    Pertanaman campuran dan diversifikasi
  2.    Lokasi lahan, dalam suatu bentang lahan terdapat lahan yang tidak diusahakan
  3.    Pergiliran tanaman, prinsipnya adalah memutus daur hidup hama tertentu
  4.    Irama alam dan saat tanam yang tepat, pada umumnya ledakan serangan hama selalu berhubungan dengan kondisi alam tertentu
  5.    Pemupukan dan kesehatan tanaman
  6.    Pengolahan tanah, terutama untuk tanaman sayuran merupakan salah satu tindakan pencegahan terhadap serangan hama.
  7.    Pemilihan varietas
  8.    Gatra sosial, petani secara individu tidak mungkin dapat melaksanakan perlindungan secara efektif untuk areal yang cukup luas, dengan demikian untuk melaksanakan usaha perlindungan tanaman untuk suatu hamparan diperlukan kerjasama dengan petani yang lain.
  9.    Pemanfaatan pestisida hayati.

Sertifikasi Pertanian Organik

Sertifikasi organik adalah proses untuk mendapatkan pengakuan bahwa proses buudidaya pertanian organik atau proses pengolahan produk organik dilakukan berdasarkan standar dan regulasi yang ada. Apabila memenuhi prinsip dan kaidah organik, produsen dan atau pengolah akan mendapatkan sertifikat organik dan berhak mencantumkan label organik pada produk yang dihasilkan dan bahan-bahan publikasinya.

Sertifikasi produk pertanian organik di Indonesia dapat dilakukan dengan cara: pelaku usaha pertanian organik mendaftar ke LSO (Lembaga Sertifikasi Organik) yang telah diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan diverifikasi oleh OKPO (Otoritas Kompeten Pangan Organik) Kementerian Pertanian. Proses sertifikasi dilakukan 4 tahap yaitu : (1) aplikasi sertifikasi, (2) inspeksi yang terdiri dari review dokumen aplikasi dan inspeksi proses produksi, fasilitas produksi dan dokumentasi, (3) keputusan sertifikasi dan (4) pemberian sertifikat dan inspeksi tiap tahun. Sertifikat diberikan bila memenuhi persyaratan kesesuaian dan berhak mencantumkan logo/tanda pangan organik yang dilengkapi nomor register.

Otoritas atau lembaga setifikasi resmi harus memastikan bahwa semua inspeksi fisik dilakukan paling sedikit sekali dalam setahun dalam unit tersebut. Contoh untuk pengajuan produk yang tidak tercantum dalam yang diperbolehkan dalam standar dapat dilakukan jika dirasa penggunaannya mencurigakan. Tambahan frekuensi kunjungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Untuk tujuan inspeksi, operator harus memberikan akses kepada otoritas atau lembaga sertifikasi resmi ke lokasi produksi, penyimpanan dan ke areal lahan serta ke semua dokumen pendukung yang diperlukan. Untuk tujuan inspeksi, operator juga harus memberikan semua informasi yang diperlukan kepada lembaga inspeksi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Coen Reijntjes, Bertus Haverkort dan Ann Waters-Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rachman Sutanto. 2002. Pertanian Organik, Menuju Pertanian Alternatif Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rachman Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sabastian Eliyas Saragih. 2008. Pertanian Organik. Solusi Hidup Harmoni dan Berkelanjutan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional. 2013. Sistem Pangan Organik.Standar Nasional Indonesia (SNI) 0729-2013. Jakarta

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Thu, 24 Mar 2016 17:02:19 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/969-pertanian-organik-menuju-pertanian-berkelanjutan
Taiwan, Produsen Anggrek Kelas Dunia http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/967-taiwan-produsen-anggrek-kelas-dunia bbppl-anggrektaiwan2Taiwan merupakan negara produsen anggrek terkemuka dan salah satu negara eksportir anggrek terbesar di dunia. Iklim subtropis Taiwan ideal untuk pertumbuhan anggrek dengan temperatur yang hangat, cahaya matahari yang cukup berlimpah, kelembaban yang tinggi dan frekuensi hujan yang cukup. Hampir sepanjang tahun greenhouse di Taiwan tidak memerlukan sistem pengontrolan temperatur dan kelembaban yang memerlukan sumber energi, sehingga dapat mengurangi biaya produksi anggrek. Petani anggrek di Taiwan dapat mengontrol periode pembungaan dan menyediakan banyak varietas bunga anggrek yang beragam bentuk dan kombinasi warnanya untuk memenuhi keinginan konsumen.

Pengembangan Varietas Anggrek

Pada awalnya budidaya anggrek hanya merupakan sebuah hobi di Taiwan, namun melihat prospeknya yang menjanjikan, beberapa orang mulai merintisnya menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Agroindustri anggrek ini didukung penuh oleh pemerintah Taiwan, baik dari sisi penelitian dan pengembangan anggrek, pembibitan sampai ke pemasaran.

Anggrek merupakan tanaman hias yang paling banyak jenisnya di dunia, yaitu lebih dari 25.000 spesies. Taiwan kaya akan jenis anggrek alam dan salah satu negara termaju dalam teknik pemuliaan anggrek untuk memproduksi varietas baru yang lebih indah. Guna pengawetan plasma nutfah anggrek, Badan Litbang Taiwan (Taiwan Agricultural Research Institute/TARI) telah mengembangkan teknologi penyimpanan benih anggrek yaitu dengan dibekukan di dalam nitrogen cair pada suhu -197o C sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu 20 tahun dengan daya kecambah masih bisa mencapai >75%.

bbppl anggrektaiwan1Banyak varietas anggrek yang dikembangkan di Taiwan, namun sebagian besar adalah spesies anggrek bulan (Phalaenopsis spp) sebagai bunga pot, faktanya lebih dari 80% anggrek bulan yang diimpor oleh Amerika Serikat berasal dari Taiwan, selain itu juga mereka banyak mengembangkan bunga potong Oncidium spp yang di Indonesia terkenal dengan sebutan anggrek Golden Shower. Petani anggrek di Taiwan telah sukses mengembangkan banyak variasi anggrek bulan, selain varietas warna merah dan putih sekarang ada anggrek bulan berwarna kuning dan multiwarna.

Taiwan melindungi hak cipta varietas baru yang disilangkan pemulia tanaman, termasuk tanaman anggrek. Orang yang menciptakan varietas tanaman yang baru harus mendaftarkannya ke pemerintah dengan mengisi form aplikasi dan menulis deskripsi tanamannya serta dokumen pendukung lainnya. Varietas tanaman yang didaftarkan harus benar-benar baru, jelas berbeda dari varietas lain yang sudah ada, seragam dan memiliki kestabilan dalam karakteristiknya. Pemegang hak cipta varietas tanaman memiliki hak eksklusif untuk memproduksi dan memperbanyak tanaman serta menawarkan dan menjualnya, hak cipta ini berlaku selama 25 tahun untuk jenis tanaman pohon dan 20 tahun untuk tanaman jenis lainnya. Sudah 15 spesies anggrek yang didaftarkan untuk mendapatkan hak cipta, sebagian besar (91%) adalah jenis anggrek bulan, sisanya (9%) spesies anggrek yang lain. Dari tahun 2002 sampai tahun 2014 sudah 355 hak cipta diberikan untuk jenis anggrek Phalaenopsis spp (Doritaenopsis spp).

Bisnis Anggrek di Taiwan

bbppl anggrektaiwanSalah satu tonggak utama perubahan dalam bisnis anggrek Taiwan dari hobi menjadi industri adalah masuknya perusahaan negara Taiwan yaitu Taiwan Sugar Corp (TSC) pada tahun 1987 untuk memulai kegiatan bisnis di bidang florikultura dan menjadi perusahaan pertama di Taiwan yang menjadikan tanaman anggrek sebagai sebuah industri. Melimpahnya lahan, SDM serta ketersediaan modal memungkinkan perusahaan ini untuk menjalankan bisnis anggrek bulan dalam skala industri. Perusahaan ini membangun banyak greenhouse untuk tanaman anggrek dan merangkul kelompok produsen kecil untuk bergabung dalam rantai produksinya. Model greenhouse yang dikembangkan dikontrol dengan komputer dan menggunakan dua lapisan jaring untuk melindungi bunga anggrek dari sinar matahari. Biaya produksi yang rendah memungkinkan bunga anggrek yang tadinya merupakan tanaman eksklusif menjadi tanaman yang produksinya bersifat massal dan harganya menjadi lebih murah.

Pemerintah Taiwan membangun taman bioteknologi anggrek yaitu Taiwan Orchid Plantation (TOP) yang mengkombinasikan industri anggrek berbasis ilmu biologi dan teknologi. TOP mengorganisasikan produksi dan pemuliaan anggrek, perdagangan, pameran, penelitian dan pengembangan serta promosi mengenai multi fungsi dari TOP kepada pihak-pihak terkait. TOP merencanakan untuk mengintegrasikan area produksi dengan area wisata di sekitarnya. Diselenggarakan pula setiap tahun pameran anggrek internasional (Taiwan International Orchid Show) sejak tahun 2004 yang menggunakan anggrek sebagai tema utama dalam desain, display dan kerajinan tangan. Bersamaan dengan pameran, dilakukan pula kompetisi bunga anggrek, simposium anggrek internasional, temu bisnis, tur ke perusahaan anggrek dan lain-lain. Pameran ini dikunjungi oleh sekitar 300.000 orang per tahun termasuk 3.000 orang profesional di bidang tanaman anggrek.

Para petani di Taiwan biasanya fokus pada satu tahap rantai produksi anggrek, misalnya beberapa orang fokus pada varietas baru, menyemai biji anggrek hingga menjadi benih anggrek dalam botol. Petani lain menanamnya pada media tanam moss dalam pot plastik. Benih anggrek pada umumnya melalui 3 (tiga) tahap pertumbuhan yang masing-masing memakan waktu sekitar 4-6 bulan, biasanya setiap tahap tanaman dirawat oleh petani yang berbeda dan setiap tahap anggrek dipindahtanamkan ke pot yang lebih besar dan kemudian dikirimkan ke luar negeri. Pada greenhouse di Amerika Serikat, sentakan suhu dingin memicu tanaman untuk berbunga sehingga bisa segera dipasarkan kepada konsumen akhir. Taiwan saat ini telah menjadi negara pengirim anggrek terbanyak ke Amerika Serikat.

Ketua panitia konferensi anggrek pada tahun 2004, Chen Shih-shun menyatakan bahwa suksesnya bisnis anggrek Taiwan merupakan hasil dari kombinasi kecocokan geografis untuk melakukan budidaya anggrek, kerja keras para petani dan kemampuan pemerintah untuk mengenali potensi industri ini sehingga pemerintah Taiwan membantu dalam hal pengembangan infrastruktur dan investasi. Saat ini Taiwan telah mengekspor anggrek ke Amerika Serikat, China, negara-negara Eropa dan Jepang.

Kesuksesan bisnis anggrek Taiwan menunjukkan bahwa keberhasilan dalam bisnis suatu komoditas pertanian memerlukan kerja keras dan kesungguhan dari para petani dan pengusaha bisnis pertanian serta dukungan pemerintah terutama dalam hal infrastruktur dan menciptakan iklim berusaha yang kondusif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Taiwan Orchid : A Rare and Precious Gift from Mother Nature. http://www.taiwanembassy.org.

Eva Dou. 2013. Mass Production of Orchids in Taiwan. The Wall Street Journal Oct. 17.

Kelly Her. 2005. Blooming Orchids. http://taiwantoday.tw.

Ming-Tsung Liu. 2015. The Plant Variety and Plant Seed Act Application in Taiwan and Current Status of International Cooperation. COA Taiwan.  

Pan-Chi Liou. 2005. Marching Toward the Market – The Business Potential for Agricultural Biotechnology in Taiwan. http://www.fftc.agnet.org.

Yue-ie C. Hsing. 2011. Flowering Research in Taiwan. http://pcp.oxfordjournals.org/content.

           

]]>
Ir. Elvina Herdiani, MP Tue, 26 Jan 2016 22:29:36 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/967-taiwan-produsen-anggrek-kelas-dunia
Tips Membuat Kecap Air Kelapa http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/964-tips-membuat-kecap-air-kelapa bbppl-kecap1Air kelapa selain dapat diminum segar, juga dapat diolah sebagai bahan baku industri untuk menghasilkan berbagai produk minuman ringan seperti alkohol, sirup, asam cuka, nata de coco, kecap, dan lain-lain. Air kelapa mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi, sehingga dapat dibuat berbagai produk makanan karena mengandung gula 0,56% klorida 0,17%, protein 0,55% dan lemak 0,74%.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam pembuatan kecap air kelapa antara lain adalah peralatan seperti: panci, wajan, saringan, tampah, kompor, sendok/pengaduk kayu, baskom dan botol. Sedangkan bahan yang dipergunakan yaitu: air kelapa 10 liter, 1 kg kedelai, 4 kg gula merah, 25 g garam, 0,25 kg bawang putih, 175 g kemiri, 0,25 lengkuas, 10 lembar daun/5 batang sereh, 0,75 kluwak dan 0,05% natrium benzoat.

bbppl-kecapYang perlu dilakukan dalam membuat kecap air kelapa adalah sebagai berikut: menyiapkan air kelapa kemudian dijernihkan dengan cara air kelapa diendapkan terlebih dahulu dengan baskom kapasitas 10 liter. Pisahkan air kelapa dari kotoran-kotoran yang mengendap lalu ambil /tuangkan air kelapa yang jernih di baskom lain perlahan-lahan. Kemudian masukkan air kelapa ke dalam wajan. Sementara itu tumbuk kemiri dan bawang putih sampai halus dan goreng dengan air kelapa, diaduk jangan sampai gosong dan atur api jangan terlalu besar supaya tidak gosong yang dapat mempengaruhi rasa kecap karena akan menjadi pahit.

Bersihkan kedelai dan cuci bersih dengan air mengalir hingga bersih dan kemudian rendam selama 12 jam. Setelah itu cuci bersih kedelai kemudian rebus selama 30 menit dengan tujuan agar kulit arinya mudah dikelupas, lalu kedelai dicuci dan ditiriskan. Setelah itu tebarkan di atas tampah yang bersih, beri Aspergilus flavus lebih dikenal dengan nama jamur kecap. Jamur ini berwarna hijau pupus dan agak sulit diperoleh di pasaran bebas, atau berilah Rhizipus Oryzae lebih dikenal dengan jamur tempe, jamur ini mudah sekali diperoleh. Kemudian tutuplah dengan tampah dan fermentasikan di tempat yang lembab selama 3 hari. Setelah timbul jamur, jemurlah pada terik matahari hingga kering.

bbppl-kecap3Buatlah larutan garam, untuk 1 liter air diberi garam 300 gram. Agar garam larut benar benar dan waktu pembuatan lebih cepat sebaiknya direbus dan dibiarkan sampai dingin. Rendamlah kedelai yang telah berjamur dalam larutan garam tersebut selama seminggu sampai seluruh kedelai terendam. Jemur pada terik matahari setiap hari dalam keadaan terendam. Setelah proses perendaman dalam air garam selesai, saringlah rendaman kedelai dengan saringan. Cairan hasil saringan ini yang disebut filtrate (calon kecap). Filtrat ini yang ditambahkan dalam pengolahan kecap air kelapa. Masaklah air kelapa yang sudah jernih sampai mendidih, tambahkan kemiri dan bawang putih yang bbppl-kecap2sudah dilembutkan dan digoreng, tambahkan irisan lengkuas, daun salam, daun sereh, kluwak, filtrate, garam, dan gula. Aduklah terus menerus untuk mencegah terjadinya penggosongan dan pengerakan. Kecap air kelapa sudah bisa dianggap masak apabila cairan tersebut dituangkan, tetesannya tidak putus dan kadar gula mencapai antara 65 – 80%, warna cairan coklat tua kehitam-hitaman. Angkatlah dari perapian dan dinginkan serta saringlah dengan mempergunakan saringan. Berilah bahan pengawet yaitu Natrium Benzoat sebanyak 0,02% perliter kecap. Penambahan bahan pengawet dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penjamuran atau perubahan rasa sebelum kecap dimanfaatkan. Hasil saringan ini merupakan kecap manis dengan kadar protein 3%, gula 46,71%, sukrosa 35,3% dan garam 8,66%. Komposisi ini memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Agar kecap dapat dijual atau didistribusikan, maka diperlukan pembotolan dan pengepakan yang tepat. Botol yang akan digunakan harus disterilkan dahulu supaya tidak mengandung bakteri yang dapat merusak kecap selama penyimpanan. Untuk menutup botol dapat dilakukan dengan alat penutup yang disebut bottle panning. Selanjutnya dapat dipak dalam peti kayu untuk dipasarkan. Dari pengolahan air kelapa sebanyak 10 liter diperoleh kecap manis sebanyak 6 liter atau 10 botol ukuran 600 ml. Kecap ini dapat disimpan kurang lebih 6 bulan lamanya.

Selamat mencoba.

Referensi :

Anonimous. 1991. Budidaya dan Pengolahan Hasil Kedelai. Departemen Pertanian

Suwarno. 1985. Kecap Fermentasi dan Pengolahan Bahan. Penebar Swadaya Jakarta.

]]>
Setia Wahyuti, SH, MP Thu, 31 Dec 2015 17:40:33 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/964-tips-membuat-kecap-air-kelapa
Bioremediasi dengan Perlakuan Hayati http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/962-bioremediasi-dengan-perlakuan-hayati bbppl-bioremediasiSeperti udara dan air, tanah merupakan komponen penting dalam kehidupan kita. Tanah berperan penting dalam pertumbuhan hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping); kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial; atau kecelakaan kendaraan yang membawa minyak, bahan kimia atau limbah yang kemudian jatuh ke permukaan tanah; dan berasal dari pestisida dan herbisida: As, Ba, Cd, Cr, Pb, Hg, Ni, Se, Cu dan Zn.

bbppl-bioremediasi2Apabila suatu zat berbahaya/beracun mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu hujan atau air ke dalam tanah. Polusi memasuki tanah akan terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat racun dalam tanah dapat berdampak langsung kepada masyarakat atau dapat mencemari air tanah dan udara di atas.

Upaya pengolahan limbah B3 baik di darat (tanah dan air tanah) ataupun di laut telah banyak dilakukan dengan menggunakan teknik ataupun metoda konvensional dalam mengatasi pencemaran seperti dengan cara membakar (incinerasi), menimbun (landfill), menginjeksikan kembali sludge keformas minyak (slurry fracture injection) dan memadatkan limbah (solidification). Teknologi-teknologi ini dianggap tidak efektif  dari segi biaya (cost effective technology), waktu (time consuming)dan juga keamanan (risk). Guna mencegah dampak lebih parah, lokasi tercemar tersebut dapat dilakukan kegiatan pemulihan kondisinya yang sering dikenal dengan istilah remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diperhatikan:

1. Jenis polutan (organik atau anorganik), terdegradasi tidak, berbahaya atau tidak

2. Berapa banyak zat polutan yang mencemari tanah

3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P)

4. Jenis tanah

5. Kondisi tanah (basah atau kering)

6. Berapa lama telah terendapkan polutan zat di lokasi

7. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan/bisa ditunda).

Ada 2 jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, ventilasi (injection), dan bioremediasi. Kita tak perlu repot menggali tanah dan memindahkannya ke lokasi khusus. Di Amerika Serikat (AS), teknik ini banyak diadopsi sebab biaya penggalian dan pemindahan tanah tergolong mahal (Anonimous, 2006).

Sementara pada remediasi ex-situ, tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam penampungan yang lebih terkontrol. Lalu diberi perlakuan khusus dengan memakai mikroba. Remediasi ex-situ bisa lebih cepat dan mudah dikontrol. Dibanding in-situ, ia mampu meremediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam. Pembersihan off-site yang jauh lebih mahal dan rumit.

Salah satu teknik remediasi yang sekarang sering digunakan adalah bioremediasi, cara ini banyak digunakan memulihkan tanah yang tercemar senyawa hidrokarbon. Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel.

Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat polutan menjadi kurang beracun atau tidak beracun (karbondioksida dan air). Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi, yaitu:

  1. Merangsang aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi kejangkitan) dengan penambahan gizi, kondisi redoks, optimasi dari pH, dsb.
  2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme dari kejangkitan di lokasi, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus.
  3. Penerapan immobilized enzymes.
  4. Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghapus atau mengubah polutan.

Bioremediasi proses harus mempertimbangkan suhu tanah, ketersediaan air, nutrisi (N, P, K), rasio C : N kurang dari 30 : 1, dan ketersediaan oksigen.

Mikroorganisme dalam Bioremediasi

bbppl-bioremediasi3Sejak tahun 1900-an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat, petroluem hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan bioremedisi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya. Salah satu bakteri yang digunakan dalam bioremediasi, Geobacter metallireducens, yang tidak hanya dapat menghancurkan kontaminasi dari minyak bumi seperti benzena, tetapi juga dapat memakan logam-logam radioaktif pada air tanah yang terkontaminasi uranium.

Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan. Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri "pemakan minyak". Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.

bbppl-bioremediasi1Jamur merang atau jamur Shiitakes – adalah jenis jamur yang umum kita kenal sebagai jamur yang dapat dimakan (edible mushroom). Jamur tersebut dan jamur lainnya telah dikembangkan untuk digunakan dalam pemulihan lingkungan tercemar. Teknik ini disebut mikoremediasi (mycoremediation), dengan menggunakan miselium, bagian vegetatif dari jamur, untuk menguraikan polutan.

Jamur pelapuk putih dari spesies Marasmius sp, telah dikembangkan untuk menjadi mikroba pengurai polutan, terutama hidrokarbon minyak bumi. Jamur pelapuk putih ini secara khusus mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menguraikan polutan dengan struktur senyawa aromatik, seperti senyawa-senyawa terklorinasi. Penggunaan jamur ini terus disempurnakan, selain itu juga secara paralel dilakukan eksplorasi jenis jamur lainnya, termasuk mekanisme enzimatik jamur untuk menghasilkan proses penguraian yang lebih efektif. Penggunaan jamur dalam proses bioremediasi mempunyai beberapa keunggulan karena jamur mempunyai kemampuan bertahan lebih tinggi di dalam lingkungan yang toksik. Enzim pengurai polutan disekresikan oleh miselium jamur yang dapat menguraikan polutan dengan konsentrasi dan berat molekul yang tinggi. Miselium jamur dapat menembus tanah dengan porositas rendah misal tanah liat, sehingga polutan yang terjebak di dalamnya dapat terurai. Hal ini dilakukan secara lambat oleh bakteri yang tumbuh dengan mekanisme duplikasi. Tanah yang dihasilkan setelah proses bioremediasi selesai menjadi tanah yang bersih, bertekstur seperti kompos atau sedimen. Produk akhir ini dapat digunakan sebagai tanah pencampur untuk proses bioremediasi tahap selanjutnya, atau landscaping, tanah pengisi, dll.

Penggunaan jamur ini aman, ekonomis, dan operasional dan pemeliharaannya mudah. Tidak ada konstruksi khusus untuk melakukan proses mikoremediasi ini. Teknik bioremediasi yang telah banyak dilakukan akan dengan mudah menggunakan inokulan jamur ini sebagai mikroorganisme pengurainya.

Daftar Pustaka

Budianto H, 2004. Bioremidiasi, www.iec.co.id/bioremediasi1.html - 11k - . Diakses tanggal 12/02/2015

Maxdoni, 2005. Bioremediasi Mencuci Lahan Tercemar dengan Kumanhttp://www.sinarharapan.co.id/berita/0205/22/ipt01.html. Diakses tanggal 14/08/2014

Natalia, 2007. Studi Evaluasi Bioremediasi Tanah tercemar Petroleum Hydrocarbon dengan Land Treatment. digilib.lpmpdki.web.id/gdl php?mod =browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-joicenatal-25667 - 12k –. Diakses tanggal 11/02/2015.

 

]]>
Riyadi Pratiwa, S.Pt, MP Mon, 28 Dec 2015 15:04:00 +0700 http://bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/962-bioremediasi-dengan-perlakuan-hayati